Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #23

Chapter 23 - Kertas yang Kutolak

Saat Selasa, tepatnya pukul tujuh lewat dua belas pagi berikutnya, Pak Hadi datang membawa tiga map dan satu kantong plastik berisi kunci aula. Jas acaranya yang kemarin sudah berganti kemeja kotak-kotak kusam, tetapi pin panitia berwarna emas masih menempel di saku dada karena ia lupa melepasnya sewaktu berangkat dari rumah. Aku tidur lebih dari tujuh jam untuk pertama kali sejak pulang ke rumah ini, meski sempat terbangun dua kali karena perut perih dan ulu hati menegang. Kepalaku masih terasa berat, dan rasa asam sisa muntah semalam masih menyisa tipis di belakang lidah. Dari arah kamar mandi, suara Ibu terdengar sedang membongkar sanggul sisa acara; tusuk-tusuk sanggul dan jepit besi diletakkan satu per satu di tepi wastafel dan sesekali jatuh ke ubin dengan bunyi kelentingan kecil yang berulang.

Di meja makan, map biru berisi berkas permohonan pinjaman dari malam sebelum acara tetap berada di tempatnya. Formulir penjamin perorangan masih bersih dan kosong di atas taplak bergambar buah anggur, sementara pulpen hitam bertuliskan logo sekolah sudah berpindah posisi dekat mangkuk sambal yang mengering. Pak Hadi tidak langsung duduk sewaktu masuk. Dengan gerak cermat seorang bendahara yang bertahun-tahun memegang kertas berharga, ia memindahkan mangkuk sambal itu lebih dulu ke atas rak piring di dapur. “Kena kertas nanti, repot,” katanya pelan. Di ruang tengah, Bapak tidur setengah duduk di kursi kayu dengan kacamata baca berada di atas dada dan buku kenangan hasil peluncuran kemarin terbuka di pangkuannya pada halaman foto keluarga. Pak Hadi berdeham pelan dua kali. Bapak terbangun, membetulkan letak kacamata, lalu meluruskan sarung yang terlepas dari lututnya. “Pagi-pagi benar, Di?” “Koperasi buka jam delapan, Pak. Saya mau pastikan suratnya rapi dulu sebelum kantor yayasan ramai.”

Pak Hadi mengeluarkan tiga lembar dokumen legal dari map kulitnya. Ia meletakkannya di meja makan, tepat di samping piring sisa kue bolu karamel yang lalatnya mulai berdatangan. Dokumen berjudul Pernyataan Penarikan Calon Penjamin itu dicetak dengan format baku yang dingin dan steril. Ibu meratap histeris menudingku anak durhaka. Bapak menatapku dengan mata yang sengaja dibuat layu. Aku tidak membalas ucapan mereka dan hanya menarik napas panjang, menatap lurus ke arah ujung kertas Pak Hadi.

Aku membaca lembar pertama itu sampai dua kali karena mataku masih panas dan sulit fokus. Pada bacaan ketiga, frasa yang sejak awal kucari—dihapus seluruhnya tanpa sisa—memang tidak pernah ada di sana. “Riwayatnya tetap disimpan di sistem?” tanyaku sambil mendongak. Pak Hadi mengangguk tegas namun sabar. “Yang pernah dikirim ke server lembaga keuangan tidak bisa dihapus begitu saja seolah-olah tidak pernah ada, Ras. Catatan keberatan resmi yang kamu ajukan juga harus tetap tersimpan di sana sebagai bukti perlindungan diri kamu sendiri. Yang kita tarik dan kita kunci hari ini adalah pemakaian aktifnya untuk agunan pinjaman.” Aku menunjuk baris yang mencantumkan folder administrasi sekolah. Pak Hadi menyambung, “Salinan kerja di komputer Bu Ratna sudah dipindah ke folder arsip terbatas. Password-nya diubah, dan Bu Ratna tidak punya hak akses lagi setelah koreksi ini diunggah. Data pribadi yang pernah difotokopi sudah dicatat lembar demi lembar di lembar ketiga ini.”

Bapak mengambil lembar pertama dari meja, menatap susunan kalimat hukum itu dengan dahi berkerut dalam. “Bahasanya tajam sekali, Di. Seolah-olah sekolah kita melakukan pelanggaran berat.” Pak Hadi menahan napas sejenak, lalu menjawab dengan suara rendah yang terjaga. “Profilnya memang dimasukkan ke sistem sebelum ada persetujuan dari Raras, Pak. Di mata audit, itu celah prosedur.” “Tapi kan baru draf.” “Drafnya sudah terunggah ke portal resmi koperasi dan dinilai oleh tim analis mereka.” Pintu kamar Bayu mendadak terbuka miring. Bayu muncul dengan rambut berdiri rata di sebelah kanan, matanya menyipit melihat map-map di meja. “Saya bikin teh hangat dulu,” katanya cepat, padahal tidak ada seorang pun yang meminta. Ia melangkah ke dapur, menyalakan kompor gas, lalu berjalan kembali ke ruang tengah karena lupa membawa ketel air.

Bapak membaca ulang surat penarikan itu dari baris pertama. “Kalau surat ini ditandatangani dan dikirim jam sembilan nanti, berarti pengajuan restrukturisasi yang kemarin otomatis batal?” “Iya, Pak,” jawab Pak Hadi tanpa ragu. “Koperasi akan menutup berkas versi yang memakai nama Mbak Raras. Kalau yayasan mau mengajukan skema pinjaman baru, seluruh proses harus dimulai dari awal memakai data finansial sekolah yang sudah dikoreksi murni.” “Waktu kita sudah tidak ada lagi, Di.” “Makanya saya datang pagi ini sebelum jam kerja mulai.” Pak Hadi membuka map ketiga yang tebal. “Tim penaksir harga tanah independen bisa datang hari Selasa besok. Kita harus menyiapkan perkiraan nilai jual tanah belakang sebagai bahan utama rapat Pembina. Keputusan melepas aset tetap membutuhkan persetujuan seluruh organ yayasan. Saya dan Pak Darma tidak bisa mengambil langkah ini sendiri.” Bapak meletakkan surat itu di atas meja dengan gerakan perlahan. “Belum tentu tanah belakang harus dijual...” Pak Hadi mengangguk menghormati, “Betul, Pak. Kita lakukan penaksiran dulu. Supaya rapat Pembina bisa melihat angka yang rill antara jumlah utang, biaya pembatalan proyek gedung kejuruan, dan dampaknya pada jumlah kelas tahun depan. Setelah semua angkanya terbuka di meja, baru Pembina memutuskan bersama.”

Ibu keluar dari lorong kamar mandi dengan rambut terurai basah sampai ke bahu. Wajahnya yang polos tanpa riasan masih menyimpan sisa garis bedak tipis di dekat daun telinga. “Ini sudah mulai rapat lagi?” tanya Ibu sambil memandang map dan kertas yang berserakan. Matanya berganti menatapku. “Kamu sudah makan belum, Nduk?” Aku menggeleng pelan. Ibu mendesah panjang, “Aduh, ya Allah... anak ini,” lalu membuka tudung saji di meja makan dan menemukan piring nasi sudah kosong. “Bayu! Bubur sisa semalam masih ada di panci kecil?” Dari dapur, Bayu berteriak menembus suara gemericik air, “Ada, Bu! Ini lagi aku panasin!” “Jangan diaduk pakai sendok bekas sambal lho ya!” “Iyaaa, Bu, enggak!” Pak Hadi menggeser lembar persetujuan sedikit lebih dekat ke siku Bapak. “Yang menandatangani surat ini adalah perwakilan pemohon dari yayasan. Saya sudah bicara dengan Ketua Pengurus. Beliau siap datang jam sembilan nanti di kantor kalau Bapak setuju memaraf dokumen ini sekarang.” Bapak bersandar ke sandaran kursi kayu, matanya menatap plafon. “Kalau saya belum setuju memaraf?” Pak Hadi melirik formulir kosong yang kemarin, lalu menatapku lurus. “Mbak Raras sudah menyatakan penolakan secara resmi, Pak. Data aktifnya tetap harus dikoreksi hari ini juga oleh lembaga. Yang bisa kita bicarakan sekarang hanya bagaimana cara yayasan melanjutkan skema pembiayaan tanpa melibatkan nama Raras.”

Lihat selengkapnya