Jam digital di sudut layar komputer menunjukkan angka 23.12. Mataku terasa perih karena pantulan cahaya, tapi jemariku di atas keyboard terus bergerak cepat. Tanpa ragu, aku memblok baris ke-42 dari catatan pribadiku yang berbunyi 'terima kasih sudah membuat rumah ini tidak pernah aman.' Lalu aku menekan tombol backspace. Kursor itu melahap huruf demi huruf hingga tak bersisa.
Aku membuka dokumen lain. File catatan sekarang sudah lebih dari enam puluh baris. Sebagian ditulis ketika marah, sebagian ketika terlalu lelah untuk menyusun kalimat lengkap, sebagian muncul setelah benda kecil: uang dua ribu, piring ayam kecap, buku biru, sajadah, foto, kabel, kuitansi, pintu kamar. Kubaca pelan, bukan untuk mencari mana yang paling tajam, tetapi mana yang benar-benar masih bisa kukenali sebagai kejadian. Setelah sepuluh baris, aku berhenti pada satu kalimat: terima kasih sudah tidak pernah mencintaiku. Jari sudah berada di tombol delete sebelum aku selesai membacanya. Kalimat itu tidak tahan bertemu bubur yang diletakkan di depan kamar, sepeda yang diajarkan Bapak sampai lututku berdarah, rambut yang pernah disisir Ibu sebelum sekolah, atau malam ketika Bapak menunggu di depan kamar mandi karena aku takut gelap. Aku menghapusnya.
Nisa masuk tanpa mengetuk penuh, hanya menyentuh pintu dua kali lalu menyelipkan kepala. “Masih kerja?” “Yang Bapak sudah selesai.” “Terus?” Aku memiringkan layar sedikit. “Ini.” Ia membaca judul file. “Catatan?” “He-em.” Nisa duduk di lantai, membawa bantal tipis dari kamarnya. “Boleh lihat?” “Belum semua.” “Aku diem.” “Itu bukan jaminan.” “Yaudah, aku diem secara profesional.” Ia menarik resleting mulut imajiner dan benar-benar tidak bicara selama tiga menit.
Baris lain berbunyi: terima kasih sudah membuat rumah ini tidak pernah aman. Aku membacanya dua kali. Ada malam-malam ketika rumah memang membuat napas pendek. Ada juga teras tempat aku tidur waktu listrik mati, dapur dengan mi kuah, kamar yang selalu masih ada ketika pulang dari Semarang. Kata tidak pernah kubuang. Kalimat menjadi: terima kasih sudah membuat rumah ini kadang terasa seperti tempat yang harus kulewati dengan hati-hati. Aku menatapnya. Terlalu menjelaskan. Kuhapus seluruh baris. Nisa yang tadi berjanji diam akhirnya bertanya, “Kenapa?” “Enggak tepat.” “Ini tulisan pribadi.” “Makanya harus tepat.” “Kalau publik malah boleh ngarang?” Aku menoleh. Nisa mengangkat bahu. “Nanya.”
Aku membuat dua folder: MASUK dan POTONGAN. Setiap kalimat harus punya satu kejadian yang bisa kutunjuk, meski tidak selalu dijelaskan di halaman. Baris tentang Ibu dan Bapak yang memakai kata kalian kuperiksa satu-satu. Beberapa memang milik keduanya. Banyak yang tidak. Cara Ibu meminta hidup melalui makanan, tangis, tubuh, harga, dan rasa takut berbeda dari cara Bapak memakai keputusan, tenggat, amanah, nama baik, dan kalimat yang terasa seperti pelajaran. Menggabungkan mereka terlalu sering membuat luka terlihat rapi. Aku memecah beberapa baris, menghapus lainnya.
Nisa memperhatikan kursor. “Yang ayam kecap jangan dihapus.” “Kenapa?” “Enak.” “Itu alasan editorial?” “Sangat.” Aku tertawa pendek. Baris itu kubiarkan. Di bagian lain, aku menemukan kalimat tentang sajadah Bapak persis di bawah baris koperasi. Urutannya membuat hubungan sebab-akibat terlalu mudah: seolah agama hanya alat, seolah takbir yang kulihat sejak kecil tidak pernah berarti apa-apa bagi dirinya. Aku memindahkan baris sajadah beberapa halaman menjauh. Di antaranya kutaruh sepeda, buku sekolah, sandal yang lepas saat ia mengajariku belok, dan satu catatan tentang Bapak yang tidur di lantai ketika aku demam. Nisa membaca perubahan itu. “Jadi Bapak tetap bikin salah, tapi enggak cuma salah.” “He-em.” “Lebih nyebelin, ya.” “Apa?” “Kalau orang jahat doang kan gampang.”
Bayu muncul membawa tiga gelas susu hangat yang warnanya terlalu putih. “Rapat apa?” “Editor junior,” kata Nisa. “Gue?” “Kamu logistik.” Bayu menaruh gelas di meja. Matanya menangkap satu baris besar di layar: terima kasih sudah menaruh adikku di pundakku sebelum aku bisa berdiri. Ia diam. “Itu gue?” tanyanya. “Sebagian.” “Sebagian yang lain Nisa?” “Sebagian keadaan.” Bayu duduk dekat pintu. “Gue boleh minta dihapus?” “Boleh minta.” “Kalau gue minta?” Aku menunggu. Ia mengusap bibir dengan ibu jari. “Jangan hapus.” “Kenapa?” “Enggak tahu. Cuma... gue pengin bisa ngomong kalau baca.” “Bisa.” Bayu mengangguk. “Soalnya gue enggak ingat Mbak kecil ngurus gue. Buat gue Mbak selalu udah gede.” Kalimat itu masuk ke ruangan dan tidak perlu ditambahkan ke buku.
Aku lanjut membaca. Satu baris tentang rahim membuat Nisa mengerutkan dahi. “Yang ini keras.” “Aku tahu.” “Kalau nanti berubah pikiran?” “Yang nanti boleh mutusin Raras yang nanti.” Bayu langsung menoleh. “Nah, ini kalimat orang editor banget.” “Diam.” “Iya.” Nisa masih melihat layar. “Aku enggak bilang hapus. Cuma keras.” “He-em.” Aku menambahkan tanda pada margin, bukan untuk melunakkan, hanya untuk dibaca lagi besok dengan tubuh yang berbeda.
Aku berhenti pada baris tentang air mata Ibu. Versi pertama: terima kasih untuk air mata yang selalu kalian pakai sebagai senjata. Kata selalu sudah lama kucoret. Sekarang kata senjata juga terasa terlalu mudah. Di pasar, aku pernah melihat Ibu menangis karena harga telur naik dan uang kantin kurang. Di dapur ia menangis sambil tetap mengiris bawang. Air matanya kadang menggeser arah percakapan, kadang cuma tubuh yang kehabisan cara lain. Aku mengganti baris itu menjadi: terima kasih untuk air mata yang membuat percakapan berpindah arah. Nisa membaca dari lantai. “Itu lebih... apa ya.” “Apa?” “Lebih nyebelin karena jelas.” “Bagus.”
Baris tentang Bapak juga kuperiksa. Terima kasih sudah menitipkan Tuhan sebagai alat penagih utang. Aku membacanya keras sekali, kemudian pelan. Kata alat terasa seperti benda yang terlalu sengaja. Aku ubah menjadi terima kasih sudah menitipkan Tuhan sebagai penagih. Masih tajam, tapi lebih dekat ke cara kalimat-kalimat amanah pernah menempel pada permintaan keluarga. Di halaman lain ada terima kasih untuk sajadah yang diletakkan dua meter dari percakapan. Yang itu kubiarkan. Jarak dua meter berasal dari ruangan nyata. Aku bisa menunjukkan tempatnya.
Bayu mengintip daftar dari pintu. “Ada gue lagi?” “Banyak.” “Waduh.” Ia mendekat, membaca satu baris tentang motor, lalu menggeleng. “Yang ini enggak masuk?” “Yang mana?” “Terima kasih sudah bikin motor gue jadi proyek keluarga.” “Karena itu kalimat kamu, bukan aku.” “Oh.” Ia tampak sedikit kecewa. “Kalau mau, bikin bukumu sendiri.” “Judulnya Maaf Udah Nyusahin.” Nisa menyahut, “Laris di keluarga.” Bayu tertawa, kemudian melihat baris yang tidak lucu dan berhenti sendiri. Ia tidak meminta semua rasa bersalahnya diubah jadi humor.