Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #9

Chapter 9 - Mesin Cetak

Percetakan rekanan di kota kami memiliki mesin yang lebih tua daripada sebagian gurunya. Namanya Heidelberg, tetapi semua orang memanggilnya Si Mbah. Tubuhnya hijau kusam, cat terkelupas di beberapa sisi, besinya penuh goresan, dan lantai bergetar kalau rol mulai bekerja. Drugudugudugudug, kadang begitu marahnya. Pak Yono sudah mengenalku sejak masa fotokopi Bu Rukmini. Ia menerima flashdisk dari tanganku, melihat label file, lalu mendengus puas. “Wah, hahaha. File kamu pasti rapi.” Bapak yang berdiri di belakangku tersenyum. “Raras dari kecil teliti...” Pak Yono memasukkan flashdisk. “Yang bikin kacau biasanya panitia, hahaha ha. Lima orang kirim lima logo. Dan semuanya pasti bilang itu paling baru, hahahaha.” “Yang ini final… Raras hebat dalam hal ini,” kata Bapak. Pak Yono menatap nama file: BUKU_PENSIUN_FINAL_FIX_7.pdf. Ia mengangkat alis, bibirnya bersiul, seperti dosen yang mengerti saat file skripsi lupa diganti nama. Aku pura-pura tidak lihat.

Si Mbah tidak langsung bekerja ketika tombol ditekan. Otakku selalu menghafal sesuatu yang seharusnya aku tak ingin menghafalnya. Ada dengung rendah, satu hentakan dari bagian belakang, rantai yang bergetar, kemudian rol mulai berputar. Deni, pekerja baru, berdiri terlalu dekat sampai Pak Yono menarik bahunya. “Jangan pacaran sama mesin... Jaga jarak. Cukup kartun aja yang kamu pacarin, hih...” Deni mundur setapak. Pak Yono menunjuk bagian penjepit kertas dengan kain lap. “Ini yang makan jari kalau kamu merasa lebih cepat dari dia.” Aku memasukkan flashdisk ke komputer sebelah dan melihat daftar file panitia. Lima versi logo memang ada. Dua transparansinya rusak. Satu bernama LOGO_FIX_FINAL_BENER.png, satu lagi LOGO_FIX_FINAL_BENER2_YA ALLAH.png terpampang jelas. Aku tertawa pendek. Pak Yono menoleh. “Hahaha, kenapaaa? Hm??” “Enggaaaak… hehe. Tradisi turun temurun, mungkin.” “PFFT- HAHAHAHA…! Makanya saya percaya file kamu, Raras. Namanya juga… terbiasa masih punya harga diri, ya kan…”

Cetak coba pertama keluar dengan wajah-wajah terlalu merah. Font judul di halaman awal bergeser setengah baris. Pak Yono menyobek sedikit tepi kertas, membasahi ujung jari, lalu menggosok warna hitam. Tinta meninggalkan abu-abu di kulitnya. “Uhhh… kertasnya nyedot kebanyakan.” Bapak ingin warna biru sekolah dibuat lebih terang. Pak Yono mengeluarkan dua contoh lama dari laci: biru kalender koperasi dan biru sampul buku yasin. Perdebatan berlangsung lebih lama daripada perubahan warna itu sendiri. “Yang ini biru tua,” kata Bapak. “Ini ungu masuk angin, Pak Darma,” jawab Pak Yono. “Lha? Ungu dari mana??” “Dari mata saya yang masih sehat… hahaha.” Aku membuat empat kotak warna di pinggir proof, menulis persentase tintanya, lalu menyodorkan. Bapak memilih kotak ketiga. Pak Yono menunjuk kotak kedua. “Yang dua lebih enak.” “Yang tiga identitas sekolah!” Pak Yono mendecakkan lidah sambil menyiapkan mesin dengan kotak ketiga. “Kepala sekolah selalu menang di sekolahnya sendiri...” Bapak tertawa, suaranya lebar karena ada tiga pekerja lain di ruangan. “HAHAHA….! Namanya juga konsistensi visi, haaaaaah…”

Proof kedua kami taruh berdampingan di meja lampu. Di bawah cahaya putih, perbedaan yang di layar tampak kecil jadi kelihatan jelas. Aku mengamati wajah guru terlalu magenta, garis rambut pecah, satu foto kelas punya bayangan hijau. Aku menandai dengan pensil. Pak Yono tidak ikut membaca isi; matanya melihat tepi, tinta, register, dan bagaimana hitam duduk di serat kertas. “Yang ini kalau naik mesin dua ratus eksemplar… bakal tambah gelap.” Ia menunjuk foto Bapak muda. “Terangin aja sedikit.” Bapak berdiri di belakang kami, tangan bersilang. “Jangan sampai wajahnya pucat.” “Hadehhh... Kepala Sekolah, ini mesin cetak, bukan skincare,” kata Pak Yono. Bapak tertawa satu kali. “Yang penting jangan bikin orang kelihatan sakit, dehh...” Aku menggeser slider sedikit dan mencetak ulang. Tidak ada satu warna bernama benar. Yang ada beberapa orang dengan mata berbeda, layar berbeda, kertas berbeda, dan keputusan yang akhirnya harus berhenti di satu titik. Aku masih mengamati jenis tintanya, dari mana distribusi negaranya, color spacenya. Sering mengamati ini, mungkin membuatku jadi sering mudah menghafal hal-hal yang tidak seharusnya kuhafal. Berat sekali kepalaku.

Aku mengatur ulang paragraf, memeriksa nomor halaman, lalu memperbaiki caption foto. Bapak mondar-mandir menerima telepon. Di tengah kesibukan, langkahnya lebih ringan. Orang meminta keputusan dan ia memberikannya cepat. “Pakai aula lama.” “Undang Pak Camat, tapi sambutannya jangan panjang.” “Bunga enggak usah mahal, yang penting pantas.” Punggungnya lebih tegak setiap kali panggilan baru masuk. Pada telepon keempat, ia mencari bolpoin padahal satu masih terselip di saku kemeja. Deni menunjuk diam-diam. Bapak tertawa, mengambilnya, lalu lanjut mencatat jumlah kursi di telapak tangan.

Halaman tujuh puluh dua membuat kami berhenti lebih lama. Foto keluarga di depan rumah lama terlalu gelap. Pak Yono menaikkan kecerahan sampai wajah Ibu muncul, tetapi kaus putihku di sisi belakang hampir menyatu dengan dinding. “Segini cukup,” kata Bapak. “Wajah Bapak sama Ibu sudah jelas.” Aku menatap proof. Bayu kecil di depan masih terlihat. Nisa setengah tertutup lengan Ibu. Tubuhku di belakang hanya menyisakan rambut dan garis bahu. “Raras hilang,” kataku. Bapak mendekatkan wajah ke kertas. “Enggak hilang. Itu masih ada.” Pak Yono mengangkat proof ke lampu. “Kalau Raras mau dinaikin, bagian lain ikut pecah. File aslinya memang gelap.” “Ya sudah,” kata Bapak. Mesin menarik lembar berikutnya. Aku tidak meminta diulang. Foto itu masuk ke tumpukan dengan tubuhku hampir menjadi latar.

Setelah Bapak pergi rapat, Bu Hesti datang membawa koreksi daftar guru. Ia menaruh tas kain di kursi dan mengeluarkan kertas yang penuh coretan biru. “Pak Darma lupa tiga nama. Dua sudah pindah. Pak Sumarno meninggal tahun lalu.” Aku ingat Pak Sumarno: guru olahraga yang juga memperbaiki kursi patah, mengecat garis lapangan, dan pernah mengantar Nisa pulang ketika hujan. “Namanya enggak ada sama sekali?” “Ada di foto, enggak ada di kredit.” Bu Hesti mengusap ujung jilbab. “Saya baru ngeh semalam.” Aku membuka file. “Gajinya dulu sempat telat lama, ya?” Bu Hesti menatap layar. “Paling parah empat bulan.” “Dibayar semua?” “Setelah meninggal... sebagian dikasih ke Bu Endang.” Ada jeda kecil sebelum kata sebagian. Aku tidak mengejarnya dulu. Pak Yono memanggil dari mesin, “Kalau mau tambah satu nama masih aman. Jangan tambah satu bab.”

Lihat selengkapnya