Minggu.
Panitia perpisahan mendadak kalang kabut setengah mati hanya gara-gara satu kabel proyektor HDMI hilang. Anak-anak OSIS berlarian saling teriak panik mencari kabel yang ternyata tergeletak santai di dalam kardus bertuliskan KABEL PROYEKTOR tepat di depan meja operator. Di tengah kekacauan itu, operator yang gugup malah salah memutar musik. Speaker aula meledakkan lagu pop ceria dengan volume maksimal. Di sudut ruang guru yang gelap, terpisah dari keriuhan panggung, Pak Arif—guru honorer matematika—hanya duduk diam sambil menggenggam erat amplop rujukan operasi anaknya.
Bapak datang memakai batik biru tua, sepatu hitam yang hanya dipakai untuk rapat penting, dan wajah orang yang tidak tidur cukup tetapi sudah memutuskan akan tampak sehat. Begitu masuk aula, empat orang langsung mendekat. “Pak, bunga meja sebelah kanan atau kiri?” “Pak, foto kepala dinas yang ini lama.” “Pak, lagu pembuka setelah doa atau sebelum?” “Pak, kursi alumni jumlahnya kurang tujuh.” Bapak menjawab sambil berjalan. “Bunga jangan nutup pandangan. Foto pakai yang baru. Lagu setelah doa. Kursi belakang pindah tujuh.” Tidak satu pun jawaban perlu diulang. Ketika melewati meja operator, ia hanya berkata, “Slide sambutan jangan terlalu cepat.” Bayu menoleh kepadaku, lalu ke layar. “Ini ke siapa?” Aku menggeser mouse ke tangannya. “Operatornya kamu.” Bayu menelan. “Oh. Iya, Pak!” Bapak sudah tiga langkah menjauh.
Bu Hesti memindahkan dua label nama guru honorer dari baris ketiga ke baris depan. Ketua panitia, Bu Ratna, melihat dan langsung menarik napas. “Bu, depan buat tamu penting.” Bu Hesti tetap menempelkan label. “Mereka ngajar tiap hari.” “Kepala dinas duduk mana?” “Kepala dinas masih dapat kursi.” “Bukan gitu...” “Kalau beliau marah karena guru duduk depan, nanti saya yang minta maaf.” Bu Ratna memegang selotip di udara, kalah bukan karena setuju, tapi karena ada anak OSIS memanggilnya dari pintu. Bu Hesti mengusap label sampai rata, lalu menatapku. “Makan belum?” Aku menunjukkan biskuit. “Itu bahan bangunan, bukan makan.” “Nanti.” “Nah. Kata itu lagi.” Ia pergi sebelum aku sempat membalas.
Di ruang guru, Arif duduk di ujung bangku dengan amplop cokelat di pangkuan. Anak laki-lakinya dijadwalkan masuk rumah sakit sore ini untuk operasi kecil yang terus tertunda karena biaya. Amplop itu dari Bapak. Aku tahu karena nama Arif ditulis dengan tulisan tangan Bapak di sudut kiri. “Pak Darma bilang kalau kurang, kabari,” katanya ketika aku lewat. Suaranya serak seperti orang yang semalaman tidak tidur. “Beliau... ya begitu. Kalau kami susah, paling depan.” Aku melihat amplop, lalu wajah Arif. “Semoga anaknya cepat sehat.” Arif mengangguk cepat. “Amin. Mbak juga katanya sakit?” “Lambung.” “Waduh. Jangan kayak saya, telat makan terus.” Ia tertawa kecil, lalu langsung mengecek ponsel ketika rumah sakit menelepon. Percakapan bergeser ke jam masuk, kamar, dan daftar barang yang harus dibawa. Aku pergi sebelum kisahnya berubah menjadi bukti tentang siapa pun.
Gladi berjalan dengan kekacauan yang lebih jujur daripada rundown. Lagu pembuka salah putar menjadi lagu perpisahan. Penari kehilangan satu selendang dan menggantinya dengan kain meja sampai guru seni datang sambil berteriak, “ITU TAPLAK!” Video profil menampilkan foto bupati lama. Seorang siswa menumpahkan air ke meja tamu, lalu membeku sambil memegang gelas kosong. Ketua panitia sudah membuka mulut untuk memarahinya ketika Bapak mengambil kain dari petugas kebersihan dan berjongkok. “Sudah, lap dulu. Gelasnya pecah enggak?” “Enggak, Pak.” “Ya sudah. Yang penting laptop jangan disiram juga.” Anak itu tertawa gugup. Bapak berdiri dengan lutut yang perlu dua detik lebih lama untuk lurus, kemudian melanjutkan memeriksa posisi podium.
Di sela gladi, alumni mulai datang untuk rekaman testimoni. Panitia sudah menyusun pertanyaan: Apa kenangan paling berkesan bersama Pak Darma? Apa teladan beliau? Apa harapan untuk sekolah? Orang pertama, Rini, sekarang perawat di puskesmas, membawa sebuah surat yang dilipat empat dan disimpan dalam map plastik. Kertasnya menguning, tetapi tulisan tinta biru masih terbaca. Bapak pernah menulis ke sebuah SMA agar Rini tetap diterima meski biaya daftar ulang belum lunas. “Kalau Pak Darma enggak datang ke rumah, saya sudah dinikahkan umur lima belas,” katanya. Bapak membaca surat itu, mengerutkan dahi, lalu tertawa bingung. “Saya nulis ini?” “Lho? Bapak lupa?” “Banyak surat.” “Saya enggak lupa.”
Panitia meminta Rini mengulang cerita di depan kamera. Pengambilan pertama gagal karena mikrofon mati. Pengambilan kedua berhenti ketika tiang lampu nyaris jatuh dan anak OSIS menangkapnya sambil memaki pelan. Pengambilan ketiga, Rini kehilangan urutan yang tadi lancar. “Aduh... tadi ngomongnya enak, kok sekarang jadi kayak ujian, sih.” Wartawan lokal menurunkan ponsel. “Santai aja, Bu. Yang paling diingat apa?” Rini melihat Bapak, lalu melipat surat di tangannya. “Pak Darma datang ke rumah saya naik motor. Marah-marah di teras karena keluarga calon suami sudah datang. Sandalnya beda warna.” Aula meledak tertawa. Bapak langsung, “Eh, enggak mungkin!” “Satu hitam, satu cokelat!” “Mana ada!” “Adaaa, Pak. Saya ingat karena saya nangis sambil lihat kaki Bapak.” Bapak menunjuknya sambil tertawa. “Ini namanya fitnah yang dipelihara dua puluh lima tahun.”
Setelah kamera berhenti, Rini tidak lagi bicara tentang teladan. Ia bertanya apakah buku pensiun bisa ditaruh satu eksemplar di ruang tunggu puskesmas, lalu melepas sepatu dan memijat jari kaki dekat kipas. “Dari pagi berdiri,” katanya. “Pasien BPJS lagi banyak.” Bapak menawarkan kursi lebih empuk. Rini menolak dan meminta air putih saja. Percakapan mereka pindah ke ibu Rini yang sekarang sulit berjalan dan harga obat tekanan darah. Kisah hidupnya tidak berhenti pada momen ketika Bapak menyelamatkannya.