Sabtu sore.
Bapak tidak pulang untuk makan siang. Piringnya tetap ditutup tudung saji sampai kuah sayur bening kehilangan uap, lalu Ibu memindahkannya ke dapur tanpa membuang apa pun. Ponselnya bergetar sekali. Ia membaca pesan sambil berdiri dekat dispenser, kemudian meletakkan layar menghadap meja. “Besok gladi jam sembilan,” katanya. “Kamu diminta bawa presentasi.” Aku mengoles mentega ke roti. Pinggirannya sudah agak keras karena bungkus dibuka sejak pagi. “He-em.” Ibu menunggu jawaban lain. Ketika tidak ada, ia mengambil pisau kecil dan mulai mengupas apel yang tidak ada seorang pun minta. “Bapakmu bilang ada urusan sama koperasi.” Pisau berhenti sepersekian detik pada kulit merah. “Aku telepon mereka.” “Hah?” Kulit apel terputus. “Ngapain telepon sendiri?” “Namaku dipakai sendiri juga.” “Raras...” Ia menaruh apel, memandang ke lorong seolah Bapak mungkin tiba-tiba muncul dari kamar. “Bapakmu malu di sekolah.” Aku menggigit roti. Mentega menempel di langit-langit mulut. “Aku takut, Bu.” Ibu mengembuskan napas panjang. “Sekarang sekolah bagaimana?”
Roti yang belum kutelan tiba-tiba terasa terlalu besar. Panas naik dari lambung sampai tenggorokan, bukan seperti lapar biasa, lebih seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Aku berdiri mencari air. Kursi menyentuh belakang lutut, meja bergerak satu sentimeter, lalu lantai miring ke kiri. “Bu... pusing.” Suara kipas tetap berputar, televisi masih menyiarkan iklan obat masuk angin, tetapi keduanya seperti berada di rumah tetangga. Titik hitam memenuhi sisi pandang. Ketika gambar kembali, punggungku sudah menempel pada lemari piring dan Ibu memegang kedua pipiku. “Raras. Ras. Lihat Ibu. Jangan merem.” Dari kamar, pintu dibuka keras. Bayu muncul tanpa kaus, rambutnya berdiri ke segala arah. “Mbak? Waduh, waduh... duduk dulu.” Ia berjongkok, satu tangan menahan siku. “Mbak, kita ke klinik.” Aku mencoba bilang tidak perlu. Yang keluar hanya “engg—” sebelum mual datang. Aku sempat mencapai kamar mandi. Di depan kloset, yang keluar cuma air, asam, dan potongan roti kecil. Ibu berdiri di balik pintu sambil memegang handuk. “Makanya makan teratur. Aduh, ya Allah... dari dulu kalau kerja lupa semuanya.” Bayu menjawab dari lorong, “Bu, nanti ceramahnya setelah dia bisa berdiri.” “Ibu bukan ceramah!” “Iya, iya. Handuknya sini.”
Aku masih ingin mandi sebelum pergi. Bayu menolak. “Mbak, kita ke klinik, bukan wisuda.” Ia mengambil jaket tipis dari kursi dan menyampirkannya ke bahuku. Ketika aku meraih tas, dia lebih cepat. “Dompet?” “Di laci atas.” “KTP?” “Dompet.” “BPJS?” “Dompet.” “Oke. Nah. Bisa kan hidup tanpa bikin Mbak berdiri?” Nada bercandanya tipis, hampir tidak jadi. Ibu muncul membawa botol air, tiga biskuit, minyak kayu putih, dan plastik hitam entah untuk apa. “Naik motor pelan. Jangan lewat jalan depan pasar, macet.” “Bu, kliniknya sebelah pasar.” “Ya lewat belakang.” Bayu menoleh kepadaku. “Tuh. Bahkan rute juga ada dua versi.” Aku ingin tertawa, tetapi perut bergerak lagi. Ia langsung berhenti senyum. “Eh, jangan. Jangan dipaksa ngomong.”
Manset kain alat pengukur tekanan darah membebat lengan kiriku, memompa udara hingga urat nadiku berdenyut kencang menahan jepitan. Di kursi tunggu klinik yang berbau karbol, Bayu duduk menunduk khusyuk memainkan Mobile Legends di ponselnya. Suara efek senjata virtual dan teriakan "Victory!" merembes tipis dari earphone-nya yang terpasang sebelah. Petugas medis di depanku melepas Velcro dan mencatat angka 140/90 di lembar rekam medis.
Dokter memeriksa gula darah, denyut, refleks, lalu menekan beberapa titik di perut. Saat jarinya menyentuh ulu hati aku spontan menarik napas. “Nah, sakit?” “He-em.” “Sudah lama?” “Naik turun.” “Obat lambung pernah?” “Pernah.” Dokter melihat catatan tekanan darah, lalu menatapku lebih lama. “Tidur dua sampai tiga jam berapa hari?” Aku mencoba menghitung, berhenti di hari ketiga karena minggu ini tidak terasa punya tepi. “Beberapa hari.” “Ada beban pikiran berat?” Aku membuka mulut, tetapi kalimat pertama yang muncul terlalu panjang. Koperasi. Buku pensiun. Rumah. Uang. Formulir. Suara Bapak. Aku akhirnya berkata, “Urusan keluarga.” Dokter mengangguk tanpa meminta detail. “Tubuhnya sudah kasih tanda cukup jelas. Lambungnya iritasi, kurang tidur, makan buruk, dan dari ceritanya ada komponen cemas yang cukup kuat. Saya kasih obat dan surat istirahat dua hari. Kalau nyeri dada berat, sesak menetap, muntah darah, atau sampai benar-benar pingsan, langsung ke IGD.” Ia menulis satu nomor di belakang surat. “Ini layanan konseling puskesmas. Minggu depan telepon kalau malam beratnya datang lagi. Enggak harus cerita sekarang.” Kertas itu kulipat bersama resep. Bayu membaca tanggal pada surat. “Dok, besok ada gladi.” Dokter mengangkat kepala. “Yang sakit siapa?” Bayu terdiam. “Kakak saya.” “Nah.” “Iya... bener juga.”
Di balik tirai hijau pucat, aku berbaring sambil menunggu obat siap. Ranjang sebelah ditempati anak laki-laki yang harus dipasang infus. Ia menendang selimut dan menangis sampai suaranya pecah. Ibunya menahan kedua kakinya sambil mengulang, “Sebentar, Nak. Sebentar aja. Udah, udah, bentar...” Padahal jarum belum masuk. Anak itu menatap wajah ibunya seperti baru tahu kata sebentar bisa berlangsung sangat lama. Bayu duduk di kursi plastik dekat kakiku. Ia mengetuk lutut sendiri beberapa kali, lalu berhenti ketika sadar bunyinya mengganggu. “Mbak.” “Hm?” “Tadi pas jatuh... eh, bukan jatuh sih. Pas nempel lemari itu, gue kira...” Ia menggaruk alis. “Ya, gitu.” “Aku masih di sini.” “He-em.” Diam sebentar. “Jangan ngomong kayak status WhatsApp orang habis kecelakaan deh.” Aku menoleh. Wajahnya serius. “Oke.” “Maaf.” “Enggak apa.”
Sebelum pulang, Bayu membeli bubur dan air mineral di warung depan klinik. Tanganku refleks mencari dompet. Ia menepis pelan. “Aku bayar.” “Uang dari mana?” “Gue punya uang, Mbak.” “Dari gudang?” “Sebagian.” Ia menghindari mata sebentar. “Sama jual akun game.” “Bayu...” “Apaan? Akunnya enggak akan masuk ICU kalau dijual.” Aku hampir bilang itu aset yang ia bangun lama, lalu ingat kalimat yang baru saja kuajarkan kepadanya soal kebutuhan sendiri. “Yaudah.” Bayu menyerahkan bubur. “Nah, gitu. Sesekali transaksi tanpa audit.” Aku membuka tutup plastik. Uapnya membuat perutku mual, tapi dua sendok pertama bisa masuk.
Di parkiran, Pak Yono menelepon soal sampul buku Bapak. Suaranya keluar dari speaker karena tanganku masih memegang bubur. “Ras, biru yang kemarin ini persenannya dua puluh apa dua lima? Saya nemu proof dua.” Aku langsung membuka tas mencari laptop. Bayu menahan resleting. “Mbak.” “Cuma cek file.” “Dokter barusan—” “Cetak harus jalan.” “Ya terus kalau Mbak tumbang di atas mesin, bukunya jadi edisi darah?” “Bayu.” “Serius.” Ia mengambil laptop dari tanganku. “Ajari gue.” “Kamu enggak ngerti file produksinya.” “Makanya ajarin.” “Kalau salah?” “Ya marahin. Tapi dari kasur.”