Bapak meminta naskah pidato keluarga dengan huruf besar pagi tadi. Aku sudah mengirim versi yang ukuran font-nya cukup untuk dibaca tanpa kacamata, lengkap dengan nomor halaman dan satu catatan pada margin: PAUSE. Ia menghapus catatan itu karena katanya bisa mengatur jeda sendiri. Sore menjelang, naskah yang sama berada di tangannya di atas panggung. Aula lebih tenang setelah makan siang. Anak kecil banyak yang tertidur. Suara kipas terdengar jelas. Bapak membuka halaman pertama dan berkata, “Keluarga merupakan ruang pertama tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan melalui kasih sayang, keteladanan, dan kebersamaan.”
Suara Bapak bergema syahdu dari pengeras suara, membacakan paragraf andalannya tentang keluarga: “...sebuah malam sederhana ketika hujan menerobos atap rumah kami, mengajari kami berlima untuk tertawa bersama di balik ember-ember plastik.” Di baris kursi penonton, Bayu menyikut lenganku sambil berbisik datar, “Nah, ini bagian kita jadi ember hidup.” Nisa di sebelahnya mendecak pelan, “Tertawa apanya, orang waktu itu aku nangis kejer gara-gara kasur basah kuyup.”
Bapak membaca malam ketika hujan masuk melalui atap. Dalam naskah, kami berlima memindahkan ember sambil tertawa, “sebuah malam sederhana yang mengajarkan kebersamaan.” Aku ingat Ibu sedang demam. Bayu menangis karena kasurnya basah. Nisa belum lahir. Bapak malam itu berada di sekolah menjaga ruang kelas yang juga bocor. Aku memegang ember sendiri cukup lama sampai pergelangan tanganku sakit. Tidak ada yang salah pada kalimat bahwa keluarga bertahan. Yang berubah adalah siapa yang memegang ember.
Bu Hesti di baris samping mengusap mata. Di sampingnya Pak Salim tertidur dua menit, terbangun ketika tepuk tangan muncul setelah satu paragraf. Ia langsung ikut bertepuk tanpa tahu bagian apa yang baru selesai. Tidak ada yang menertawakan. Panitia juga sudah lelah.
Bapak melanjutkan. Ia membacakan tentang Ibu yang “menjadi rumah bagi segala kelelahan.” Ibu menunduk, tersenyum kecil, lalu sibuk merapikan ujung tisu di pangkuannya. Pada layar muncul foto Ibu di dapur dengan panci besar. Foto tidur di kantin tidak dipakai lagi. Aku tahu karena file ini versi yang kubetulkan setelah sesi pertama. Baris berikutnya menyebut anak-anak sebagai “sumber semangat.” Bayu menggeser mouse sedikit, seolah punya pekerjaan. Nisa melihat lantai.
“Anak pertama kami, Raras,” kata Bapak, “sejak kecil sudah menunjukkan ketelitian dan kemandirian. Ia membantu adik-adiknya, membantu ibunya, dan sekarang membantu saya menyelesaikan buku ini.” Orang-orang bertepuk tangan. Seorang alumni di depanku menoleh dan tersenyum. Aku membalas kecil. Bapak membaca kalimat berikutnya: “Kami tidak pernah membayangkan anak-anak akan tumbuh secepat itu.”
Aku hampir tertawa. Kata tumbuh bisa melakukan banyak pekerjaan.
Naskah berlanjut ke Bayu. “Anak laki-laki kami yang selalu membawa suasana...” Bayu berbisik, “Nah, ini gue.” Aku menatap. “Diam.” “Iya.” Bapak membaca tentang kegaduhan, keberanian mencoba, dan kegagalan yang menjadi pelajaran. Bayu menahan senyum sampai Bapak menyebut motor. “Lho, motor masuk?” “Aku enggak nulis bagian itu.” “Berarti Bapak nambah.” Di panggung, Bapak memang keluar dari naskah. “Motor pertamanya juga hasil kerja keras keluarga,” katanya, lalu tertawa. Orang ikut tertawa. Bayu menoleh kepadaku, senyumnya hilang satu tingkat. “Hmm.” Ia tidak bilang apa-apa lagi.
Nisa disebut sebagai “yang paling tenang.” Nisa dari jauh mendecak pelan. Aku bisa membaca bibirnya: apaan. Bapak menyebut cita-citanya di bidang kesehatan, kebiasaannya merawat orang, dan cara ia “mendengar lebih banyak daripada bicara.” Bagian itu membuat Nisa menatap panggung lebih lama. Saat tepuk tangan datang, ia mengangkat botol air ke mulut.
Setelah bab keluarga selesai, pembawa acara memanggil kami ke panggung. Ibu berdiri dulu, menggeser sandal rumah supaya tidak tersandung. Bayu menyerahkan mouse kepada siswa OSIS. Nisa datang dari sisi kanan. Namaku disebut terakhir. Aku meninggalkan meja operator dan naik melalui tangga kecil yang satu anak tangganya goyang.
Bapak merangkul bahuku. Ibu menggenggam tanganku. Fotografer berkata, “Rapat sedikit, Bu. Mas. Mbak Raras, ke tengah.” Kami bergeser sampai bahu bersentuhan. Kepala dinas menyerahkan plakat keluarga. Tulisan di bawahnya berbunyi: Terima kasih atas dukungan dan pengorbanan tanpa batas. Sisi kanan kupegang, Ibu memegang kiri. Plakatnya ringan. Cara kami menahannya membuatnya tampak berat di foto.
“Lebih senyum, Mbak,” kata fotografer. Aku mencoba. Bayu dari samping berbisik, “Gigi dikit.” “Diam.” Ia malah tersenyum lebar. Flash menyala tiga kali.
Di belakang panggung, Ibu langsung menyerahkan plakat kepadaku karena ada baki konsumsi yang hilang. “Pegang dulu. Jangan baret.” Bayu meminta melihat. Ia membaca tulisan tanpa batas, lalu menggosok bekas sidik jari dengan ujung kemeja. “Jangan!” kata Nisa. “Nanti baret.” “Udah baret dari sananya.” Mereka memiringkan plakat ke cahaya untuk mencari garis. Ibu kembali, mengambil dari tangan Bayu. “Taruh di tas hadiah. Jangan campur sama punya kepala dinas.” Plakat masuk ke kantong plastik bersama payung lipat, dua kotak kue, obat, dan sandal Ibu yang tadi dilepas. Salah satu pegangan kantong putus. Bayu mengikatnya pakai tali rafia dari kardus buku. Pengorbanan tanpa batas dibawa pulang dengan simpul dua kali.
Rini menghampiri setelah sesi foto. Hari itu ia tidak memakai seragam perawat; blusnya kuning dan sepatunya sudah dilepas setengah tumit karena kakinya sakit. Surat lama yang ditandatangani Bapak masih dibawa dalam map. Ia menggenggam tanganku dengan dua tangan. “Bapakmu itu... ya Allah, saya enggak bisa lupa. Kalau waktu itu enggak datang ke rumah, hidup saya mungkin beda semua.” “He-em.” “Tolong dijaga, ya. Orang seperti beliau jarang.” Aku merasakan kalimat itu mencari tempat untuk masuk sebagai tugas. “Saya akan menghormati beliau semampu saya,” jawabku. Rini tersenyum puas. “Nah.” Ia tidak mendengar batas pada dua kata terakhir. Atau mendengar dan menganggapnya cukup.
Pidato berlanjut setelah foto. Bapak berterima kasih kepada guru, pengurus yayasan, alumni, pemerintah desa, pedagang kantin, tukang bangunan, sopir yang dulu sering mengantar murid, orang-orang yang sudah meninggal, dan Ibu tiga kali. Namaku muncul sebagai penyunting, penata letak, dan “harapan keluarga untuk meneruskan apa yang baik.” Kali ini aku tidak kaget. Suara itu sudah punya bentuk. Yang berubah adalah cara tubuhku menerimanya. Perut tetap tenang. Tanganku tetap di meja.
Menjelang akhir, Bapak melepas kacamata. Ia berhenti lebih lama dari naskah. Aula ikut diam. “Saya...” Suaranya serak. Ia membersihkan tenggorokan. “Saya tahu selama empat puluh tahun ini ada orang yang... mungkin terluka karena keputusan saya. Ada guru yang menunggu. Ada keluarga yang ikut susah. Ada anak yang... ya, memahami keadaan lebih cepat.” Beberapa orang menunduk. Ibu menutup mulut dengan tisu. Bayu menoleh ke arahku. Nisa melihat sepatunya.
Bapak menarik napas. “Saya belum mampu membalas semuanya. Kadang orang kalau merasa sedang membangun sesuatu, dia terlalu fokus ke depan. Yang di samping bisa... ya, bisa kelewat dilihat.” Ia berhenti. Kata salah tidak keluar. Nama siapa pun juga tidak. “Mudah-mudahan Allah membalas semua kebaikan yang pernah diberikan kepada sekolah ini dan kepada keluarga saya.”
Tepuk tangan datang sebelum ia benar-benar selesai. Bapak memasang kacamata kembali. Pembawa acara masuk membawa kalimat penutup. Di sebelahku, Bayu berkata sangat pelan, “Hampir.” Aku tidak bertanya hampir apa. Nisa datang dari pos kesehatan dan berdiri di belakang kursi kami. “Dengar?” tanyanya. “Dengar.” “Hm.” Itu saja.
Saat turun panggung, ujung celana Bapak tersangkut kabel mikrofon. Bayu yang paling dekat menangkap lengannya. “Pak!” Bapak menahan tubuh pada bahu Bayu. Orang-orang di depan masih memotret, jadi senyumnya tetap ada. Begitu sampai belakang tirai, suaranya naik. “Ini kabel kok dibiarkan melintang? Siapa yang jaga sini?” Seorang siswa OSIS langsung menunduk. “Saya, Pak.” Bapak hendak melanjutkan. Anak itu kelihatan pucat. Suaranya turun. “Ambil lakban hitam. Tempel yang rapi. Jangan sampai orang jatuh.” “Iya, Pak.” Anak itu berlari. Bapak duduk di kursi plastik dan menggosok pergelangan kaki. “Tua,” gumamnya. Bayu jongkok. “Sakit?” “Enggak. Kaget.”
Ibu datang membawa obat dan air. “Minum.” “Nanti.” “Sekarang.” “Bu, saya habis—” “Sekarang, Pak.” Bapak menghela napas seperti murid yang kalah debat, lalu menelan obat. Gelas kosong dikembalikan tanpa melihat. Ibu memasukkannya ke kantong sampah dan merapikan bagian jas yang tertarik saat hampir jatuh. Tangan mereka bergerak tanpa upacara.
Sesudah pidato, wartawan lokal yang kemarin merekam testimoni mencegat Bapak di bawah panggung. “Pak, tadi ada bagian soal orang yang terluka. Boleh dijelaskan?” Bapak masih memegang naskah. Kertasnya melengkung karena keringat tangan. “Ya... namanya memimpin lama, pasti ada keputusan yang enggak menyenangkan semua orang.” “Ada penyesalan khusus?” Kamera ponsel sudah menyala. Bapak melihat lensa, lalu barisan orang yang menunggu foto. “Kalau ditanya penyesalan, banyak. Tapi kalau semua dibongkar sekarang nanti acara enggak selesai, ha ha.” Wartawan ikut tertawa. Pertanyaan berikutnya bergeser ke rencana sekolah. Aku berdiri cukup dekat untuk mendengar kata penerus muncul lagi. “Anak-anak punya jalan masing-masing,” kata Bapak kali ini. “Sekolah ini milik yayasan, bukan milik keluarga saya sendiri.” Aku menoleh. Kalimat itu tidak ada di naskah.
Wartawan bertanya, “Mbak Raras akan terlibat?” Bapak mengusap sisi hidung. “Dia membantu buku dan acara. Selebihnya... ya tanya dia.” Kamera berpindah kepadaku sebelum aku siap. “Mbak?” Aku memegang gulungan kabel di satu tangan. “Saya kerja di Semarang.” “Tapi mungkin kembali?” “Belum ada rencana.” Wartawan menunggu kalimat lebih menarik. Aku tidak memberinya. “Hari ini saya bantu acara Bapak.” “Oke.” Ia akhirnya mematikan kamera dan meminta foto. Setelah orang itu pergi, Bapak tidak melihatku. Ia membuka naskah pidatonya seolah mencari halaman yang hilang. “Kabel itu taruh meja,” katanya. “He-em.”
Di belakang panggung, Nisa sedang mengompres pergelangan kaki seorang guru yang terpeleset. Bayu membawa es batu dalam plastik dan salah menyerahkan kantong berisi es konsumsi. “Yang ini bersih,” katanya. Nisa mendengus. “Semua es harusnya bersih.” “Maksud gue belum dicampur sirup.” Guru yang sakit ikut tertawa. Aku duduk di kursi kosong. Tubuhku mulai terasa berat setelah adrenalin turun. Nisa menatap wajahku. “Pusing?” “Enggak.” “Mual?” “Sedikit.” “Makan.” “Tadi udah.” “Tadi jam berapa?” Aku berpikir terlalu lama. Nisa mengeluarkan roti dari meja kesehatan. “Nih.” Bayu mengangkat satu jari. “Saya saksi, ini bukan utang.” “Pergi,” kata Nisa. Bayu pergi sambil membawa kantong es yang salah.
Aku makan setengah roti. Dari balik tirai terdengar Bapak kembali tertawa bersama alumni. Suaranya berbeda dari suara di meja makan: lebih lebar, lebih ringan, cepat menangkap nama dan cerita. Di rumah, satu pertanyaan bisa berubah menjadi pelajaran. Di sini, ia membiarkan orang memotong ceritanya. Aku pernah mengira salah satu suara harus palsu supaya suara lain benar. Sekarang keduanya berdiri di gedung yang sama.
Bu Hesti masuk membawa dua botol air dan duduk di kursi sebelahku. “Pidatonya bagus,” katanya. “He-em.” “Bagian yang... itu juga.” Ia tidak menyebut terluka. “He-em.” Bu Hesti membuka tutup botol. “Kurang?” tanyanya. Aku melihatnya. “Buat siapa?” “Buat kamu.” “Aku enggak tahu.” “Ya jangan dipaksa tahu hari ini.” Ia minum. “Pak Darma kalau minta maaf tuh dari dulu kayak ngisi formulir setengah. Kolom wajib diisi, kolom keterangan dikosongin.” Aku tertawa kecil. “Bu.” “Apa?” “Jangan jadi puitis.” “Lha saya ngomong administrasi.” Ia ikut tertawa, lalu berdiri karena Bu Ratna memanggil soal uang buku.
Ibu muncul beberapa menit kemudian membawa kantong berisi plakat dan sandal. “Kamu di sini toh. Dicari Bapak tadi.” “Kenapa?” “Enggak tahu. Mungkin foto.” Ia melihat roti di tanganku. “Habiskan.” Aku menggigit lagi. Ibu duduk sebentar, mengusap tumitnya yang lecet. “Sepatunya Bu Yati kok makin dipakai makin sempit.” “Kakinya bengkak.” “Makanya.” Ia melepas plester dari tas, menempelkannya sendiri pada tumitnya. Dari depan panggung seseorang memanggil “Bu Darma!” Ibu langsung berdiri sambil memegang sandal. “Aduh, iyaaa!” Ia pergi membawa kantong plakat sebelum sempat merapikan kebayanya.
Di meja operator, siswa OSIS sudah mengembalikan mouse pada posisi semula. “Mbak, tadi saya enggak ubah apa-apa selain pause video.” “Bagus.” “Tapi slide keluarga sempat kepencet maju sekali.” “Kembali lagi?” “He-em.” Ia terlihat menunggu dimarahi. “Ya sudah.” Anak itu berkedip. “Udah?” “Udah.” Ia tersenyum lega dan berlari membantu kursi. Aku baru sadar berapa banyak orang di ruangan ini terbiasa menunggu teguran setelah kesalahan kecil. Tidak semua kesalahan perlu diwariskan bersama cara menanganinya.