Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #2

Helm yang Terlalu Besar

Pada pukul tujuh lewat dua belas menit, Aisha Dania menemukan tujuh puluh tiga sak semen yang mungkin tidak pernah ada.

Ia menemukannya di meja makan, di antara semangkuk bubur ayam yang mulai dingin dan kotak obat ibunya yang terbuka seperti koper kecil milik seorang dokter. Laptop kantor menyala di depan wajahnya. Cahaya lembar kerja memantul pada kacamata berbingkai tipis yang baru sempat ia kenakan setelah azan subuh.

Aisha menekan tombol panah ke atas, memeriksa satu baris, lalu turun lagi.

Pembelian: seratus dua puluh lima sak.

Penerimaan gudang: lima puluh dua.

Selisih: tujuh puluh tiga.

Tidak ada surat jalan susulan. Tidak ada berita acara material rusak. Tidak ada catatan pemindahan ke lokasi lain. Hanya sebuah komentar di kolom paling kanan: sudah sesuai arahan lapangan.

Kalimat itu membuat alis Aisha naik.

Dalam pengalaman sembilan tahun sebagai akuntan, kata sesuai arahan biasanya berarti salah satu dari tiga hal: orang yang menulisnya lupa siapa yang memberi arahan, tidak pernah menerima arahan, atau berharap bagian keuangan terlalu sibuk untuk bertanya.

Sayangnya, Aisha jarang terlalu sibuk untuk bertanya. Ia hanya sering terlalu lelah untuk bersikap ramah ketika melakukannya.

“Aisha.”

Ibunya duduk di seberang meja dengan mukena yang belum dilepas. Ratih menunjuk bubur di depan Aisha. “Makan dulu.”

“Sebentar.”

“Kamu bilang sebentar dari tadi.”

“Tiga menit.”

“Kemarin juga tiga menit. Sampai buburnya bisa dipakai menambal tembok.”

Aisha hampir mengatakan bahwa bubur tidak mempunyai daya rekat yang memadai, tetapi ia mengenali nada di balik keluhan itu. Bukan kemarahan. Kecemasan.

Ia menurunkan layar laptop beberapa senti. “Obat pagi sudah diminum?”

Ratih tidak menjawab. Tangannya justru merapikan ujung taplak meja yang sudah rapi.

“Ibu.”

“Nanti setelah sarapan.”

“Dokter bilang sebelum pukul delapan.”

“Kalau kamu tidak duduk menatap komputer terus, kita bisa sarapan bersama.”

Jebakan yang sangat sederhana. Aisha tetap memasukinya seperti orang yang sudah hafal letak lubang, tetapi terlalu lelah mencari jalan memutar.

Ia menutup laptop, mengambil mangkuk, kemudian membuka bungkus kerupuk. Ratih baru menyentuh obatnya setelah suapan pertama masuk ke mulut Aisha.

Begitulah banyak pagi mereka berjalan: dua perempuan dewasa saling memastikan yang lain bertahan hidup, lalu diam-diam kesal karena harus melakukannya.

“Pulang jam berapa?” tanya Ratih.

“Belum tahu. Hari ini aku ke lokasi.”

“Lokasi mana?”

“Bekasi.”

“Panas?”

Aisha menatap ibunya. “Bekasi, Bu.”

Ratih mengangguk, seolah jawaban itu telah mencakup prakiraan cuaca, kualitas udara, dan kemungkinan anak tunggalnya pulang dalam keadaan utuh. “Bawa payung.”

“Di proyek pakainya helm.”

“Helm bisa menahan hujan?”

“Tidak.”

“Nah.”

Aisha memasukkan kerupuk terakhir ke mulut. Dalam perdebatan tertentu, kemenangan hanya akan memperpanjang waktu keberangkatan.

Sebelum berdiri, ia memisahkan dua butir obat ke dalam wadah kecil berwarna biru dan meletakkannya di samping ponsel Ratih.

“Yang ini setelah makan siang.”

“Ibu tahu.”

“Kemarin lupa.”

“Kemarin Ibu pusing.”

“Justru karena lupa.”

Ratih mendecakkan lidah. “Kamu kalau punya anak nanti, kasihan sekali anakmu.”

Aisha memasukkan laptop ke tas. “Makanya belum punya.”

Ia mengucapkannya seperti lelucon, tetapi Ratih tidak tertawa.

Aisha pun tidak.

* * *

Rumah Susun Sembada berdiri setengah jadi di antara jalan raya yang berdebu dan deretan warung beratap seng. Dari kejauhan, tiga menaranya tampak seperti rangka-rangka raksasa yang belum memutuskan hendak menjadi tempat tinggal atau monumen bagi keterlambatan.

Aisha tiba pukul sembilan kurang lima menit bersama Ridwan, staf administrasi proyek yang menjemputnya di kantor cabang. Udara pagi sudah terasa seperti napas dari pintu oven.

Ia baru turun dari mobil ketika ujung sepatu pantofelnya masuk ke lumpur.

Aisha memejamkan mata selama satu detik.

Hanya satu. Ia bukan perempuan yang menyerah kepada tanah basah.

“Maaf, Mbak,” kata Ridwan. “Semalam hujan.”

“Tanahnya tidak perlu minta maaf. Ia tidak mengirim laporan.”

Ridwan tertawa ragu-ragu, seperti belum yakin kalimat itu lelucon atau ancaman.

Seorang petugas keamanan memberikan helm putih bertuliskan TAMU. Tali dagunya terlalu longgar dan bagian dalamnya berbau matahari, debu, serta sedikit penyesalan. Aisha mengencangkannya sebisanya lalu berjalan menuju kantor lapangan, menjaga langkah agar sepatu kanannya tidak meninggalkan bunyi kecipak yang memalukan.

Di depan bangunan utama, seorang laki-laki berkemeja biru tua sedang berjongkok di samping pompa air. Lengan bajunya digulung sampai siku. Sebuah pensil terselip di belakang telinganya, sementara tangannya memegang kunci pas.

“Pak Jagat!” panggil Ridwan.

Laki-laki itu menoleh. Wajahnya tidak bisa disebut rapi—ada debu di rahang dan noda hitam pada ujung hidung—tetapi tatapannya terang, tenang, dan terlalu gembira untuk seseorang yang sedang memandangi pompa rusak.

“Orang kantor pusat sudah datang,” kata Ridwan.

“Yang mana?”

Aisha melihat ke kanan dan kiri. Tidak ada orang lain yang mengenakan blus putih, celana bahan hitam, dan ekspresi ingin memeriksa dokumen sampai tiga generasi.

Ridwan menunjuk kepadanya.

“Oh.” Laki-laki itu berdiri. Tingginya membuat Aisha harus sedikit mendongak, hal yang langsung tidak ia sukai tanpa alasan yang masuk akal. “Saya kira konsultan keselamatan.”

“Kenapa?” tanya Aisha.

Ia menunjuk helm Aisha. “Karena helmnya punya rencana sendiri.”

Helm itu melorot sampai hampir menyentuh alisnya.

Ridwan membuang muka. Bahunya bergerak.

Aisha mendorong helm tersebut ke atas. “Jagat Pradana?”

Lihat selengkapnya