Senin, pukul dua lewat empat puluh tujuh, retak pada plafon bercabang tiga: satu menuju sudut lemari, satu berhenti tepat di atas kipas, satu lagi tipis dan baru terlihat kalau lampu meja dinyalakan. Aku sudah memandanginya terlalu lama. Kipas tidak berputar. Udara kamar terlalu pengap untuk tidur, tapi terlalu dingin setiap kali jendela kubuka. Aku berbaring telentang sambil mengulang percakapan yang seharusnya sudah selesai. Kalimat untuk Ibu. Angka-angka sekolah. Kain biru di pasar. Surat politeknik. Pintu miring gambar Nisa. Satu kata dari Bapak berubah bentuk setiap kali kuulang di kepala.
Jalan raya masih hidup jauh di luar kampung. Truk lewat dan membuat kaca jendela bergetar pendek. Satu motor melintas cepat. Klakson panjang terdengar entah untuk siapa. Aku membayangkan aspal, lampu kuning, warung tutup, sopir yang minum kopi di gelas plastik, orang-orang yang sedang menuju tempat yang tidak tahu namaku. Pikiran paling gelap malam itu datang tanpa kalimat lengkap. Lebih seperti keinginan supaya semua tuntutan berhenti sebentar. Supaya tidak ada yang membutuhkan jawaban. Supaya tubuhku boleh tidak menjadi fungsi apa pun selama beberapa menit.
Aku duduk. Napas pendek. Leher terasa sempit meski tidak ada yang menyentuh. Jari kutempelkan ke pergelangan tangan dan mulai menghitung. Delapan puluh sembilan. Sembilan puluh... aku kehilangan hitungan. Mulai lagi. Angkanya justru membuat dada makin cepat. “Udah,” kataku sendiri, suaranya kecil dan serak. Aku menurunkan tangan. Kaki menyentuh lantai. Dingin ubin membuat sedikit bagian tubuh terasa nyata.
Buku biru terbuka di meja. Aku meraih pena dan menulis tanpa mencoba bagus:
Pukul 03.08. Aku masih di sini.
Aku memotret halaman itu lalu membuka chat Mbak Santi. Jempolku berhenti di tombol kirim. Tiga detik. Lima. Sepuluh. Aku kirim juga.
Tidak ada balasan langsung.
Aku berdiri dan melakukan hal-hal kecil yang tidak butuh keputusan besar. Botol air dipindahkan ke meja. Benda-benda yang membuatku tidak nyaman berada terlalu dekat kusimpan ke tempat yang lebih jauh. Kabel yang melingkar di lantai kugulung. Pintu kamar kubuka sedikit. Cahaya lorong masuk sebagai garis kuning tipis. Tidak ada alasan yang ingin kurangkai jadi simbol. Aku cuma ingin ruangan punya lebih sedikit hal yang harus kuperhatikan.
Dari kamar Bayu terdengar dengkur yang putus ketika ia berguling. Kulkas menyala, berhenti, lalu menyala lagi. Seekor cicak membuat bunyi pendek dekat plafon. Aku menulis tanggal lengkap di buku biru, salah menulis bulan, mencoret sampai tinta menebal. Pukul 03.10. Pukul 03.11. Aku hampir menulis setiap menit hanya supaya ada sesuatu yang bergerak lurus.
Ponsel bergetar. Pesan Mbak Santi muncul: Bagus. Tetap di situ sampai pagi. Aku langsung membalas, Masih ada kerjaan acara. Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi. Acara boleh jelek. Lalu satu pesan lagi: Minum air. Aku tertawa pendek. Tidak lucu, tapi tubuhku mengeluarkan bunyi itu juga. Galak. Balasannya cuma: He-em.
Aku mengambil botol, minum empat teguk, lalu mengirim foto sisa air. Mbak Santi membalas stiker jempol. Tidak ada pertanyaan kamu kenapa. Tidak ada jangan mikir aneh-aneh. Ia memegang percakapan pada benda yang bisa disentuh.
Dua menit kemudian chat lain masuk. Yoga menulis, Mbak Santi menyuruh saya memastikan Mbak online. Aku membalas, Kamu tidur. Pesannya datang cepat: Sudah. Ini saya mengigau. Aku mengetik, Ngigau bisa ngetik rapi? Jawabannya: Bakat.
Aku hampir mengirim emoji lalu batal. Yoga mengirim foto layar toko. Dokumen pelanggan terbuka, kursornya diam di tengah halaman, dan di sebelah keyboard ada kopi yang tinggal seperempat. Saya enggak butuh jawaban. Cuma bukti saya masih melek. Aku memandangi foto itu cukup lama. “Bodoh,” gumamku, tapi sudut mulutku bergerak.
Aku membuka jendela. Bau sawah, tanah basah, dan knalpot masuk bersama udara. Jauh di jalan, cahaya kendaraan bergerak di sela rumah. Aku tidak tahu apakah itu bus malam, ambulans, truk bawang, atau orang pulang kerja. Kucing belang melompati selokan, berhenti di bawah lampu, menggaruk telinga, lalu berjalan lagi dengan urusan yang tampak cukup sederhana. Aku berdiri sambil memegang kusen sampai napas terasa lebih panjang.
Pukul 03.24. Jendela dibuka. kutulis, lalu kuhapus. Terlalu seperti laporan. Di bawahnya kuganti dengan: Udara bau knalpot dan sawah. Itu lebih benar.