Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #3

Orang-Orang yang Tidak Masuk Tabel

Pukul delapan lewat empat puluh tujuh menit, auditor internal tiba dengan kemeja yang tidak kusut, sepatu yang tidak berlumpur, dan sebuah koper kecil beroda yang suaranya terdengar seperti vonis ketika melintasi lantai kantor proyek.

Namanya Surya Mahendra. Usianya sekitar empat puluh tahun, berkacamata tanpa bingkai, dan mempunyai kebiasaan mengetuk ujung pulpen dua kali sebelum mengajukan pertanyaan.

Aisha pernah bekerja dengannya dalam tiga pemeriksaan. Ia tahu dua hal mengenai Surya: laki-laki itu tidak mudah dibohongi dan lebih tidak suka lagi dibuat menunggu.

“Tagihan yang dipisahkan itu,” katanya setelah duduk, “dasar pemisahannya apa?”

“Jenis klaim dan tingkat keterverifikasiannya,” jawab Aisha.

Surya mengetuk pulpen dua kali. “Bahasa manusianya?”

“Upah lembur bisa dibuktikan secara terpisah dari ketidaksesuaian material dan sewa alat.”

“Kalau paket tagihannya satu?”

“Kita minta vendor menerbitkan rincian dan dokumen koreksi.”

“Sudah diminta?”

“Pagi ini.”

“Sudah diterima?”

“Belum.”

“Berarti belum bisa dibayar.”

Aisha menahan napas sebelum menjawab. “Belum. Tetapi bisa diprioritaskan begitu koreksi diterima.”

Surya menutup map di hadapannya. “Kita periksa dulu.”

Di ujung meja, Jagat tidak mengatakan apa-apa. Sejak rapat dimulai, ia hanya mencatat pertanyaan dan menyerahkan dokumen ketika diminta. Tidak ada pensil di belakang telinganya pagi itu. Ia memakai pulpen hitam dan kemeja abu-abu yang tampaknya disetrika dengan niat serius.

Nisa telah menyiapkan helm baru untuk Surya. Helm itu terletak di kursi kosong, masih terbungkus plastik.

Aisha sengaja tidak melihat ke arah Jagat ketika menemukannya. Ia juga sengaja tidak memeriksa apakah laki-laki itu sedang menahan komentar tentang risiko kehilangan plastik.

“Mana bukti dua puluh enam pekerja?” tanya Surya.

Aisha menyerahkan satu bundel. “Daftar hadir resmi mencatat sembilan belas orang. Tujuh pekerja tambahan terkonfirmasi dari buku gerbang, dokumentasi pengecoran, catatan mandor, dan data pembayaran periode sebelumnya.”

“Pernyataan pekerja?”

“Sedang dikumpulkan.”

“Kenapa belum ada?”

Jagat menjawab, “Tiga orang baru masuk sif siang. Dua lainnya sedang bekerja di sisi timur. Saya tidak mau memanggil mereka satu-satu tanpa menjelaskan untuk apa tanda tangan mereka diperlukan.”

Surya menatapnya. “Saudara Jagat?”

“Betul.”

“Bisa diselesaikan sebelum tengah hari?”

“Bisa kalau mereka memahami isinya dan catatannya sesuai. Kalau Bapak ingin sekadar tujuh tanda tangan, waktunya lebih cepat.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aisha melirik Jagat. Wajah laki-laki itu tenang. Tidak menantang, tetapi juga tidak menarik kembali ucapannya.

Surya mengetuk pulpennya dua kali.

“Saya ingin dokumen yang bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

“Berarti kita menginginkan hal yang sama.”

Tidak ada senyum setelah itu, tetapi bahu Nisa turun sedikit. Aisha membuka halaman berikutnya dan melanjutkan penjelasan.

Selama dua jam, angka-angka berpindah dari layar ke kertas, dari kertas ke pertanyaan, lalu dari pertanyaan menjadi daftar kekurangan baru. Tujuh puluh tiga sak semen mulai menemukan jejaknya. Empat puluh sak terlihat jelas pada dokumentasi malam kedatangan. Dua puluh sak tercatat digunakan dua hari kemudian. Tiga belas sisanya masih bergantung pada catatan kapur dan ingatan orang-orang yang berada di Blok C.

Surya memberi tanda merah pada angka tiga belas.

“Ini tetap temuan.”

Aisha mengangguk. “Sampai ada bukti lain.”

Jagat memandang angka tersebut cukup lama, lalu mencatatnya tanpa membantah.

Menjelang zuhur, telepon Ujang berbunyi. Ia meminta izin keluar ruangan, tetapi beberapa detik kemudian kembali dengan wajah tegang.

“Pak Jagat, pekerja harian di luar tanya pembayaran.”

“Siapa saja?”

“Hampir semua regu pengecoran.”

Surya melihat arlojinya. “Kita belum selesai.”

“Saya temui sebentar,” kata Jagat.

“Pemeriksaan ini membutuhkan penanggung jawab lapangan.”

Aisha melihat melalui jendela. Di bawah kanopi seberang, belasan laki-laki berdiri masih mengenakan rompi dan helm. Mereka tidak tampak marah. Justru itu yang membuatnya lebih tidak nyaman. Orang yang marah biasanya masih berharap tuntutannya didengar. Orang-orang itu terlihat seperti sedang menghitung berapa lama mereka dapat menunggu.

“Saya ikut,” kata Aisha.

Surya mengangkat alis. “Untuk apa?”

“Karena rekomendasi pemisahan klaim berasal dari saya. Mereka berhak menerima penjelasan yang sama.”

“Kalau Saudari bicara sebelum dokumennya selesai, jangan menjanjikan pembayaran.”

“Saya tahu batas kewenangan saya.”

Jagat telah berdiri di dekat pintu. “Sepuluh menit.”

“Lima belas,” jawab Surya. “Setelah itu kita lanjut.”

* * *

Ada tujuh belas pekerja berkumpul di bawah kanopi. Sebagian duduk di atas balok kayu, sebagian berdiri dengan botol minum di tangan. Ketika Jagat datang bersama Aisha dan Ujang, percakapan mereka berhenti.

Seorang laki-laki bertubuh kurus maju. Namanya Wahyu, mandor pengecoran yang catatannya paling lengkap dibandingkan pengawas lain.

“Bagaimana, Pak?” tanyanya kepada Jagat. “Katanya masuk hari ini.”

Jagat berdiri di depan mereka tanpa mencari tempat yang lebih tinggi. “Saya tidak mau bohong. Belum ada persetujuan pembayaran.”

Lihat selengkapnya