Keterobsesian Stefan Dimitrijević

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Pertemuan di Dermaga

Seorang gadis duduk santai di salah satu wahana permainan di taman kota, setelah selesai berolahraga selama satu jam penuh. Saat ia sedang menikmati camilannya, terlihat dari kejauhan belasan pria berjalan mendekat ke arah gadis bernama Sofija Ristić itu.

Saat lampu taman menyorot wajah mereka, Sofija langsung mengenali siapa mereka.

"Cih! Ternyata mereka lagi rupanya."

"Wah, wah, wah... Ternyata kau bersembunyi di sini rupanya, tikus kecil," ujar salah satu dari mereka.

Tatapan seluruh pria itu terlihat ganas, persis seperti anjing kelaparan yang mengincar mangsa.

"Bersembunyi? Pffft, hahaha. Hei, dengar ya kalian para anjing jalanan!" Sofija melipat kedua tangannya di dada, menatap mereka dengan penuh penghinaan.

"Untuk apa aku bersembunyi dari orang bodoh seperti kalian? Kau pikir aku takut hanya karena kalian bergerombol begitu? Aku bahkan bisa mematahkan tulang kalian satu per satu dengan mudah. Bagaimana mungkin kau berpikir aku bersembunyi? Benar-benar konyol."

Seorang pria bertubuh tambun yang tampak menjadi pemimpin mereka melangkah maju, wajahnya memerah padam menahan amarah.

"Kau berani mengatai kami anjing jalanan, hah? Lihat saja nanti! Aku akan memotong lidah busukmu itu, wanita jalang!"

Sofija melompat turun dari atas perosotan. Tak ada sedikit pun raut ketakutan di wajahnya.

"Memotong lidahku? Wah, sepertinya aku harus mengajari kalian pelajaran lagi ya. Apa kalian sudah lupa beberapa hari lalu aku menghajar kalian hingga babak belur? Mau aku ulangi lagi? Mau?"

Salah satu pria di samping si tambun maju dengan nafas memburu.

"Gadis sialan! Kau hanya beruntung saat itu! Kali ini aku pastikan kau akan merangkak memohon ampun pada kami semua!"

"Benarkah? Bagaimana caranya aku memohon pada sekumpulan orang bodoh seperti kalian? Seperti ini kah?"

Sofija mundur beberapa langkah, memasang wajah seolah ketakutan sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada.

"Tolong... jangan pukul aku, aku mohon, jangan..." Seketika ia tertawa lepas mengejek mereka.

Wajah si pria tambun memerah padam menahan murka. "Bajingan kecil! Hajar dia!"

Para preman itu langsung menyerbu. Salah satu dari mereka bergerak cepat hendak mencengkeram tangan Sofija, namun gadis itu lebih dulu menangkis, menarik pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan dengan tenaga penuh.

KRAKK!

"ARRRGH! Tanganku!" Pria itu mengerang kesakitan, jatuh berlutut menahan rasa nyeri yang luar biasa.

"Lemah sekali," ucap Sofija dingin, menatap pria itu dengan pandangan meremehkan.

"Kau berani melukai temanku! Akan kubunuh kau, jalang!"


Pria lainnya berusaha menyerang, namun mereka kalah cepat. Sofija lebih dulu menendang tempurung lutut salah satu pria hingga terdengar bunyi retakan tulang yang mengerikan. Tanpa jeda, ia merangkai serangan bertubi-tubi dan melayangkan pukulan ke arah dagu pria lainnya.

Lima orang tumbang bersamaan.

Nafasnya kini memburu hebat. Ia baru saja berolahraga tanpa henti selama satu jam, dan hanya sempat beristirahat lima menit sebelum kedatangan para preman itu. Sebagian tenaganya sudah terkuras, dan kini ia harus bertarung dalam kondisi fisik yang jauh dari prima.

"Sial... Tubuhku sepertinya tak sanggup melawan mereka semua. Jika aku memaksakan diri, aku tak yakin bisa menang. Harus kupikirkan cara untuk kabur dari sini," batinnya.

Saat ia sedang membagi konsentrasi, salah satu pria berhasil mendaratkan pukulan keras di pipinya. Darah seketika menetes dari sudut bibirnya, membuatnya terhuyung mundur. Belum sempat menyeimbangkan diri, pria lain menyerang dari belakang dan menendang punggungnya hingga ia tersungkur ke tanah. Tak lama, teman-teman yang lain ikut menyerang, menendang dan menginjak tubuhnya dengan kasar dan brutal, seakan ia hanyalah sampah yang tak berharga.

Sofija segera melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Saat melihat salah satu kaki berniat menginjak tangannya, ia lebih dulu menarik pergelangan kaki itu hingga pria itu jatuh tersungkur di sampingnya. Melihat celah terbuka, ia segera menggelinding ke samping lalu bangkit berdiri dengan nafas terengah-engah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menancapkan kaki kirinya kuat-kuat di tanah, lalu memutar tubuhnya dengan kecepatan tinggi.

SWUSHH! BRAKK!

Tendangan kakinya menghantam tiga kepala sekaligus, membuat mereka ambruk seketika.

"Maju terus kalian, anjing bodoh!" serunya. Ia sengaja memancing amarah mereka, karena sudah memikirkan cara untuk meloloskan diri.

Lihat selengkapnya