Kotak di bawah meja belajar tidak pernah benar-benar ditutup rapat. Salah satu sudut kartonnya sudah lembek karena pernah kena air waktu atap bocor. Minggu sore, aku menariknya keluar dan debu langsung naik ke hidung. “Hahh... hts!” Bersin pertama membuat pintu kamar terbuka sedikit. Nisa lewat membawa handuk, melihatku duduk di lantai dengan tumpukan kertas, lalu berhenti. “Mbak ngapain?” “Cari satu cerita lama.” “Yang serem?” Aku menoleh. “Kamu tahu yang mana?” Nisa mengangkat bahu. “Ya... kalau cerita Mbak zaman dulu, kebanyakan serem.” Ia melanjutkan ke kamar mandi sebelum aku sempat protes.
Dari jendela kamar yang terbuka sedikit, radio dari warung kelontong Mbak Yuni memutar lagu pop lawas mendayu-dayu. Vokalisnya berteriak nyaring dari speaker pecah. Di atas meja kasur, tanganku masih menggantung di atas keyboard, bimbang apakah aku sungguh-sungguh harus mengetik kalimat penolakan ini ke dalam draf surat yayasan.
Ada juga amplop cokelat dari SMP dengan tulisan KARYA SISWA. Isinya fotokopi puisi, laporan kunjungan museum, dan satu cerita yang bahkan lebih buruk daripada cerita sumur. Di salah satu halaman, guru memberi komentar jangan takut aneh. Di bawahnya ada tulisan Bapak dengan pulpen berbeda: aneh boleh, asal berguna. Dua kalimat itu berdiri berdekatan selama delapan belas tahun tanpa pernah berdebat. Aku mengusap bekas staples pada sudut kertas, lalu menaruh halaman itu di tumpukan terpisah. Aku belum ingin mengembalikannya ke kotak.
Isi kotak keluar satu-satu: rapor lama, brosur universitas yang tidak pernah kudatangi, sertifikat lomba menulis, kuitansi rumah sakit, kartu peserta ujian, foto Bayu dengan dua gigi depan ompong, foto Nisa memakai topi ulang tahun miring, dan tiket bus ke Semarang yang tintanya hampir hilang. Setiap benda punya tanggal, kecuali benda yang justru paling lama kusimpan. Cerita tentang perempuan dalam sumur berada di paling bawah, terlipat bersama map plastik bening yang sudah menguning. Kertasnya tiga halaman. Nilai sembilan puluh ditulis guru Bahasa Indonesia memakai tinta merah, lalu komentar kecil di pojok: imajinasi kuat, kalimat perlu dirapikan.
Aku membacanya dari awal. Perempuan dalam cerita terus jatuh melewati akar, tulang hewan, pipa air, dan batu panas. Pada halaman kedua ia bertemu ikan tanpa mata. Ikan itu bertanya arah atas; perempuan tersebut menunjuk tempat yang salah karena sudah lupa. Kata gelap muncul sebelas kali. Dua digarisbawahi guru. Satu diberi tanda tanya. Aku mencoba membaca keras-keras. “Di bawah sana gelapnya seperti...” Aku berhenti dan menutup wajah. “Ya Allah.” Perumpamaannya berbunyi: batu menangis seperti janda yang ditinggal kereta terakhir. Aku tertawa sendirian sampai dada sakit. Aku bahkan tidak tahu dari mana anak sebelas tahun mendapat gambaran janda, kereta terakhir, dan batu yang punya masalah rumah tangga.
Di belakang halaman ketiga, tulisan Ibu menembus dari sisi lain: minyak 2 liter, gula 1 kg, gas, utang Bu Yati 75. Kata gas tepat di belakang kalimat ketika perempuan dalam sumur berhenti berteriak. Pada kalimat terakhir, ia hanya mendengarkan gema suaranya sendiri untuk memastikan masih ada. Aku membaca bagian itu dua kali. Sumur tetap sumur; perempuan itu dibiarkan mendengar gemanya sendiri. Anak sebelas tahun rupanya lebih percaya pada lubang gelap daripada aku yang sekarang.
Ibu muncul di pintu membawa tumpukan pakaian kering. “Aduh... itu kok dikeluarin semua? Nanti alergi debu.” Matanya langsung tertarik pada belakang halaman cerita. “Oh, ini catatan zaman minyak masih segitu.” “Ibu ingat?” “Enggak. Harganya aja kelihatan zaman purba.” Ia menaruh pakaian di kasur dan mengambil lembar ketiga. “Ini tulisan kamu?” “He-em.” “Kecil banget.” “Cerita sumur.” “Sumur apa?” Aku menatapnya. “Ibu enggak pernah baca?” “Kayaknya enggak.” “Bapak baca.” “Ya Bapak kan guru.” Ia mengembalikan kertas. “Ibu waktu itu mungkin lagi jualan.” Wajahnya tetap datar, seperti baru menyebut harga gula. Lalu matanya jatuh ke satu buku biru tua yang terselip di bawah map.
Aku menariknya lebih cepat daripada tangannya. Debu menempel pada sampul. “Nah.” Ibu mengernyit. “Buku kas lama?” “Ini buku yang aku beli waktu pertama kerja.” “Ohhh...” Ia mengambil setelah aku memberikannya. Separuh halaman depan dipenuhi tulisan tangannya: harga mi, telur, es plastik, nama murid, utang kecil. “Iya, iya... dulu kosong. Sayang kalau enggak dipakai.” Aku tertawa satu kali karena ternyata kalimat itu masih sama setelah bertahun-tahun. “Aku mau nulis di situ, Bu.” Ibu membalik halaman. “Kenapa enggak bilang?” Aku menatapnya. Ia menatapku balik. “Apa?” “Aku bilang.” Wajahnya berubah sedikit, mencoba mencari ingatan. “Serius?” “He-em.” “Ibu lupa.” Ia melihat halaman kosong di bagian belakang. “Yaudah, masih banyak tuh. Pakai sekarang.”
“Bu, masalahnya bukan kertasnya masih sisa.” Ibu mengangkat alis. “Hm?” Aku hampir menjelaskan, lalu melihat tangannya masih memegang pakaian yang belum dilipat dan matanya sudah pindah ke jam dinding. “Sudah.” Ibu mendecak. “Nah, kamu kalau ngomong setengah-setengah terus nanti bilang Ibu enggak dengar.” Aku tertawa kecil. “Iya deh.”
Ibu hendak pergi, lalu mengambil cerita sumur sekali lagi. “Ini belakangnya bisa dipakai nulis belanja karena kamu enggak marah waktu itu?” “Aku enggak tahu Ibu pakai.” “Oh.” Ia mengembalikannya pelan. “Ya... kalau tahu mungkin Ibu cari kertas lain.” Kalimat itu kecil dan tidak dilanjutkan. Sebelum keluar, ia menunjuk tumpukan. “Kalau nemu daftar tamu yang ada tulisan Pakde Joko dua kali, kasih Ibu. Kemarin ada yang dobel.”
Setelah Ibu keluar, aku membalik buku biru sampai halaman paling depan. Catatan kas pertamanya dimulai tanpa tanggal. Baris pertama mi instan, lalu telur, lalu nama dua anak. Beberapa halaman kemudian ada bekas minyak membentuk lingkaran, satu halaman sobek untuk sesuatu yang tidak kuingat, dan tulisan Bayu kecil-kecil di margin: Mbak pinjam 500. Aku tertawa ketika menemukannya. Lima ratus rupiah itu mungkin utang paling kecil yang pernah dicatat keluarga. Di halaman berikutnya, Nisa pernah menggambar rumah dengan dua matahari. Salah satu matahari dicoret Ibu karena menutupi angka penjualan. Buku itu pelan-pelan menjadi milik semua kebutuhan yang datang lebih dulu.
Aku mencoba mengingat malam ketika kubeli. Plastik bening. Bau toko alat tulis. Perasaan aneh punya benda yang belum ditentukan gunanya. Yang paling kuingat justru saat Ibu bertanya, mau dipakai apa? dan aku tidak punya jawaban yang cukup masuk akal. Kini, hampir tiga belas tahun kemudian, pertanyaannya masih sama. Bedanya aku mulai mengerti bahwa belum tahu juga jawaban. Aku mengusap punggung buku dengan telapak tangan. Debunya sudah hilang, meninggalkan warna biru yang lebih gelap di bagian yang dulu tertutup kotak.
Aku menunggu sampai suara langkahnya hilang, lalu membuka buku biru pada halaman kosong pertama. Kertasnya masih lebih tebal daripada buku tulis sekolah. Sedikit menguning di tepi. Pena menyentuh kertas lama sekali. Aku sempat tergoda membuat judul, tanggal, nomor halaman. Tidak jadi. Kutulis satu kalimat yang paling bodoh sekaligus paling sulit.