Selasa sore.
Nisa mengajakku ke atap sekolah setelah gladi. Ia tidak bilang mau bicara; hanya berdiri di samping meja operator sambil menggoyangkan gantungan kunci, lalu berkata, “Mbak, naik bentar.” Aku mengira ada masalah dengan tangki air. “Apa?” “Naik aja.” “Nis...” “Lima menit.” Bayu yang sedang menggulung kabel langsung mengangkat kepala. “Gue ikut.” Nisa menatapnya. “Siapa ngajak?” “Kalau rahasia keluarga, secara hukum gue termasuk.” “Hukum mana?” “Hukum anak tengah.” Aku memasukkan obat ke tas. “Udah. Naik.”
Dak beton lantai atas belum selesai. Bata menumpuk dekat dua tangki air hitam. Kain dekorasi dijemur pada tali dan sesekali mengembang seperti layar kapal ketika angin dari sawah datang. Dari sana jalan raya terlihat sebagai garis abu-abu, motor hanya bunyi kecil, truk seperti kotak yang bergerak lambat. Bayu sudah lebih dulu membuka tiga botol teh. “Rapat anak tertindas,” katanya sambil menyodorkan satu kepadaku. Nisa menyikut lengannya. “Lima menit tanpa bercanda.” “Aku bisa empat.” “Ya ampun.” Aku duduk di bata yang sudah dilapisi kardus. Tempat itu pernah kami pakai waktu remaja, ketika Bapak dan Ibu bertengkar soal uang di bawah dan kami bertiga naik membawa mi instan mentah. Bayu waktu itu makan bumbunya langsung dari bungkus sampai batuk. Nisa menangis karena takut rumah dijual. Aku bilang semuanya akan baik-baik saja padahal tidak tahu.
Sebelum ada kertas, kami cuma duduk dan melihat bawah. Dari atap, halaman sekolah yang selama ini terasa besar ternyata muat dalam satu pandangan: panggung, parkiran, kantin, gedung lama, gudang, dan tanah belakang yang sedang dibicarakan untuk dijual. Bayu menunjuk satu pohon mangga dekat batas. “Itu yang dulu kita panjat?” “Kamu yang panjat. Aku disuruh nunggu di bawah,” kataku. Nisa mengernyit. “Aku enggak pernah diajak.” “Kamu masih kecil.” “Alasan klasik.” Bayu tertawa. “Dulu Mbak kalau bawa kita ke mana-mana mukanya kayak satpam.” Aku ingat satu sore ketika Bapak rapat dan Ibu di kantin; Bayu memanjat terlalu tinggi, lalu tidak berani turun. Aku berdiri di bawah hampir satu jam, mengancam akan bilang Ibu, membujuk dengan es, akhirnya meminjam tangga dari penjaga sekolah. Setelah turun, Bayu malah bilang jangan bilang siapa-siapa. Aku menyimpan kejadian itu bertahun-tahun seperti menyimpan nomor darurat. “Kamu memang nyusahin,” kataku. “Iya. Tapi waktu itu Mbak juga puas banget bisa nyelametin gue.” “Enggak.” “Boong.” Nisa tertawa kecil. “Kayaknya iya.” Aku tidak menjawab. Mungkin benar. Kadang dibutuhkan juga bisa terasa seperti kuasa.
Nisa memandang tanah belakang. “Kalau dijual, bagian itu hilang?” “Kemungkinan.” “Sayang.” Bayu mengangkat bahu. “Tapi kalau enggak dijual, mereka cari nama orang lagi.” “Jangan sesederhana itu,” kataku. “Tanah juga punya efek. Gedung kejuruan batal, mungkin kelas dikurangin.” Bayu menoleh. “Gue tahu. Tapi kalau ada tiga pilihan jelek...” Ia menggaruk leher. “Ya jangan nambah satu lagi pakai nama orang diam-diam.” Nisa mengangguk. Angin mengangkat kain di belakang kami, menamparkannya sekali ke tangki.
Bayu membalik kertas formulir lamaran kerja gudang beras yang sudah berlipat di ujungnya. Ia mulai menggambar skema alokasi gaji memakai pulpen merah tebal dari toko bangunan. Wajahnya ditekuk serius, berpose meniru meme Stonks yang sering ia kirim di grup keluarga. Di ujung meja, Nisa merapatkan jaket kelelawarnya dan memperhatikan coretan merah itu sambil sesekali menggaruk lengannya yang digigit nyamuk.
Ia melipat kertas, lalu membuka lagi. “Baik, konsultan keuangan yang tabungannya habis buat klien.” Nisa mendecak. “Masih aja.” “Ini observasi.” Aku menahan tawa. Bayu melihat reaksiku dan langsung melunak. “Ya, maksud gue... gue ngerti.” Ia mengambil pulpen. Rokok dicoret seluruhnya. Lima detik kemudian ditulis lagi dengan angka lebih kecil. Nisa mengintip. “Hebat. Reformasi nasional.” “Kalau gue bohong, nanti sama aja.” “Ya itu benar.” Bayu menatapnya curiga. “Tumben.” “Jangan dibikin momen.”
Nisa mengeluarkan map bening dari tas. Ada formulir beasiswa darurat kampus, surat keringanan pembayaran, dan daftar tiga nomor telepon. “Aku tadi ke bagian kemahasiswaan.” Aku langsung mengambil lembar paling atas. “Syaratnya—” Nisa menahan ujung kertas. “Mbak boleh baca. Jangan telepon siapa-siapa.” Tanganku berhenti. “Aku cuma mau lihat.” “He-em. Lihat.” Ia melepas. Aku membaca: bukti penghasilan orang tua, surat keterangan kondisi ekonomi, transkrip, rekomendasi dosen. “Kamu sudah tanya semua?” “Sudah.” “Yang surat kondisi ekonomi?” “Bisa dari kelurahan.” “Rekomendasi?” “Dosen pembimbing mau.” “Deadline?” “Rabu.” Aku mengangguk. Tidak ada yang perlu kutambahkan.
Nisa mengeluarkan buku tabungan kecil. “Aku juga punya simpanan.” Bayu langsung, “Hah? Sejak kapan?” “Lama.” “Dari mana?” “Jaga Bu Eni kalau anaknya kerja malam. Sama jual catatan kuliah.” Aku menatap nominal terakhir. Tidak besar, tapi cukup untuk beberapa minggu. “Kenapa enggak pernah bilang?” Nisa menarik buku itu kembali. “Kalau kubilang jumlahnya, Mbak bakal hitung kekurangan semester, terus diam-diam nambah.” Aku membuka mulut. Tidak ada bantahan yang jujur. Bayu mengeluarkan suara pendek. “Kena.” “Diam.” “Aku juga kena kok.” Nisa memasukkan buku tabungan ke map. “Makanya sekarang bilang.”
Angin mengangkat kain dekorasi. Ujungnya menampar tangki air: plak... plak... plak. Bayu menahan kain dengan satu bata. “Jadi kita bikin aturan?” tanyanya. Nisa mengangkat bahu. “Bukan aturan. Biar jelas aja.” “Sama aja.” “Kalau kamu dengar kata aturan, nanti pengin melanggar.” “Fitnah kedua hari ini.” Aku minum teh. Rasanya terlalu manis, tetapi lambung menerima. “Coba ngomong dulu masing-masing mau ngurus apa.” Nisa menunjuk mapnya. “Kuliahku. Beasiswa, keringanan, uang praktik.” Bayu mengangkat kertas. “Kerja. Tes. Motor. Rokok—” “Rokok bukan tanggung jawab keluarga,” kata Nisa. “Makanya gue bayar sendiri.”
“Aku juga mau kalian berhenti lewat Ibu kalau minta sesuatu ke aku,” kataku. Bayu mengernyit. “Maksudnya?” “Kalau butuh uang, ngomong sendiri. Jangan ‘Ibu bilang Bayu butuh ini’ atau ‘Nisa katanya besok harus bayar’. Aku pengin tahu orang yang punya kebutuhan ngomong langsung.” Nisa mengangguk duluan. Bayu berpikir. “Kalau malu?” “Tetap ngomong.” “Kalau ditolak?” “Ya ditolak.” “Kejam.” “Bayu.” “Iya, iya.” Ia menulis minta sendiri di kertas. Hurufnya besar dan miring.
Dari bawah terdengar suara Bapak memanggil panitia. “Bayuuu!” Bayu menunjuk ke bawah. “Nah. Kalau panggil nama lengkap, bahaya. Kalau cuma ‘Yu’, kerjaan.” Nisa menimpali, “Kalau ‘anak-anak’, pidato.” Bayu menoleh kepadaku. “Kalau Raras?” Nisa menjawab sebelum aku, “Semua.” Aku tertawa. Air mata ikut keluar begitu saja. Bukan tangis besar; cuma air yang mendadak memenuhi mata. Bayu refleks menarik ujung kausnya dan menyodorkan. “Nih.” “Jorok.” “Baru dicuci.” “Kamu tadi angkat kabel.” Aku memakai telapak tangan sendiri. Nisa pura-pura memperhatikan sawah sampai aku selesai.