Subuh mendekap-peluk kepada Senin ini. Mobil travel yang membawaku ke Semarang mulai bergerak pelan menembus kabut subuh. Sopir memutar kemudi, menyalakan radio yang mendengungkan siaran berita pagi bersuara sember untuk menemani roda membelah aspal. Aku menempelkan pipi ke kaca jendela yang dingin. Dari pantulan kaca spion samping, aku melihat sosok Bapak berdiri mematung di teras rumah dengan sarung melingkar di bahunya. Sosoknya di dalam kaca cembung itu terus mengecil, mengabur bersama kabut, sampai mobil berbelok di pertigaan dan rumah itu benar-benar hilang dari pandangan.
Sopir menunggu di ujung gang karena jalannya terlalu sempit untuk putar balik. Lampu depan memantul pada pagar rumah tetangga. Udara berbau tanah basah dan sisa asap dapur. Aku mengangkat koper supaya rodanya tidak membentur ubin. Rumah sudah terjaga meski tidak ada yang bilang selamat pagi. Bayu berdiri dekat pintu dengan rambut berantakan. Nisa masih memakai kaus tidur. Ibu sudah memakai mukena. Bapak duduk di ruang tengah dengan lampu mati. Buku hitam berada di sampingnya. Penanda kertas terselip hampir di tengah. Aku berhenti di dekat koper. “Pak.” Bapak mengusap lutut. “Mau berangkat?” “He-em.” “Jam segini.” “Biar enggak kena macet.” Ia melihat jam dinding, lalu jendela. “Pak Hadi lanjut urus tanah belakang.”
“Aku tahu.” “Gedung kejuruan kemungkinan batal.” Aku menelan. “Iya.” “Guru kejuruan tiga orang mungkin jamnya dikurangi.” Aku mengangguk. “Aku ikut sedih.” Bapak memandangku. “Lalu tetap pergi.” “Iya.” Dari jalan raya jauh terdengar truk berpindah gigi. Buku hitam di samping Bapak bergeser ketika ia mengubah posisi duduk. Ia mengambilnya, membuka halaman yang diberi penanda, lalu menutup lagi. Di antara halaman terselip kertas salah cetak yang dipakai sebagai penanda: satu sisi memuat potongan paragraf buku pensiun, sisi belakang iklan pupuk organik dengan tulisan akar sehat, tanaman kuat. Bapak membaca kedua sisi seperti baru sadar kertas bisa punya dua kehidupan. “Ada bagian tentang Mbah,” katanya. “Ada.” “Dia keras karena hidupnya juga keras.” Aku menunggu.
Bapak melihat lemari kaca. Foto Mbah hanya tampak tepinya dari kursi. “Waktu Bapak jual rokok di terminal... dia pernah datang bawa nasi.” Jempolnya mengusap tepi buku. “Cuma sekali. Pakai rantang kecil warna merah. Nasinya dingin.” Cerita itu tidak ada dalam buku pensiun. Aku belum pernah mendengarnya. “Bapak waktu itu marah sama Mbah,” lanjutnya. “Tetap dimakan.” Aku tidak mencari kesimpulan. Bapak membuka buku lagi. “Bahasanya kejam.” “Iya.” “Banyak yang keliru.” “Mungkin.” Ia mengangkat kepala. “Banyak.” “He-em.” “Bapak enggak pernah...” Kalimatnya berhenti. Ia menutup mulut, mengusap bibir. “Ya. Ada yang benar.” Suara motor melewati gang dan hampir menelan kalimat itu. Aku berdiri tanpa bergerak. Bapak menatap halaman, bukan aku. “Ada yang benar,” ulangnya, lebih kecil.
“Terima kasih sudah baca.” “Belum selesai.” “Enggak apa.” “Kamu kasih buat dibaca, kan?” “He-em.” “Terus bilang enggak apa kalau enggak selesai.” “Karena aku enggak bisa maksa.” Bapak mendengus pendek. “Sekarang semua pakai izin.” Aku hampir tersenyum. “Lumayan.” Sudut mulutnya bergerak, tapi ia tidak benar-benar tertawa. Bapak membuka lagi halaman yang diberi penanda. “Yang ini...” Telunjuknya berhenti pada baris tentang aku menunggu di ruang kerja sementara ia mengajari Fikri pembagian. “Kamu nulis Bapak lebih sabar sama murid daripada sama kamu.” “Di bagian itu, iya.” “Karena murid kalau salah ya belum ngerti.” Ia berhenti, mungkin mendengar jawabannya sendiri. “Anak juga.” “He-em.” Bapak menggosok kening. “Kalau sama anak... orang kira sudah ngerti rumah. Sudah tahu maksudnya.” “Kadang tahu maksudnya. Tetap sakit.” Ia tidak menjawab langsung. “Hmm.”
Ia membalik dua halaman. “Ibumu baca?” “Beberapa.” “Marah?” “Ada.” “Minta dihapus?” “Enggak.” Bapak tertawa kecil sekali. “Ibumu kalau sudah marah biasanya nyuruh orang makan.” Dari dapur Ibu berteriak, “Saya dengar!” Bapak menoleh ke arah dapur. “Nah.” Suaranya punya sedikit tawa. Ibu membalas, “Kalau tahu, ya jangan ngomong!” Bayu di pintu menutup mulut supaya tidak ikut. Bapak melihat lagi buku. “Kalau nanti ini dicetak banyak?” “Aku belum tahu.” “Nama sekolah ada?” “Ada bagian sekolah.” “Nama orang?” “Sebagian.” “Hati-hati.” “He-em.” Ia mengangguk, lalu berkata, “Kalau soal Pak Sumarno, itu benar. Bapak harusnya dulu lebih cepat bayar.” Aku tidak pernah menulis kalimat itu sebagai kesimpulan. Di buku hanya ada nama, gaji tertunda, foto pecah, dan istrinya yang mengeja gelar lewat telepon. Bapak menemukan kalimatnya sendiri dari benda-benda itu. Aku membiarkannya.
Buku ditaruh kembali. “Kamu nulis supaya orang tahu Bapak jelek?” Pertanyaan itu keluar tanpa nada panggung, tanpa guru, tanpa kepala sekolah. Hanya ayah yang belum selesai membaca dirinya sebagai karakter di buku orang lain. Aku melihat sampul hitam. “Aku menulis supaya ada.” “Apa?” “Yang kuingat. Yang kejadian. Supaya ada.” “Kalau orang baca?” “Nanti urusan lain.” “Kalau mereka percaya semua?” “Aku belum memutuskan siapa yang baca.” Bapak mengusap sampul. “Ingatanmu juga milikmu sendiri, berarti.” “He-em.” “Ingatan Bapak?” “Punya Bapak.” Ia diam. “Makanya buku kita beda.” Aku mengangguk. Kalimat itu berdiri cukup lama.
Ibu keluar dari dapur membawa tas kain. Mukena masih dipakai. Di dalam tas ada nasi bungkus, botol air, obat lambung, jaket cokelat, dan beberapa lembar uang yang dilipat. “Ini.” Ia menyerahkan. Berat tas lebih besar daripada yang tampak. “Uangnya simpan, Bu.” “Bawa.” “Aku punya.” “Ini juga uangmu. Sisa belanja acara.” Aku hendak mengeluarkan uangnya. Ibu mengambil jaket dari tas dan memasukkan uang ke sakunya. “Nah. Kalau mau balikin nanti pas sudah jauh.” “Bu...” “Udah.” Bayu tertawa kecil dari pintu. “Teknik transfer offline.” Ibu menoleh. “Kamu jangan ikut.” “Diam.” Nisa menyelipkan permen jahe ke tas. “Ini jangan dihabisin sekali.” “Aku bukan anak kecil.” “Kalau mual suka lupa.” “Bu Dokter lagi.” “Mahasiswa.”
“Lebih galak.” Ibu menyentuh pipiku. Tangannya mundur satu detik, lalu aku memeluknya. Tubuhnya terasa lebih kecil di dalam mukena. Ia membalas dengan kedua lengan. Bau sabun, bawang goreng, dan minyak kayu putih masih tinggal. Tangannya menepuk punggung dua kali. “Kabarin sampai.” “Iya.” “Makan.” “Iya.” “Obat.” “Iya, Bu.” “Kalau capek—” “Iya.” Ibu menahan pundakku dan menatap wajah. “Jangan iya semua.” Aku tertawa kecil. “He-em.” Matanya langsung berair. “Nah, gitu.” Bayu mengambil koper. “Gue angkat.” “Bisa sendiri.” “Gue tahu. Gue tetap angkat.” Kalimat itu membuatku membiarkan. Nisa mengangkat ransel, tapi aku mengambil kembali. “Yang ini aku.” “Berat.” “Dokumen.” “Oh.” Ia langsung melepaskan. Di pintu depan, Bayu berkata, “Mbak, formulir kerja gue kemarin masih rusak bagian pendidikan.”
Aku menatapnya. Ia bertahan dua detik, lalu nyengir. “Bercanda. Sudah gue beresin.” “Kalau rusak lagi?” “Baca petunjuk.” “Kalau enggak ngerti?” “Tanya orang yang memang tugasnya bantu.” Aku mengangkat alis. “Kemajuan.” “Jangan terharu.” Nisa memelukku dengan dagu menekan bahu. “Kalau aku panik nanti?” Aku memikirkan jawaban bagus dan tidak menemukannya. “Telepon.” “Kalau Mbak tidur?” “Telepon lagi.” “Kalau enggak diangkat?” “Minta orang lain.” Nisa mengusap hidung pada bahuku. “Jawabanmu sekarang pendek.” “Ngantuk.” “Bagus.”
Bapak masih di ruang tengah. Aku menoleh. Ia berdiri pelan. Buku hitam tetap di kursi. “Ras.” “Pak?” “Kalau pulang... pintu masih ada.” Cat dekat gagang pintu mengelupas. Engsel bawah berkarat dan selalu berbunyi sedikit saat musim hujan. Aku memegang gagang. “Kalau urusan sekolah, tanya aku dulu.” Bapak memasukkan tangan ke saku sarung. “Iya.” “Jawabanku bisa enggak.” Ia melihat buku di kursi, lalu mengangguk. “Ya.”
Ia menambahkan cepat, seperti takut kalimat sebelumnya terlalu lembut, “Tapi kalau ngomong sama Ibu ya jangan keras-keras.” Ibu dari belakang langsung menyahut, “Lho kok saya?” Bayu menunduk menahan tawa. Aku berkata, “He-em. Dicoba.” Bapak mengusap lutut. “Kamar kos masih bocor dekat jendela?” “Sudah ditambal pemilik.” “Mesin di tempat kerja yang bikin jarimu lecet itu gimana?” “Heidelberg bukan yang bikin lecet. Mesin potong.” “Ya itu.” “Masih.” “Kerja jangan malam terus.” “Acara pensiun enggak ada tiap minggu.” Bapak mengeluarkan napas pendek. Mungkin tawa. “Mulut.” “Katanya terlalu pintar bicara.” Ia menatapku. Untuk sesaat ada kemungkinan kami kembali ke pertengkaran. Lalu ia berkata, “Ya.” Tidak ada permintaan maaf baru. Tidak ada pelukan. Tangannya hanya menyentuh pegangan koper sebelum Bayu membawanya keluar, memastikan resleting tertutup.
Kami berjalan sampai ujung gang. Bapak dan Ibu tetap di teras. Bayu menyeret koper sambil sesekali mengangkat karena roda tersangkut batu. Nisa membawa tas kain Ibu, lalu menyerahkannya kepadaku ketika mobil sudah dekat. Sopir turun dan membuka bagasi. “Semarang, Mbak Raras?” “Iya.” “Barang cuma ini?” Aku melihat koper, ransel, tas kain. “Yang dibawa sekarang iya.” Bayu memasukkan koper. “Hati-hati, Pak. Isinya hidup orang.” Sopir tertawa karena mengira bercanda. “Siap, Mas.” Nisa memukul lengan Bayu. “Apaan sih.” “Aku nervous.” “Keliatan.” Aku masuk mobil. Kaca diturunkan. Bayu mengangkat tangan. Nisa berdiri dekat lampu jalan dengan rambut belum disisir. Di belakang mereka, rumah terlihat kecil. Bapak dan Ibu masih di teras. Ibu melambaikan tangan dua kali. Bapak mengangkat dagu.