Malam-malam saat Minggu, Listrik padam sebelum acara. Lampu darurat LED menyorotkan cahaya biru yang dingin di tengah meja makan, membuat wajah kami bertiga tampak pucat. Bapak duduk tegak di kursinya. Dari rumah tetangga sebelah yang memakai genset, suara mesin menderu pelan. Suara deru itu masuk lewat ventilasi ruang tamu, mengisi keheningan saat Bapak menatapku lurus-lurus, menyodorkan pena hitam melintasi meja.
“Dari koperasi kasih waktu sampai Senin,” kata Bapak. Tidak ada pembukaan. “Kalau penjamin enggak ada, skema restrukturisasi yang ini batal.” Ibu mengusap telapak tangannya pada daster. “Pakde Joko?” “Enggak bisa. Masih ada pinjaman toko.” “Pak Hadi?” “Rumahnya sudah diagunkan.” Bayu menatap meja. Nisa melihat map, lalu aku. Bapak membuka lembar pertama. Namaku masih tercetak pada kolom penjamin, meski status proses sudah dihentikan dan koreksi data sudah dikirim. “Ini berkas revisi untuk internal. Belum dikirim.” Aku menyandarkan punggung. “Kenapa namaku masih ada?” “Karena kalau kamu berubah pikiran, kita enggak mulai dari nol.”
Lampu darurat berdengung tipis. Dari dapur, kulkas yang mati membuat rumah terasa aneh karena suara latarnya hilang. Ibu menggeser mangkuk bubur ke arahku. “Makan dulu sebelum dingin.” “Nanti.” “Obat jam berapa tadi?” Aku mengerutkan dahi. “Habis magrib.” “Jam berapa?” “Enggak lihat.” “Nah, kan. Kamu kalau udah begini semua lupa.” Bapak menunggu sampai Ibu selesai mengomel tentang obat, lambung, dan dokter yang menurutnya terlalu muda. Untuk hampir satu menit, perkara Rp286 juta, tanah belakang, dan tanda tangan menepi karena satu tablet yang waktunya tidak kuingat. Aku makan dua sendok bubur supaya Ibu berhenti bertanya.
Bapak mendorong formulir satu jari lebih dekat. “Pikirkan sekali lagi. Setelah ini Bapak berhenti meminta.” “Aku sudah memutuskan.” “Dari kapan?” tanya Ibu. “Sejak lihat kontrak dan dataku dipakai.” “Jadi sebelum Bapak jelasin semuanya?” “Setelah aku lihat semuanya.” Bapak mengembuskan napas lewat hidung. “Kamu lihat angka. Bapak lihat orang.” “Aku lihat orang juga.” “Kalau lihat, harusnya tahu sekolah ini bukan perusahaan yang bisa ditutup begitu saja.” “Aku enggak bilang ditutup.” “Kalau restrukturisasi gagal, efeknya ke mana?”
Bayu menggeser kursi. Bunyi kakinya panjang di lantai. Bapak menoleh. Bayu berhenti setengah jalan, lalu menarik kursi kembali ke posisi semula. “Gue cuma... duduknya kejauhan.” “Duduk saja,” kata Bapak. Nisa menahan tawa kecil ketika Bayu tanpa sadar berdiri hendak mengecilkan kipas yang sedang mati. Tangannya sudah menyentuh tombol sebelum ia sadar. “Oh.” Aku tertawa sekali. Ibu memandang kami. “Bisa ketawa pula.” “Refleks, Bu,” kata Bayu. Ketegangan turun satu tingkat, cukup untuk napas masuk lagi.
Bapak membuka tutup pulpen, menutupnya, lalu membuka lagi. “Kita bisa bikin perjanjian internal. Kalau sampai ada masalah, aset dijual dulu.” “Gunakan aset dari awal.” “Bunga skema lain lebih tinggi.” “Risikonya pindah ke namaku.” “Risiko keluarga itu ya ditanggung keluarga.” “Itu kalimatnya, Pak.” “Apa?” “Yang bikin semua selalu otomatis.” Bapak menatapku. “Raras...” Nada suaranya masih rendah, tetapi huruf namaku memanjang sedikit karena ia sedang menahan volume. “Jangan semua dibawa ke teori. Ini keadaan nyata.” Aku menyentuh tepi formulir. “Justru karena nyata, namaku jangan dipakai sebagai konsep keluarga.”
Ibu menyela sebelum Bapak menjawab. “Kamu juga selalu memisahkan diri dari sekolah. Padahal dari kecil makan dari sini, sekolah di sini, teman dari sini.” “Aku punya hidup di luar sekolah, Bu.” “Iya, punya. Siapa yang bilang enggak? Tapi masa waktu rumah perlu kamu malah—” Ia berhenti untuk mengambil napas. “Duh, Raras, Ibu tuh kadang enggak ngerti. Kamu kalau sakit pulang ke siapa? Kalau kerjaan hilang? Kalau kos ada apa-apa? Orang itu tetap butuh keluarga.” “Aku tahu.” “Terus kenapa semuanya kayak mau diputus?” “Aku nolak jadi penjamin. Bukan nolak punya keluarga.” Ibu memandangku seolah dua kalimat itu secara fisik tidak mau menyatu.
Bapak mengetuk formulir dengan ujung pulpen. “Bawa ke kamar. Baca lagi. Jangan tanda tangan sekarang.” “Aku enggak perlu bawa.” “Baca dulu.” “Sudah.” “Baca sekali lagi.” “Pak.” “Apa salahnya baca?” “Karena masalahnya bukan aku kurang baca.” Suaraku naik. Aku sadar ketika Nisa mengangkat mata. Kuturunkan lagi. “Formulir ini tetap kosong.”
Keheningan datang begitu penuh sampai suara tetesan air dari keran dapur terdengar satu per satu. Ibu menutup mulut. Bayu menatap nyala lilin. Nisa memegang tepi meja dengan ibu jari. Bapak duduk lebih tegak. “Kalau sekolah jatuh, kamu siap lihat?” “Aku akan sedih.” “Kamu mampu mencegahnya.” “Ada rencana tanah. Ada pengurangan kelas. Ada renegosiasi pemasok.” “Semua itu membuat sekolah mengecil.” “Mungkin ukurannya memang enggak bisa sama.” Bapak membuka mulut. Aku menambahkan sebelum ia menyela, “Aku enggak bilang itu gampang.”
“Ini yang Bapak maksud,” katanya. Nada gurunya muncul, lebih terukur. “Kamu melihat masalah sebagai tabel. Tanah ini sekian, kelas dipotong sekian, guru dikurangi sekian. Di belakang angka ada orang. Kalau kelas dikurangi, guru honorer kehilangan jam. Kalau gedung batal, anak-anak enggak punya program baru. Kalau tanah dijual murah, puluhan tahun lagi orang akan tanya kenapa dulu kita lepas.” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Bapak yang ditanya.”
Aku mengangguk. “Iya.” Jawaban itu membuatnya berhenti. “Iya apa?” “Bapak yang akan ditanya. Bukan aku yang harus dipakai supaya Bapak enggak ditanya.” Bapak tertawa pendek tanpa humor. “Nah. Keluar lagi kalimatnya.” “Apa?” “Seolah Bapak cuma mikir nama baik.” “Aku enggak bilang cuma.” “Tapi itu yang kamu tanam terus.” Tangannya menutup map. “Kamu pikir Bapak senang minta?”