Hari pensiun Bapak dimulai dengan spanduk salah eja.
Spanduk raksasa di depan panggung aula utama yang seharusnya bertuliskan EMPAT PULUH TAHUN MENGABDI mengalami kesalahan cetak. Hurufnya dicetak merah tebal menjadi MENGABADI. Dengan inisiatif darurat yang canggung, Bu Hesti menempelkan tiga kuntum bunga melati plastik berlapis selotip bening tepat di atas perut huruf A untuk menutupi cacat tersebut. Aku berdiri di dekat tiang, melihat ujung selotip itu mulai mengelupas terkena panas lampu sorot.
Meja operator berada di sisi kiri aula, diapit tiang kipas dan tumpukan kardus buku. Laptop utama, laptop cadangan, kabel HDMI, adaptor, video profil, presentasi sambutan, daftar urutan acara, dan obat lambung sudah kuletakkan menurut kebutuhan, bukan ukuran. Bayu datang membawa satu gulung kabel sambil berkeringat. “Ini yang cadangan?” “Yang ada selotip hitam, iya.” “Yang satunya?” “Audio.” “Kalau ketuker?” “Kamu dengar bedanya nanti.” Ia menatap dua ujung kabel seperti sedang memilih ular. “Mbak... semua kabel kelihatan punya niat jahat.” “Makanya labelnya dibaca.” “Yaudah, iya.” Ia menaruh HDMI di bawah meja. Lima menit kemudian teknisi bertanya kabel audio ke mana. Aku melihat Bayu. Ia melihat tangannya yang kosong. “Waduh.” Kabel audio ditemukan di ruang konsumsi, berada di bawah dua baki nasi karena tadi ia membawanya sambil membantu memindahkan kardus. “Aku pikir itu cadangan.” “Semua kabel terlihat cadangan kalau enggak tahu gunanya.” “Udah ketemu, kan?” “Setelah orang tiga nyari.” Ia menerima omelan tanpa menyerahkan pencarian berikutnya kepadaku. Itu baru.
Nisa berjaga di pos kesehatan bersama dua mahasiswa praktik. Meja mereka berisi tensimeter, obat dasar, air mineral, kantong muntah, dan satu kotak roti yang sudah dibuka sebelum acara mulai. Saat aku lewat, Nisa mengangkat dagu ke arah mangkuk bubur yang kubawa. “Habis?” “Hampir.” “Hampir tuh berapa?” Aku menunjukkan dasar mangkuk. Tinggal dua sendok. “Habiskan.” “Bu Dokter galak banget.” “Aku mahasiswa.” “Lebih galak.” Ia menyodorkan air. “Obat habis makan, Mbak. Jangan pura-pura lupa gara-gara kabel.” Aku menelan dua sendok terakhir. Nisa mengangguk sekali. Tidak ada tepuk tangan. Ia kembali memeriksa stok plester.
Ibu memakai kebaya hijau tua dan sepatu Bu Yati yang sedikit terlalu sempit. Perias datang terlambat tiga puluh menit, jadi sanggulnya dibuat sambil Ibu tetap memberi instruksi kepada dapur. “Telur tambahan buat kepala dinas udah? Sambalnya dipisah, ya. Jangan yang pedas buat Pak Hadi. Aduh, ini tusuknya sakit...” Perias meminta ia diam. Ibu bertahan tujuh detik sebelum berkata lagi, “Ras, kerahmu tuh...” Ia menarik bagian belakang bajuku supaya rata. “Sudah pakai bedak?” “Sudah cuci muka.” “Kelihatan.” “Bu...” Perias tertawa. Ibu ikut tertawa sambil meringis ketika tusuk sanggul dimasukkan. Di bawah kursinya ada satu sandal rumah; sepatu pinjaman baru akan dipakai ketika foto resmi dimulai.
Bapak mengenakan jas hitam yang terakhir dipakai saat pelantikan. Bayu membantunya memasang pin penghargaan, lalu Nisa datang dari pos kesehatan hanya untuk membetulkan peci yang condong. Mereka bertiga memperdebatkan posisi pin. “Ketinggian,” kata Nisa. “Enggak, ini pas,” kata Bayu. Bapak melihat cermin. “Kalian kalau disuruh masang satu benda kok rapat dulu.” Ia memindahkan pin sendiri dua sentimeter ke bawah. “Nah.” Bayu menatapku. “Demokrasi keluarga.” Aku mengangkat alis. “Hasil akhir tetap eksekutif.” Ia menahan tawa karena Bapak masih dekat.
Tamu mulai datang sebelum kursi depan selesai diberi label. Mantan murid memotret kelas lama. Guru pensiun saling mencari nama di daftar. Seorang laki-laki berumur sekitar lima puluh menunjukkan kepada anaknya tempat ia pernah ikut mengaduk semen untuk fondasi. Perempuan yang datang bersama dua cucu berdiri di bawah pohon mangga dan bersikeras kelasnya yang menanam pohon itu setelah ujian akhir. Orang lain membantah: “Kelas saya, Bu. Tahun sembilan lima.” “Lha saya lulus sembilan empat.” Mereka mulai menghitung umur pohon dari ketebalan batang. Tidak ada orang yang menyebut harga tanah per meter, meski lahan belakang sedang dibicarakan untuk dijual. Tanah sekolah pagi itu menyimpan bekas banjir, kaca pecah, hukuman berdiri, sepeda berjajar dekat selokan, anak yang pernah muntah di upacara, dan satu pohon yang punya dua angkatan pemilik.
Pak Salim membawa tiga murid ke laboratorium lama karena aula penuh. Dari pintu terbuka terlihat kerangka plastik yang kehilangan dua jari. Seorang alumni menunjuk bekas luka pada meja praktikum. “Ini saya, Pak. Spiritus.” Pak Salim langsung mendecak. “Bukan kamu. Kamu paling takut api.” “Lho, saya yang dimarahin Bu Yuni.” “Karena kamu ikut.” Alumni lain menyela dari belakang, “Yang bakar Taufik, Pak!” Nama Taufik memicu satu cerita baru. Lima menit kemudian mereka lupa sedang mencari kursi.
Sebelum acara, Bapak berlatih memasukkan tangan kiri ke lengan jas di ruang kepala sekolah. Bahunya tersangkut. “Ras, bantu.” Aku menarik kain dari belakang. “Sempit.” “Badan Bapak yang melebar. Jasnya tetap.” “Itu definisi sempit dari sisi lain.” “Heh.” Ia mengangkat dagu ketika kerah kurapikan. Di meja ada foto Mbah Kakung dalam bingkai kecil. Bapak mengusap kaca dengan ujung lengan. “Dibawa juga?” tanyaku. “Biar lihat.” Ia menaruh foto menghadap kursi tamu, bukan panggung. Panitia mengetuk dan memberi tahu kepala dinas sudah datang. Bapak menutup kancing jas, menarik napas, lalu keluar. Di ambang pintu, suaranya berubah lebih lebar. “Assalamu’alaikum! Wah, Pak... jauh-jauh, terima kasih, terima kasih.” Bahunya yang tadi kesulitan masuk jas seolah lupa sakit.
Acara dimulai terlambat tiga puluh lima menit. Mikrofon berdengung pada salam pertama. Video profil berhenti di menit kedua. Seorang anak TK menangis saat tarian lalu berlari ke ibunya. Kepala desa menyebut nama Bapak keliru dua kali. Ketika video macet, layar membeku pada foto Bapak muda sedang mengangkat batu bata. Teknisi mencabut HDMI, meniup ujungnya, memasang lagi, lalu menoleh kepadaku tanpa berkata. Aku memindahkan pemutaran ke laptop cadangan. “Bayu, video profil dua.” “Yang profil_final2?” “Yang pakai tanggal.” “Sip.” Pembawa acara mengisi jeda dengan pantun yang baris akhirnya gagal berima. Satu baris berbunyi pergi ke pasar membeli mangga, Pak Darma berjasa sepanjang masa. Tepuk tangan datang karena orang ingin menolong.
Anak TK tadi kembali ke sisi panggung sambil masih terisak. Ibunya berjongkok, mengusap hidungnya, lalu berbisik sesuatu. Musik sudah lewat bagian awal. Guru tari memberi aba-aba dari balik tirai. Anak itu masuk ketika teman-temannya berada di gerakan terakhir, berputar sekali, salah arah, lalu melambai ke ibunya. Aula bertepuk jauh lebih keras daripada saat tarian dimulai. Bapak yang duduk di baris depan ikut berdiri setengah badan. “Bagus!” teriaknya. Anak itu tersenyum untuk pertama kali.