Sabtu subuh, pintu depan dibuka pelan pada pukul empat lewat dua belas. Bunyi engselnya berhenti di tengah seolah Ibu baru ingat ada orang tidur. Aku tetap bangun. Sejak acara keluarga semalam, mataku hanya sempat terpejam sebentar dan dibuka lagi oleh suara piring, keran, kaki orang ke kamar mandi, lalu pikiran sendiri. Ketika keluar kamar, Ibu sudah memakai kerudung tipis, jaket lama warna cokelat, dan membawa dua tas belanja besar. Wajahnya masih sembap. “Mau ke mana, Bu?” Ia menoleh, agak kaget. “Hah? Pasar. Telur harus diambil sebelum habis. Tidur lagi sana.” “Aku ikut.” Ibu mengukur wajahku dari rambut sampai sandal. “Kamu belum tidur, kan?” “Sedikit.” “Sedikit itu berapa?” Aku menguap sebelum sempat menjawab. Ibu mendecak pelan. “Ck. Yaudah, ikut kalau mau. Nanti jangan ngeluh capek.”
Udara luar masih dingin sisa malam. Jalan depan rumah cuma diisi dua motor pedagang dan satu mobil bak yang lewat dengan keranjang sayur bertumpuk sampai lebih tinggi dari kabin. Ibu berjalan cepat. Di tangan kirinya ada daftar belanja yang ditulis di belakang amplop acara; tangan kanan memegang tas kain yang bertahun-tahun warnanya tidak jelas lagi apakah dulu hijau atau abu-abu. “Telur dua peti, bawang merah tiga kilo, cabai... cabai lihat harga dulu. Santan enggak usah, kemarin masih ada.” Ia bicara sambil menghitung langkah. Aku mengulurkan tangan untuk mengambil salah satu tas. “Sini.” “Enggak usah.” “Bu.” “Nanti kalau berat baru.” Aku tetap mengambilnya. Ibu melepas setelah dua tarikan pendek yang sebenarnya tidak cukup disebut pertengkaran. “Yaudah. Tapi jangan sampai nyeret tanah.”
Pasar subuh riuh oleh benturan keranjang plastik, bau amis ikan gurami, dan dengung tawar-menawar dari lapak sayur. Di tengah becek air kotor bekas cuci ayam, Ibu berjalan cepat sambil memegangi ujung lenganku. Lututnya linu. Ia mengaduh pelan beberapa kali, namun langkahnya tetap dipaksa bergegas membelah keramaian untuk berburu diskon ayam potong.
Di kios bumbu, Bu Lastri menarik satu plastik cabai dari bawah meja. “Yang ini lebih bagus. Bayarnya habis acara aja kalau belum sempat.” Ibu menolak dua kali. “Enggak, Las. Nanti numpuk.” “Lah kemarin kamu bantu saya waktu suami opname.” “Itu beda.” “Bedanya apaan? Sama-sama orang hidup butuh ditolong.” Akhirnya plastik cabai masuk tas kami. Bu Lastri pergi mengambil bawang dari bagian belakang sambil mengeluh soal harga obat ginjal suaminya yang naik lagi. Ibu berdiri menunggu, lalu berkata kepadaku tanpa menoleh, “Dia yang pinjemin uang waktu kamu lahir.” Aku memandang punggung Bu Lastri di antara karung bawang. “Sudah lunas?” “Sudah lama.” “Dicatat?” Ibu langsung melirik. “Hhhh... mulai lagi.” “Aku cuma nanya.” “Iya, dicatat. Terus ilang catatannya. Orangnya juga enggak nagih karena sudah selesai.” Ia mengusap hidung. “Hidup enggak semuanya harus kamu masukin tabel, Ras.”
Aku tidak menjawab. Di lorong kain, Ibu yang justru berhenti lebih dulu. Satu gulungan biru gelap dibuka pedagang sampai ujungnya hampir menyentuh lantai. Ibu spontan membungkuk dan mengangkat kain itu supaya tidak kena lumpur. “Nah, sayang kan kalau kotor.” Pedagang menempelkan kain ke bahunya dan menyuruhnya melihat cermin kecil yang menggantung miring pada tiang. Untuk beberapa detik Ibu diam. Kerudung tipisnya kusut, jaket cokelatnya tidak dikancingkan, dan kain biru itu membuat kulitnya terlihat lebih terang. “Tua enggak?” tanyanya. “Enggak.” “Semua anak ngomong enggak kalau disuruh cepat.” Pedagang ikut tertawa. “Bagus kok, Bu. Buat kebaya?” Ibu menggeleng cepat. “Lihat aja.” Harga disebut. Bibir Ibu bergerak menghitung. Kain dilipat kembali. Ia tetap meminta kartu nama kios dan menyelipkannya ke dompet, di antara resep obat, nota telur, fotokopi KTP, dan kartu kecil servis kipas.
Aku mengeluarkan dompet. “Beli, Bu.” Tangan Ibu langsung menahan pergelanganku. “Apaan sih.” “Ya kainnya.” “Baju Ibu banyak.” “Kebaya kemarin pinjam Bude Sri.” “Lah, terus kenapa? Dipinjamin berarti bisa dipakai.” Aku mencoba menarik uang. Genggamannya mengencang. “Simpan.” “Aku mau kasih.” “Enggak usah.” “Bu...” Wajah Ibu berubah sedikit. Suaranya turun. “Nanti kamu hitung lagi.” Tanganku berhenti. Pedagang kain pura-pura sibuk merapikan gulungan lain. Aku memasukkan dompet kembali. “Aku enggak lagi menghitung kain.” “Ibu juga enggak mau tiap dikasih apa-apa nanti kepikiran ini masuk daftar yang mana.” Kain biru kembali ke rak. Ibu sudah berjalan ke kios berikutnya sebelum aku menemukan jawaban yang tidak terdengar seperti pembelaan.
Dalam perjalanan pulang, kami membawa satu tas besar berdua. Pegangan kain memotong jari. Langkah kami tidak sama, jadi tas itu berkali-kali membentur lutut. Setelah beberapa ratus meter aku bertanya, “Bu, dulu pengin jadi apa?” “Hah?” “Sebelum nikah. Ibu pengin jadi apa?” Ibu menoleh seperti aku baru bertanya nomor rekening orang. “Memangnya kenapa?” “Ya pengin tahu.” Kami terus berjalan. Suara kantong telur beradu dari tas lain. Lama sekali sebelum ia menjawab, “Bidan.” Aku sampai berhenti. Tas belanja tertarik ke depan dan Ibu ikut berhenti karena pegangan masih kami bagi. “Serius?” “Ya serius. Kenapa?” “Enggak pernah cerita.” “Cerita buat apa? Sudah lewat.” Ia mengambil pegangan tas lebih tinggi. “Ibu dulu pintar IPA. Nilai lumayan. Ada saudara yang kerja di puskesmas, katanya bisa bantu cari sekolah. Ya... uangnya enggak ada. Habis itu kenal Bapak. Nikah.”
Aku berjalan lagi. “Ibu nyesel?” Pegangan Ibu bergeser di tali. “Nah. Pertanyaan kayak gitu tuh bikin orang susah jawab.” “Kenapa?” “Kalau Ibu bilang iya, kamu nanti mikirnya ke mana-mana. Kalau bilang enggak... ya, ada bohongnya sedikit.” Ia menghindari genangan, menarik tas terlalu cepat sampai lututku kena sudut peti telur. “Aduh, pelan, Bu.” “Makanya lihat jalan.” Setelah beberapa langkah ia menambahkan, “Ibu sayang hidup yang sekarang. Kadang ya kepikiran juga. Sudah, gitu aja.” Di depan warung plastik, kepalanya langsung menoleh. “Eh, besok ingetin beli plastik ukuran dua kilo.”
Sesampainya di rumah, telur disimpan, bawang ditumpahkan ke tampah, dan percakapan soal bidan hilang seperti memang tidak pernah ada. Ibu duduk di meja dapur mengiris bawang. Pisau bergerak cepat, ujungnya tidak pernah terangkat penuh dari talenan. Aku duduk di seberangnya. “Bu, aku mau ngomong soal buku kas.” Pisau berhenti sepersekian detik, lalu lanjut lagi. “Yang mana?” “Catatan lama.” “Ohh... yang kamu bongkar-bongkar itu.” “Kenapa biaya aku dari kecil dihitung semua?” Kali ini pisau berhenti benar-benar. Ibu mendorong irisan bawang ke satu sisi dengan bidang pisau. “Supaya tahu pengeluaran.” “Uang yang aku kirim lima tahun terakhir selalu ditulis bantuan Raras.” “Terus mau ditulis apa?” “Uang rumah. Penghasilan keluarga. Apa kek yang ngakuin rumah ini juga hidup dari kerja aku.”