Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #5

Anak Kesayangan yang Tak Boleh Memilih

Setiap Sabtu malam, keluarga Pradana melakukan panggilan video dengan susunan yang hampir selalu sama.

Lestari memegang ponsel terlalu dekat dengan wajah. Pramono duduk di belakangnya sambil mengeluhkan gambar yang bergoyang. Bayu dan istrinya muncul dari rumah mereka sendiri, biasanya bersama suara anak-anak yang berebut ingin menyapa. Nala bergabung paling akhir, lalu mengaku jaringan kampusnya buruk setiap kali ayah mereka mulai menanyakan skripsi.

Jagat biasanya menyimak sambil menyiapkan makan malam.

Malam itu ia sedang mengiris daun bawang ketika wajah ibunya memenuhi layar sampai hanya mata dan hidung yang terlihat.

“Kelihatan?” tanya Lestari.

“Kelihatan, Bu.”

“Jelas?”

“Sangat jelas. Saya bahkan bisa menghitung pori-pori Ibu.”

Ponsel menjauh seketika.

Dari belakang terdengar suara Pramono. “Makanya pakai dudukan yang Bapak belikan.”

“Dudukannya dipakai menyangga pintu dapur,” jawab Lestari.

“Itu bukan fungsinya.”

“Pintunya tidak menutup sendiri lagi. Berarti berfungsi.”

Jagat tertawa. Pada petak lain di layar, Bayu ikut tersenyum sambil menggendong putri bungsunya. Kotak Nala masih hitam dengan tulisan menghubungkan.

Inilah bagian yang sering sulit dijelaskan Jagat kepada orang lain. Rumahnya hangat. Di meja makan selalu ada tempat tambahan. Ibunya hafal makanan kesukaan setiap anak. Ayahnya dapat mengemudikan mobil semalaman untuk menjemput mereka tanpa sekali pun mengeluh lelah.

Pramono juga dapat mengubah kepedulian menjadi keputusan sebelum orang yang diperhatikan sempat membuka mulut.

“Kapan kamu pulang?” tanyanya setelah wajah Lestari akhirnya berada pada jarak normal.

Jagat memasukkan daun bawang ke dalam mangkuk telur. “Belum ada jadwal, Pak.”

“Bulan depan tanggal dua belas. Bayu kosong hari Minggu. Kita sekalian bicara pembagian tugas toko.”

Bayu menatap ke sisi lain layar. “Aku belum bilang kosong, Pak.”

“Kamu mengajar hari Minggu?”

“Tidak.”

“Berarti kosong.”

“Itu bukan definisi—”

“Jagat bisa ambil bus Jumat malam,” lanjut Pramono. “Sampai sini pagi. Senin subuh kembali.”

Jagat memecahkan dua telur terakhir. Satu serpihan cangkang jatuh ke dalam mangkuk.

“Proyek masuk tahap pemeriksaan, Pak. Saya belum tahu bisa meninggalkan lokasi atau tidak.”

“Pemeriksaan lagi?”

“Masih kelanjutan yang kemarin.”

“Kerja di tempat orang memang begitu. Urusanmu ikut jadwal mereka.” Pramono menarik kursinya mendekati ponsel. “Kalau pegang toko sendiri, kamu yang atur.”

Jagat mengambil serpihan cangkang dengan ujung sendok. Ia bisa menjelaskan bahwa toko itu bukan miliknya. Bahwa menjadi orang yang mengatur jadwal tidak otomatis membuat pekerjaan sesuai keinginan. Bahwa ia menyukai proyek—kekacauannya, orang-orangnya, dan benda yang perlahan berubah dari garis pada kertas menjadi ruang yang bisa dihuni.

Namun di layar, ibunya sedang memandangnya dengan tatapan yang sudah dikenalnya sejak kecil: jangan membuat Bapak tersinggung sebelum makan malam.

“Nanti saya cek jadwal,” katanya.

Pramono mengangguk seolah baru menerima persetujuan. “Bagus. Sekalian temui Pak Yoyok. Anaknya baru pulang dari Bandung.”

Pisau di tangan Jagat berhenti.

“Untuk apa?”

Lestari mendadak membetulkan taplak meja yang tidak terlihat oleh kamera. Bayu menunduk kepada putrinya. Bahkan kotak hitam milik Nala terasa mencurigakan.

“Kenalan saja,” kata Pramono. “Namanya Salma. Mengajar di sekolah swasta. Keluarganya jelas.”

“Pak.”

“Apa? Bapak tidak bilang langsung menikah.”

“Kalau maksud pertemuannya dikenalkan untuk pernikahan, saya perlu tahu. Salma juga perlu tahu apakah saya bersedia.”

Pramono mengernyit. “Makanya bertemu dulu.”

“Saya tidak mau datang kalau niat saya tidak ke sana.”

Suara yang keluar dari mulut Jagat lebih tegas daripada yang ia rencanakan. Ibunya berhenti merapikan apa pun. Bayu kini menatap layar sepenuhnya.

“Kamu sudah punya calon?” tanya Pramono.

“Tidak.”

Bayangan seorang perempuan berhelm putih melintas di kepala Jagat tanpa diminta. Ia menyingkirkannya sebelum sempat berubah menjadi sesuatu yang harus dijelaskan bahkan kepada dirinya sendiri.

“Kalau tidak punya, apa salahnya kenalan?”

“Salah kalau saya datang hanya supaya Bapak senang, sementara pihak sana mengira saya datang dengan kesungguhan.”

“Kamu selalu kebanyakan memikirkan hal yang belum terjadi.”

“Ini justru supaya tidak membuat sesuatu terjadi dengan cara yang salah.”

Hening turun ke layar.

Pada saat itulah Nala berhasil masuk.

“Assalamualaikum, keluarga yang penuh kedamaian.”

Tidak ada yang menjawab selama dua detik.

Nala memandangi wajah satu per satu. “Wah. Aku masuk di episode yang bagus.”

“Nala,” tegur Lestari.

“Waalaikumsalam,” kata Jagat, bersamaan dengan Bayu.

Pramono bersandar. “Kakakmu tidak mau dikenalkan dengan anak Pak Yoyok.”

Nala mengangguk bijak. “Apakah anak Pak Yoyok sudah diberi tahu kalau dia sedang jadi agenda rapat keluarga?”

“Nala,” kata tiga orang sekaligus.

“Apa? Hak informasi pihak terkait.”

Jagat menutup mulut dengan tangan agar tidak tertawa. Pada layar kecilnya, Bayu pura-pura batuk.

Pramono mengembuskan napas panjang. “Bapak cuma ingin membantu. Umur Jagat sudah tiga puluh tiga. Kerjanya pindah-pindah proyek. Hidup harus mulai jelas.”

“Saya setuju hidup harus jelas,” kata Jagat. “Karena itu saya bilang dengan jelas: saya tidak akan menemui Salma untuk tujuan perkenalan.”

Lihat selengkapnya