Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #8

Chapter 8 - Amanah

Jumat siang, Bapak menjadi khatib di masjid dekat sekolah. Aku ikut Ibu membantu konsumsi karena panitia kekurangan tangan. Di balik tirai hijau, perempuan-perempuan melipat kotak nasi sambil mendengarkan pengeras suara yang sesekali berdenging. Tema khutbahnya amanah. Suara Bapak berbeda dari suara di ruang makan: lebih lebar, tiap akhir kalimat diberi ruang, beberapa kata dibiarkan menggantung sebelum ayat masuk. “Jabatan itu amanah. Harta itu amanah. Anak juga Amanah…” Suaranya turun, seolah-olah sedang bicara kepada satu orang di saf paling belakang. “Dan setiap amanah akan ditanya: dijaga bagaimana, dipakai untuk apa, dikembalikan dalam keadaan apa.” Bu Hesti yang sedang mengikat plastik sambal mengusap sudut matanya dengan ujung kerudung. “Kalau Pak Darma khutbah tuh... hhh, kena terus,” bisiknya. Ibu menekan sudut kotak nasi yang terlalu penuh. “Makanya jangan dengar setengah-setengah.”

Pengeras suara masjid sesekali mendesis ketika Bapak menaikkan volume pada ujung kalimat. Dari tempatku, tubuhnya tidak terlihat utuh, dalam arti, hanya bayangan kepala dan bahu yang kadang lewat di celah tirai ketika orang bergerak. Anehnya, aku tetap bisa membayangkan persis posisi tangannya. Telunjuk yang terangkat sedikit ketika mengutip ayat. Telapak yang terbuka ketika masuk ke contoh sehari-hari. Suara Bapak punya tata letak sendiri. Ia tahu kapan kata perlu diberi ruang, kapan jamaah harus ditunggu selesai batuk, kapan satu frasa harus diulang supaya menempel. “Amanah itu bukan sekadar sesuatu yang kita punya,” katanya dari pengeras suara. “Amanah itu sesuatu yang suatu hari akan ditanya kembali.” Di sebelahku, Bu Hesti menghela napas dan memasukkan sendok plastik ke kotak nasi. “Kalau beliau khutbah begini, saya suka lupa tadi pagi sempat dimarahin gara-gara daftar hadir.” Ibu menahan tawa. “Itu namanya khutbah berhasil, Bu Hestiii...” Bu Hesti mendengus kecil. “Mmm… Iya, kah? Atau karena memang saya gampang lupa.”

Dulu suara itu membuatku aman. Bapak mengajariku Al-Fatihah dengan sabar, membelikan mukena pertama, menunggu di depan kamar mandi ketika listrik mati. Kalau membangunkanku untuk subuh, telapak tangannya dulu mengusap betis pelan. “Ayo, Ras... kita menghadap kepada yang enggak pernah tidur.” Aku pernah percaya bahwa semua pertanyaan punya tempat yang tenang di dekat Bapak. Saat aku umur sebelas dan takut mati setelah mendengar ceramah tentang kubur, ia duduk di tepi kasur sampai aku mengantuk. “Takut boleh,” katanya waktu itu. “Yang penting hidupnya dipakai baik-baik….” Suara di pengeras masjid siang itu masih suara yang sama. Yang berubah mungkin telingaku.

Aku pernah berumur tujuh tahun dan takut menghafal surah pendek karena satu ayat terus tertukar. Bapak duduk di lantai kamar, punggungnya menempel pada lemari, sementara aku sudah mengusap mata berkali-kali. “Ulang pelan… Jangan takut salah.” Aku salah lagi. Bapak tidak meninggikan suara. Ia mengambil kertas, menulis potongan ayat dengan huruf besar, lalu menandai tempat di mana aku selalu terbalik. “Kalau salah, kita cari jalannya... Allah enggak marah karena kamu belajar.” Setelah aku berhasil, Bapak mengangkat kedua tangannya seperti aku baru memenangkan lomba. Pada malamnya, aku tidur dengan rasa aman yang sangat sederhana: ada kesalahan yang boleh diperbaiki tanpa membuatku menjadi anak buruk. Ingatan itu datang sekarang tanpa izin, tepat ketika suara orang yang sama berbicara tentang amanah kepada satu masjid.

Kotak nasi berpindah dari tangan ke tangan. Bu Hesti menghitung dan menemukan selisih tujuh. Ibu langsung membongkar tumpukan, menuduh anak panitia membawa satu kantong ke depan, lalu menemukan delapan kotak di bawah meja. “Nah kan…! Tuh. Lebih satu.” “Buat marbot,” kata Bu Hesti. “Marbot sudah.” “Bayu aja. Dia berangkat subuh enggak bawa nasi.” Ibu menulis B pada tutupnya dengan spidol, kemudian mengambil satu lagi. “Ini Nisa.” Tangan Ibu berhenti sesaat sebelum menarik kotak ketiga. “Raras juga belum makan dari pagi.” Huruf R ditulis lebih kecil karena spidolnya mulai seret. Bu Hesti mengangkat alis. “Saya?” “Lha? Ibu kan tadi bilang diet.” “Diet saya berlaku… kalau kotaknya kurang.” Mereka tertawa kecil, lalu mulai menambah telur untuk imam, kepala desa, dan dua tamu yang menurut Ibu harus mendapat lauk lebih. Ketika sampai bagian guru honorer, ia membuka beberapa kotak satu-satu. “Yang ini nasinya kurang. Tambahin. Karena, mereka habis Jumatan lanjut rapat.” Tidak ada teori di tangannya. Namun, terjadi itu hanya sendok, jumlah kotak, dan ingatan tentang siapa yang mungkin belum makan.

Di ujung meja, seorang ibu panitia bernama Bu Sulastri sibuk memisahkan kotak untuk tamu dan guru. “Yang pakai telur dua ini kepala desa sama Pak Kiai, ya?” Ibu mengangguk. Bu Hesti melihat daftar, lalu menyelipkan satu kotak ke tumpukan lain. “Pak Kiai diabetes. Telurnya satu aja, Bu.” “Lho, terus telur satunya??” “Saya makan.” Bu Hesti berkata datar. Ibu menepuk tangannya dengan spidol. “Hushh.” Kami tertawa kecil, dan beberapa detik khutbah di depan menjadi suara latar bagi pekerjaan yang terus bergerak: karet gelang putus, nasi terlalu penuh, satu tutup sobek, tangan Ibu mencari sambal tanpa melihat. Ketika nama Bayu, Nisa, dan akhirnya aku ditulis di tiga kotak sisa, tidak ada rapat keluarga untuk menentukan siapa mendapat apa. Ibu cuma menghitung siapa belum makan. Dalam pekerjaan seperti itu, kasih sayang selalu bergerak lebih cepat daripada penjelasan.

Seusai salat, seorang ayah murid menghampiri Bapak di dekat teras masjid. Bajunya masih berdebu semen. Pembicaraan mereka pendek. Laki-laki itu menunduk, mengusap wajah, kemudian menangis. Bapak memegang bahunya dan bicara sangat pelan sampai aku tidak mendengar. Dalam perjalanan pulang, di mobil, aku bertanya dari kursi depan. “Tadi siapa, Pak?” Bapak menyalakan lampu sein. “Orang tuanya Fikri. Mau berhentikan anaknya sekolah… Dia kehilangan pekerjaan selama dua bulan terakhir...” “Terus?” “Bapak bilang anaknya tetap masuk. Biaya belakangan.,,” Ibu dari belakang menyahut, “Kasihan… Anak itu pinter, lho.” Aku melihat kuitansi bensin di dasbor. “Sekolah sedang utang...” Bapak melirikku sebentar sebelum kembali ke jalan. “Anak jangan menanggung kegagalan orang tua...” Kalimatnya begitu bersih sampai tubuhku merespons lebih dulu. “Kalau di rumah??”

Bapak memperlambat mobil karena becak menyeberang. “Apa?” “Kalimat yang tadi. Berlaku di rumah enggak?” Ibu berhenti mengetik di grup panitia. Bapak mengembuskan napas. “Ras... murid itu tanggung jawab sekolah. Kamu keluarga.” “Iya, aku tahu bedanya.” “Nah.” “Aku cuma nanya…” “Pertanyaannya dibuat seolah sama.” Nada Bapak belum tinggi, tetapi ujungnya mengeras. Di lampu merah, seorang anak laki-laki menawarkan tisu di antara kendaraan. Bapak menurunkan kaca, membeli dua bungkus, membayar sepuluh ribu, lalu menolak kembalian. Anak itu berlari ketika lampu berubah hijau. “Anak siapa keluyuran siang begini,” kata Ibu. “Mungkin sekolahnya libur,” jawab Bapak. “Hari Jumat.” Bapak melihat lewat kaca spion. Anak tadi sudah tertutup bus. Aku ingin mengulang pertanyaanku, tetapi mobil masuk ke gang masjid lain dan pengeras suara dari dua arah mulai bertabrakan. Bapak mengecilkan radio. Sampai rumah, dua bungkus tisu tetap di dasbor.

Lihat selengkapnya