Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #24

Chapter 24 - Satu Eksemplar..

Minggu malam.

Hidupku masuk ke satu koper, satu ransel, dan dua kardus yang akan dikirim belakangan. Pakaian dilipat menurut yang masih kupakai, bukan menurut siapa yang pernah membelikan. Laptop, dokumen, obat, cerita sumur, buku biru, satu kamus kecil, dan beberapa foto masuk ke tas yang kubawa sendiri. Piagam sekolah tetap di dinding. Celengan ayam bertuliskan kuliah Raras tertinggal di rak karena sayapnya terlalu rapuh untuk dimasukkan kardus. Sesudah makan siang aku tertidur hampir empat jam, masih memakai celana acara dan kaus lama Bayu. Ketika bangun, cahaya sudah pindah dari jendela ke dinding lorong. Pukul sepuluh malam, aroma bawang goreng masuk melalui celah pintu. Mangkuk diletakkan di lantai. Aku tahu langkah Ibu dari cara sandal menyeret sedikit di sisi kiri. Ia mengetuk dua kali. “Ras, makan.” “Iya, Bu.” Setelah langkah menjauh, pintu kubuka. Mi kuah, telur setengah matang, daun bawang, dan sambal di piring kecil. Aku duduk di lantai, makan sampai kuah tinggal separuh, lalu mencuci mangkuk sendiri.

Ibu sedang melipat taplak acara di ruang tengah. Tumpukannya sudah rapi, tapi lembar paling atas dibuka lagi karena ada noda kuah. Ia menggosoknya dengan kuku. “Mobil jam berapa?” tanyanya. “Setengah lima.” “Bayu bisa antar.” “Sudah pesan.” “Buang uang.” “Sudah dibayar.” Ibu mendecak pelan, lalu mengulang lipatan dari awal. Sanggulnya sudah lepas; rambutnya diikat rendah. Tanpa kebaya dan bedak, wajahnya kembali menjadi wajah yang kukenal dari dapur. Aku duduk di seberang. “Bu.” “Hm?” “Kain biru di pasar masih ada?” Tangannya berhenti di sudut taplak. “Kain apa?” “Yang kemarin Ibu lihat.” “Lah, kenapa ngomongin itu sekarang?” “Masih suka?” Ibu meratakan kain. “Lumayan.” “Beli.” “Pakai apa?” “Uang Ibu.” Ia langsung melihatku. “Nanti dibilang pakai uang rumah macam-macam.” “Yang salah kemarin pemakaian dataku dan anggapan uangku selalu bisa dipakai. Kain itu urusan lain.” Ibu memegang ujung taplak cukup lama. “Sekarang Ibu enggak tahu apa yang boleh.” “Kalau ragu, tanya.” “Terus?” “Dengerin jawabannya.”

Ia menghela napas, tidak marah, lebih seperti orang yang baru diberi alat sederhana setelah bertahun-tahun memakai kebiasaan. “Kalau Ibu tanya boleh beli kain, kamu jawab apa?” “Itu uang Ibu.” “Kalau pakai uang kantin?” “Kalau memang uang Ibu dari kantin.” “Kalau nanti kurang buat gas?” “Ya Ibu yang putuskan.” Ibu menatapku. “Gampang ngomong.” “He-em.” “Kalau salah?” “Ya salah. Terus dibenerin.” Ia mendecak. “Kayak kerjaanmu.” “Mungkin.” Ibu memasukkan taplak ke lemari. “Waktu Ibu mau jadi bidan, Mbah tahu?” tanyaku. “Tahu.” “Dia bilang apa?” Ibu tidak langsung menjawab. Ia memeriksa noda lain pada taplak kedua. “Sekolah tinggi buat perempuan cuma nunda nikah.” Kalimatnya keluar sambil kuku menggaruk serat kain. “Ibu marah?” “Waktu itu takut.” “Habis nikah?” “Keburu sibuk.” Ia menatap koper di kamar. “Kalau kamu pergi sekarang, kuliahmu balik?” “Enggak.” “Umurmu balik?” Aku menggeleng. “Terus apa yang kamu dapat?” Pertanyaannya tidak terdengar menyindir. Ia benar-benar ingin tahu.

Aku melihat taplak yang sudah dilipat berkali-kali. “Ada bagian hidup yang berhenti dipakai orang sebelum aku milih.” Ibu mengerutkan dahi. “Hmmm.” Jawaban itu belum selesai untuknya. Ia menekan lipatan terakhir. “Kalau Ibu dulu pergi sekolah bidan, mungkin kamu enggak lahir.” “Mungkin.” “Bayu, Nisa juga.” “Mungkin.” “Terus?” “Ya enggak ada terusnya.” Ibu tertawa pendek karena kesal. “Kamu tuh kalau jawab bikin orang tambah mikir.” “Maaf.” “Enggak usah maaf.” Ia menaruh taplak. “Cuma... ya. Hidup kan sudah jadi begini.” “He-em.” Dari kamar, Bapak batuk. Kepala Ibu langsung menoleh. Ia bertahan beberapa detik di kursi sebelum berdiri mengambil obat. Aku tidak menahannya. Ketika kembali, ia membawa jaket cokelat milikku. “Ini bawa. Pagi dingin.” “Taruh koper.” Ia meletakkan di dekat pintu kamar. Tidak ada kalimat tentang siapa yang akan menjaga Bapak setelah aku pergi. Untuk malam itu, tugas itu tidak berpindah lewat mulutnya.

Bayu menarik lakban cokelat dengan suara lengkingan plastik yang nyaring. Ia merekatkannya melintang kuat di atas kardus bajuku. Ia kemudian mengambil spidol permanen hitam dari saku celananya, lalu menulis huruf besar-besar di sisi kardus: BARANG RARAS (TANYA DULU SEBELUM SENTUH). “Nah,” kata Bayu sambil menepuk permukaan kardus itu dua kali. “Sistem keamanan gudang beras diterapkan di rumah.”

Di dasar laci ada kartu ulang tahun buatan Nisa. Gambar kami bertiga berdiri di bawah tulisan Mbak paling hebat. Huruf H memakai mahkota. Bayu mengangkatnya. “Nis, dulu selera seni lo kriminal.” Nisa merebut. “Kamu dulu nulis happy birtday tanpa h.” “Ekspresif.” Kartu itu kubuka. Di dalamnya ada tulisan kecil: makasih udah bantu tugas matematika. Tidak ada luka besar. Hanya satu anak yang berterima kasih kepada kakaknya. Kartu masuk ke map cerita sumur. “Yang tertinggal gue kirim setelah upah Selasa,” kata Bayu sambil menutup kardus. “Upahmu simpan dulu.” “Ongkir?” “Kalau kurang, bilang.” Ia hendak protes, lalu mengangguk. “Oke.” Nisa membawa cerita sumur yang tertinggal di bawah meja. “Kalau ini ditinggal, aku ambil lagi.” “Sudah pernah.” “Makanya aku tahu tempatnya.” Ia membantu memisahkan dokumen. Syarat keringanan kuliahnya disimpan dalam map sendiri, tidak masuk kardusku. “Besok ke kampus?” tanyaku. “He-em.” “Ibu tahu soal tabungan?” “Sekarang tahu.” “Marah?” “Lumayan.” “Kamu gimana?” “Tetap ke kampus.” Jawabannya tidak panjang. Tidak perlu.

Bayu menulis pada sisi kardus: BARANG RARAS, TANYA DULU. Nisa menambahkan garis bawah. “Kalian serius banget,” kataku. Bayu menatap tulisan. “Biar enggak ada yang buka terus bilang kirain boleh.” Kata-kata itu membuat ruangan diam sebentar. Ia langsung mengambil lakban lagi. “Yang ini isi buku?” “He-em.” “Berat.” “Makanya kardusnya jangan tipis.” Pembicaraan pindah. Kardus kedua berisi buku yang pernah mereka pinjam. Bayu menemukan komik tanpa sampul dan mengaku baru ingat menyimpannya sejak SMP. Nisa menemukan dua novel yang diberi namanya sendiri memakai stiker. Kami memeriksa rak satu per satu. Sebuah kamus kecil memuat tulisan tangan Bapak di halaman depan: Untuk Raras, supaya kata-katanya banyak. Tahun pemberiannya sama dengan cerita sumur. Aku membacanya sekali lalu memasukkan kamus ke ransel. Tidak kutunjukkan kepada siapa pun.

Lihat selengkapnya