Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #4

Rumah dengan Satu Penghuni dan Dua Pemilik

Ketika Aisha pulang pukul delapan malam, lampu teras mati, pintu depan tidak dikunci, dan suara televisi terdengar sampai ke halaman.

Tiga hal itu cukup membuatnya lupa bahwa sejak pagi ia hanya makan setengah nasi kotak dan dua biskuit rapat.

“Ibu?”

Tidak ada jawaban.

Ia mendorong pintu, melepas sepatu, lalu masuk sambil masih membawa tas laptop. Ruang tamu kosong. Televisi menayangkan sinetron dengan suara seorang perempuan menangis karena suaminya ternyata mempunyai keluarga kedua. Di atas meja terdapat segelas teh yang sudah tidak beruap.

“Ibu?” panggil Aisha lagi, lebih keras.

“Apa?”

Suara Ratih datang dari dapur.

Aisha menemukan ibunya berdiri di atas bangku plastik, berusaha menjangkau rak paling atas dengan ujung sapu.

Darah di wajah Aisha terasa turun sekaligus.

“Ibu sedang apa?”

Ratih menoleh. Bangku itu bergeser sedikit.

Aisha menahan diri untuk tidak maju secara refleks. “Jangan bergerak dulu. Turun pelan-pelan.”

“Ibu cuma mau ambil kotak biskuit.”

“Turun.”

“Sebentar lagi kena.”

“Kalau Ibu jatuh, yang kena bukan biskuit.”

Ratih mendecakkan lidah, tetapi menurunkan sapu. Ia berpegangan pada pinggir lemari lalu turun dengan hati-hati. Baru setelah kedua kaki ibunya menapak lantai, Aisha bernapas normal.

“Kotak biskuit kenapa ditaruh tinggi sekali?” tanya Ratih.

“Karena bulan lalu Ibu bilang sedang mengurangi gula dan meminta aku menyembunyikannya.”

“Menyembunyikan bukan berarti mengasingkan.”

Aisha meletakkan tas di kursi. “Kalau mau sesuatu, telepon aku.”

“Tadi ditelepon tidak diangkat.”

Aisha mengambil ponselnya. Ada enam panggilan tak terjawab. Empat dari Ratih, satu dari kantor, dan satu nomor tidak dikenal.

Ia menutup mata sesaat. Ponselnya dalam mode senyap sejak pemeriksaan sore.

“Maaf. Ada audit.”

“Kamu selalu ada sesuatu.”

“Ibu bisa menelepon Bu Mira.”

“Merepotkan adik sendiri untuk mengambil biskuit?”

“Lebih baik daripada jatuh sendiri untuk mengambil biskuit.”

Ratih menarik kursi dan duduk. Gerakannya tidak lagi marah, melainkan lambat. Aisha mengenali perubahan itu. Dalam beberapa detik, percakapan tentang bangku plastik akan berubah menjadi percakapan tentang usia, kesepian, dan anak yang tidak pernah berada di rumah.

“Kamu sudah makan?” tanya Ratih.

“Sudah.”

“Kapan?”

Aisha terdiam sepersekian detik terlalu lama.

Ratih menatapnya dengan kemenangan kecil. “Nasi belum disentuh. Ibu masak sayur asem.”

“Ibu tadi minum obat sore?”

Sekarang giliran Ratih terdiam.

Kemenangan berpindah tangan, tetapi tidak membuat siapa pun lebih senang.

Aisha membuka penanak nasi. Masih hangat. Ia mengambil dua piring, memanaskan sayur, lalu duduk berhadapan dengan ibunya. Ratih meminum obat lebih dahulu tanpa disuruh lagi.

Mereka makan dalam keheningan yang tidak benar-benar tenang. Televisi di ruang depan kembali memperdengarkan tangisan. Seseorang baru saja ditampar, dilihat dari efek suara yang terlalu bersih.

“Kenapa pintu tidak dikunci?” tanya Aisha.

“Ibu menunggu kamu.”

“Menunggu tidak harus membuka pintu.”

“Kalau dikunci, nanti kamu pikir Ibu sudah tidur.”

“Aku punya kunci.”

Ratih memisahkan biji melinjo dari sayurnya. “Dulu bapakmu selalu ketuk pintu tiga kali. Padahal dia juga punya kunci.”

Nama yang tidak disebut itu muncul begitu saja, duduk di antara mangkuk sambal dan botol kecap.

Aisha mengunyah perlahan. “Itu sudah lama.”

“Bukan berarti Ibu lupa.”

“Aku tidak bilang Ibu harus lupa.”

Ratih menatap pintu dapur. “Lampu terasnya mati sejak magrib.”

“Aku ganti besok.”

“Keran belakang bocor lagi.”

“Aku panggil tukang.”

“Pajak bumi bangunan juga datang.”

“Aku bayar.”

Jawaban-jawaban itu keluar begitu cepat hingga terdengar seperti seseorang sedang membacakan daftar tugas. Mungkin memang begitu. Hidup Aisha bersama ibunya terdiri atas banyak kata kerja: bayar, beli, antar, telepon, ingatkan, perbaiki.

Jarang ada kata yang berarti berhenti.

Ratih mendorong sebuah amplop cokelat dari ujung meja. “Bukan cuma tagihan.”

Aisha membuka amplop itu. Di dalamnya ada fotokopi surat pemberitahuan dari kelurahan mengenai pendataan bangunan dan rencana penataan jalan lingkungan. Tidak ada perintah pengosongan. Tidak ada keputusan pembebasan lahan. Namun gang di depan rumah mereka termasuk kawasan yang sedang dikaji untuk pelebaran.

“Ini masih pendataan awal,” kata Aisha.

“Tadi ada orang datang mengukur depan rumah.”

“Dari kelurahan?”

“Katanya.”

“Namanya siapa?”

“Tidak tahu.”

Lihat selengkapnya