Saat jemariku membuka rincian berkas proposal pinjaman di laptop sekolah, komputer kuno itu mendadak mengeluarkan nada denting Windows Startup yang melengking ceria. Di layar, teks abu-abu di kolom margin menunjukkan status pekerjaanku telah diubah dari karyawan kontrak percetakan menjadi guru tetap sekolah. Suara musik Windows itu berhenti, menyisakan dengung kipas laptop yang berdebu.
Aku membuka folder. Tiga versi memang ada: proposal_fix, proposal_fix2, dan proposal_final. File final justru dibuat paling awal. Aku hampir tertawa, tapi kepalaku masih berat. Logo pada halaman pertama pecah karena gambar yang dipakai resolusinya kecil. Aku mengganti dengan versi vektor dari folder lama, lalu menelusuri halaman demi halaman untuk memastikan layout tidak bergeser. Di lampiran, ada komentar internal yang belum dihapus. Tulisan abu-abu kecil di margin membuat tanganku berhenti.
Mohon konfirmasi apakah Sdri. Raras bersedia menjadi penerus yayasan serta personal guarantee. Profil penghasilan sudah disesuaikan.
Secara prinsip bersedia. Tinggal formalitas tanda tangan setelah acara.
Aku membaca kata bersedia sekali. Dua kali. Tiga. Mata terasa lebih cepat bangun daripada tubuh.
Tabel profil penjamin ada empat halaman setelahnya. Nama lengkapku. Alamat kantor. Nomor identitas. Status pekerjaan ditulis karyawan tetap, padahal kontrakku diperbarui tiap tahun. Penghasilan bulanan dinaikkan hampir tiga juta dari slip terakhir. Ada kolom hubungan dengan pemohon berisi anak kandung/penerus. Riwayat revisi menunjukkan data itu dimasukkan dua minggu sebelum Ibu menelepon memintaku pulang.
Aku tidak langsung menemui Bapak. File kusimpan sebagai salinan lokal, PDF, lalu satu salinan di penyimpanan awan. Kebiasaan kerja: kalau file bermasalah, simpan versi sebelum disentuh. Baru setelah itu laptop kubawa ke sekolah.
Kantor administrasi ramai oleh persiapan acara. Bu Ratna sedang mengurutkan kuitansi dengan penjepit warna: listrik, bahan bangunan, konsumsi, honor, dan lain-lain. Tumpukan terakhir paling tinggi. Di samping keyboard ada gelas teh dengan gula mengering seperti kerak di dasar. “Mbak Raras, logonya halaman berapa?” tanyanya tanpa melihat. “Sudah aku ganti.” “Alhamdulillah.” “Tapi ada ini.” Aku memutar laptop.
Tangannya masih memegang tetikus. Kursor bergerak kecil ke sudut layar, lalu berhenti. Dari ruang sebelah terdengar mesin stempel ditekan berkali-kali: duk, duk, duk. Bu Ratna membaca komentar internal itu sampai selesai. Pulpen yang terselip di kerudungnya dilepas. “Itu... draf simulasi, Mbak.” “Siapa yang isi profilku?” “Pak Darma kasih garis besar.” “Angka penghasilan?” “Kami sesuaikan supaya skemanya masuk.” Aku mendekat sedikit. “Hah? Disesuaikan gimana?” Bu Ratna menelan. “Ya... koperasi biasanya lihat kemampuan bayar. Jadi dibuat skenario dulu. Nanti verifikasi bisa dikoreksi.” “Status karyawan tetap juga skenario?” “Belum final.” Aku menunjuk balasan Bapak. “Persetujuan prinsip juga belum final?” Bu Ratna menatap layar, lalu pintu. “Pak Darma bilang keluarga sudah bicara.” “Tanpa aku.” “Mbak...” Ia menghela napas. “Sekolah lagi kejar waktu. Saya cuma ngetik dari arahan.” “Siapa yang ambil dataku?” “Dari berkas lama. Fotokopi KTP ada di arsip waktu Mbak bantu administrasi dulu.” Aku menahan napas. “Dipakai untuk ini tanpa tanya?” Bu Ratna bergeser di kursi. “Draf, Mbak. Kan baru draf.”
Kalimat itu pernah kupakai sendiri kepada pelanggan: berkas dulu, isi belakangan. Bedanya dulu nama yang salah bisa diperbaiki sebelum cetak. Sekarang namaku sudah dipakai untuk membuat sesuatu terlihat layak.
Bu Ratna bangkit dan merapikan tumpukan kuitansi yang sebenarnya tidak perlu dirapikan. “Saya tiga puluh tahun bantu sekolah ini. Kalau tutup, banyak keluarga ikut susah.” Suaranya mulai defensif. “Saya enggak ada niat bikin Mbak rugi.” “Aku enggak bilang Ibu niat.” “Terus?” “Aku bilang Ibu mengetik namaku.” Wajahnya mengeras. “Bicarakan sama Pak Darma.” “Bu Ratna.” “Hm?” “Kalau nama anak Ibu dimasukin jadi penjamin tanpa bilang, Ibu bilang apa?” Ia diam terlalu lama. Mesin stempel di sebelah berhenti. “Saya enggak mau jawab itu.” “Yaudah.” Aku menutup laptop. Bu Ratna duduk lagi, memegang tetikus meski layarnya sudah tidak menunjukkan apa yang ia butuhkan. “Mbak...” panggilnya saat aku di pintu. Aku menoleh. “Kalau ini bikin masalah, jangan bilang saya yang...” Ia berhenti sendiri. “Sudah. Enggak apa-apa.” Aku tidak menjanjikan apa pun.