Bude Sri menggeser stoples kue nastar. Matanya sudah disetel untuk menginterogasi. “Raras ini lho... umur dua puluh sembilan kok masih betah sendiri di Semarang. Nanti keburu telat, Nduk.” Dari televisi empat belas inci di sudut ruangan, suara sinetron malam meraung tinggi saat seorang tokoh wanita ditampar mertuanya. Aku menunduk, mengusap remah nastar di ujung taplak meja berulang-ulang sampai ujung jariku terasa lengket.
Pembagian kerja tidak pernah ditulis, tetapi semua orang tahu ke mana tubuhnya harus pergi. Laki-laki dewasa paling sering muncul ketika kursi perlu diangkat, galon perlu dipindah, atau rokok habis. Setelah itu mereka kembali ke ruang depan. Perempuan berpindah antara kompor, wastafel, meja buah, anak menangis, dan tamu yang belum mendapat teh. Bayu sempat membantu menyusun kursi, lalu Ibu menyuruhnya membeli es. Nisa menyodorkan pisau kepadaku tanpa melihat. “Mbak, ini potong melon dulu. Tanganku bau bawang.” “Aku tadi disuruh hitung piring.” “Nah, makanya jangan kelihatan kompeten.” Ia menyeringai kecil. Dari dekat kompor, Ibu langsung menyahut, “Nisaaa... jangan ngajarin Mbaknya malas.” “Iyaaa, Bu.” Nisa menatapku dan berbisik, “Tuh.” Aku menahan tawa. Di rumah penuh keluarga, tugas bisa berpindah hanya karena seseorang kebetulan berdiri paling dekat.
Di ruang tamu seorang bocah menabrak baki minuman. Gelas plastik jatuh dua, sirup menyebar sampai bawah kursi. Ibunya langsung memanggil kakak perempuannya yang kira-kira sembilan tahun. “Dek, pegang adikmu. Jangan sampai pecahin apa-apa lagi.” Anak itu yang tadi sedang makan kue meletakkan piring, meraih tangan adiknya, dan wajahnya berubah serius. Adiknya masih berusaha mengambil gelas yang jatuh. “Jangan,” katanya, lebih keras dari sebelumnya. Aku menyodorkan dua kue saat lewat. “Satu buat adik?” tanyanya. “Adikmu tadi udah ambil sendiri.” Ia melihat dua kue itu, lalu memasukkan satu ke saku rok. Aku mengenali gerakan itu: menyimpan jatah yang akhirnya boleh jadi milik sendiri.
Bapak menghela napas. “Ya sudah. Namanya orang belum berkeluarga. Pikiran bisa berubah.” “Bisa,” kataku. “Kalau berubah ya nanti.” Ibu memegang teko dengan dua tangan sekarang. “Raras, Ibu tanya baik-baik. Kamu kenapa? Takut nikah? Takut lahiran?” “Bu...” Aku melihat orang-orang di sekitar kami, lalu kembali ke wajahnya. “Yang hamil nanti badan Raras. Yang jalanin ya Raras. Sekarang jawabannya enggak.” Ibu berkedip beberapa kali. “Ibu salah apa sampai kamu ngomong kayak gini?” “Raras enggak lagi bilang Ibu salah.” “Terus kenapa semua yang biasa buat orang lain jadi masalah buat kamu?” Bapak menurunkan suara. “Sudah. Jangan dibahas di depan orang banyak.” Aku hampir tertawa karena pertanyaannya datang di depan orang banyak. “Raras cuma jawab yang ditanya, Pak.” “Jawab juga ada caranya.”
Di layar masih ada bab Mewariskan Nilai. Kalimat terakhir berbunyi: Nilai keluarga harus diteruskan agar generasi mendatang tidak kehilangan akar. Kursor berada tepat setelah kata harus. Aku tidak langsung menyentuh keyboard. Di ruang depan, Bapak meminta semua orang meneruskan doa penutup. Pakde Joko mulai membaca terlalu cepat, tersendat pada satu ayat, berdeham, lalu mengulang dari awal. Suara ruangan perlahan menyatu. Ibu masih mengatur piring sambil sesekali menyeka mata. Anak sembilan tahun tadi duduk di lantai, adiknya sudah tertidur di pahanya. Setelah doa selesai, aku kembali melihat layar. Kata harus masih di sana. Aku menekan backspace lima kali. Kalimatnya tetap berdiri tanpa kata itu.
Malam sudah larut ketika rumah mulai kosong. Para bude pulang membawa sisa makanan dalam wadah bekas es krim. Bayu akhirnya muncul dengan dua kantong es dan langsung dimarahi karena baru kembali setelah semuanya selesai. “Tadi disuruh ambil es, bukan pindah domisili!” kata Ibu. Bayu mengangkat kantong. “Toko pertama habis.” Ia melihat wajah Ibu yang sembap, lalu aku. Senyumnya hilang. “Ada apa?” “Nanti,” kata Nisa dari belakangnya. Bayu tidak bertanya lagi. Ia mulai mengangkat kursi ke sudut ruangan. Aku memperhatikan ia membawa tiga kursi sekaligus, mungkin karena ingin terlihat sedang bekerja.
Di dapur, Lina menyusui bayinya dengan lampu diredupkan. Satu kakinya menggerakkan kursi pelan. Ibu mencuci panci besar dengan gerakan lebih keras daripada biasanya. Aku membawakan air. “Tadi... makasih,” kataku. Lina menerima gelas. “Aku cuma males nonton orang dikeroyok sambil pegang bayi.” Ia minum setengah. “Aku dulu juga ngomong enggak mau punya anak.” “Terus?” Lina mengangkat bahu. “Ya... hamil.” Jawabannya datar. Ia menjelaskan pil kontrasepsi membuatnya pusing. Ia dan suaminya mau ganti cara, tapi pembicaraan selalu mundur karena kerja, uang, capek, lalu tes dua garis muncul lebih dulu. “Kamu nyesel?” tanyaku. Lina lama melihat wajah bayinya sebelum menjawab. “Aku sayang dia.” Ia membetulkan kain di bahu. “Itu beda pertanyaan.”
Aku menunggu. Lina mengusap punggung bayinya dengan dua jari. “Kadang aku kangen hidup yang belum sempat kejadian. Bukan karena pengin dia hilang. Ya... dua hal itu bisa bareng aja.” Dari bak cuci, Ibu menyahut tanpa menoleh, “Punya anak memang capek. Bahagianya juga banyak. Jangan anaknya denger omongannya kayak gitu.” Lina mengangguk. “Iya, Bude.” Setelah Ibu masuk gudang mengambil sabun, Lina merendahkan suara. “Kalau kamu emang enggak mau, ya urus dari awal. Jangan cuma nunggu orang percaya sama omonganmu.” “Maksudnya?” “Ya hidupmu sendiri. Dokter, kontrasepsi, pasangan kalau nanti ada. Jangan asumsi orang lain bakal otomatis ngerti.” Bayinya bergerak, wajahnya mengerut. Lina langsung berhenti bicara dan menepuk punggung kecil itu. Nasihat selesai karena anaknya bangun, bukan karena ia punya kalimat penutup yang bagus.