Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #12

Chapter 12 - Bahasa Bapak

Bapak punya beberapa jenis diam. Ada diam untuk orang penting: kepala sedikit miring, badan condong ke depan, mata penuh perhatian meski ponselnya bergetar di saku. Ada diam untuk murid yang sedang berbohong: lurus, lama, sengaja membuat anak itu mengisi ruang kosong dengan pengakuannya sendiri. Ada diam di meja makan yang membuat satu orang hilang tanpa perlu disuruh pergi. Sabtu sore, ketika aku meminta laporan keuangan sekolah, aku mendapat jenis yang belum kukenal. Bapak berdiri dekat jendela ruang kerjanya dengan map merah di tangan. Ia membaca wajahku dulu, baru map. “Kamu pikir Bapak menyelewengkan uang?” “Hah? Aku minta data, Pak.” Matanya tidak bergeser. “Kecurigaan enggak harus diucapkan supaya terasa.” Aku menahan map dengan dua tangan. “Formulir penjamin juga terasa meski belum kutandatangani.”

Rahangnya bergerak. Di dinding belakang meja, piala-piala menangkap cahaya sore dan memantulkannya ke kaca foto. “Kamu belajar ngomong begitu dari siapa?” tanyanya. “Kerjaan.” “Kerjaan ngajarin anak bicara sama orang tua kayak auditor?” “Kerjaan ngajarin aku baca berkas sebelum namaku dipakai.” Bapak mengembuskan napas melalui hidung. “Yaaa... sekarang semuanya harus dibaca dari kalimat paling buruk, ya?” Aku tidak menjawab. Ia menaruh map merah di meja lebih pelan daripada yang kukira.

“Waktu Bapak seusiamu,” katanya, “Bapak tidur di musala terminal. Jual rokok ketengan. Sekolah kalau ada ongkos, jalan kaki kalau enggak. Mbahmu enggak pernah dudukin Bapak terus bilang, ‘Nak, kamu bersedia enggak bantu keluarga?’ Ya enggak ada begitu-begitu, Ras. Hidup datang ya dijalani.” Nada itu sudah kukenal: nada yang membuat pengalaman berubah menjadi pelajaran sebelum orang lain sempat menyentuhnya. “Aku tahu hidup Bapak susah.” “Kamu lahir rumah sudah ada. Sekolah dekat. Makan enggak pernah putus.” “He-em.” “Terus sekarang kamu ngomong kayak keluarga ini sistem yang sedang kamu audit.” “Karena namaku masuk berkas pinjaman, Pak. Aku perlu tahu sistemnya.”

Bapak menggunakan intonasi teacher cadence miliknya yang paling anggun, suara rendah berwibawa yang biasa membuat dua ratus murid mendadak diam di lapangan upacara. Ia membicarakan "keberlanjutan misi pendidikan" dan "pengorbanan suci". Namun retorika agungnya mendadak terpotong oleh nada dering ponselnya sendiri yang memutar instrumen Nokia jadul. Keheningan di ruang tamu itu pecah. Bapak berdeham pelan, mematikan telepon, lalu lekas menyusun tenggorokannya lagi untuk melanjutkan kalimat.

Bapak menarik beberapa kertas kembali, lalu membungkuk membuka laci bawah. Dari sana keluar buku besar bersampul hitam yang ujungnya sudah terkelupas. Ketika diletakkan di meja, debu tipis ikut jatuh. Halaman pertama bertahun 1987. Kertasnya berbau lembap dan sedikit manis seperti gudang tua. Di halaman kedua ada lingkaran gelas. Tinta hitam, biru, merah, dan pensil memenuhi kolom yang tidak selalu lurus. “Kalau kamu mau lihat sekolah dari angka, lihat dari awal,” katanya. Aku mendekat. Tulisan Bapak tegak. Tulisan Pak Hadi miring ke kanan. Satu tulisan lain memenuhi ruang kosong sampai tepi. “Ini siapa?” “Pak Ruslan. Sekarang di Lampung. Dulu pegang belanja.”

Satu baris mencatat pembelian kapur yang dibatalkan karena uang dipakai membawa murid ke puskesmas. Di baris lain, sumbangan sepuluh sak semen diberi tanda tanya. Ada tiga nama wali murid dengan catatan belum mampu, lalu di halaman berikutnya nama yang sama memberi dua hari tenaga untuk mengecat. “Yang ini utang makan tukang?” tanyaku. “He-em.” “Lunas?” “Pasti.” “Dicatat di mana?” Bapak mengulurkan tangan, membalik dua halaman, lima, lalu kembali satu. “Sebentar...” Ia mencari nama warung. Tidak ada. “Warung Bu Salamah. Sudah meninggal orangnya.” “Berarti catatan lunasnya enggak ada.” Bapak menatapku. “Ras, tiga puluh sembilan tahun lalu orang belum mikir semua harus punya bukti foto.” “Aku cuma bilang catatannya enggak ada.” “Nah, nada kamu tuh.”

Aku memotret halaman itu. Bapak mendecak, tetapi mataku sudah pindah ke baris lain. Motor pertamanya dijual untuk menutup kekurangan tanah. Gelang Ibu masuk di bawahnya. Pak Hadi menggadaikan sebagian sawah. Seorang wali murid menyumbang pintu. Ada cap jempol di samping tulisan setuju pembangunan ruang baru. “Semua orang menanggung,” kata Bapak. “Makanya sekolah ini ada. Sekarang kamu menikmati hasilnya terus bilang mau berdiri di luar?”

Aku menunjuk catatan motor. “Yang memutuskan motor dijual?” “Bapak sama Ibu.” “Gelang?” “Ibu.” “Dataku?” Telunjuk Bapak mulai mengetuk meja. “Hhhh... ya ampun, Ras.” “Bantuan beda dengan data yang dimasukkan duluan. Formulir koperasi sudah memperlakukannya kayak kontrak.”

Dari lapangan terdengar murid membaca Pancasila. Beberapa anak terlambat setengah ketukan pada kata keadilan. Bapak berdiri dan menunjuk melalui jendela. “Lihat Fikri itu. Tasnya plastik. Ibunya buruh cuci. Kalau sekolah tutup, dia pindah ke mana?” Aku melihat anak kurus di barisan belakang. “Fikri perlu sekolah.” “Nah.” “Dataku tetap perlu izin.” Bapak menutup jendela sedikit lebih keras daripada perlu. “Kamu selalu bisa bikin dua hal yang nyambung jadi terpisah.” “Karena memang dua hal, Pak.”

Lihat selengkapnya