Hujan mulai turun pukul tiga lewat sebelas menit, tepat ketika Aisha sedang menjelaskan kepada direkturnya bahwa tidak ada keadaan darurat baru di Rumah Susun Sembada.
Pada pukul tiga lewat empat belas, Nisa mengirim foto air yang merembes dari langit-langit gudang administrasi.
Pukul tiga lewat enam belas, foto kedua datang. Tiga kardus dokumen telah dipindahkan ke atas meja. Kardus keempat tampak basah pada salah satu sisinya.
Pukul tiga lewat tujuh belas, Jagat menelepon.
“Mbak Aisha sedang di kantor?”
“Ya.”
“Bisa membuka salinan digital daftar sewa alat bulan September?”
Aisha menegakkan tubuh. “Kenapa?”
“Buku aslinya kehujanan.”
Ia memejamkan mata. “Seberapa basah?”
“Kalau saya bilang lembap, Mbak akan tetap datang untuk memastikan.”
“Betul.”
“Kalau saya bilang beberapa halaman mulai sulit dibaca, Mbak akan datang lebih cepat.”
Aisha sudah memasukkan pengisi daya ke dalam tas. “Pastikan tidak ada yang memisahkan halaman. Foto semuanya sebelum dipindahkan lagi. Jangan dijemur dengan panas langsung, jangan gunakan pengering rambut, dan jangan menulis ulang apa pun pada buku asli.”
Di ujung sambungan terdengar Jagat mengulang instruksi itu kepada orang-orang di sekitarnya.
“Dan Pak Jagat?”
“Ya?”
“Kali ini jangan buat kenyataan masuk ke tabel sambil berenang.”
Jagat diam sepersekian detik. “Saya ingin tertawa, tapi situasinya tidak mendukung.”
“Bagus. Berarti kita sepakat.”
Aisha menutup telepon dan berdiri. Direkturnya, Pak Hendra, menatap tas yang sudah berada di bahunya.
“Saya baru saja mendengar bagian tidak ada keadaan darurat,” katanya.
“Keadaan berubah setelah laporan dibuat.”
“Kamu mau kembali ke lokasi sekarang?”
“Dokumen sumber pemeriksaan sewa alat rusak. Kalau penanganannya salah, kita kehilangan jejak transaksi.”
Pak Hendra melihat hujan di luar jendela. “Bawa Ridwan.”
“Dia sudah di lokasi.”
“Surya?”
“Sedang memeriksa cabang lain.”
Pak Hendra mengangguk. “Jangan sendirian di kantor lapangan sampai malam.”
“Saya pastikan tim tetap ada.”
Aisha tidak pernah menyukai nasihat yang diberikan seolah ia tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Namun kalimat itu bukan larangan bekerja. Itu batas yang wajar, dan ia menerimanya tanpa perdebatan.
* * *
Perjalanan yang biasanya memakan waktu empat puluh menit berubah menjadi hampir dua jam. Hujan menutup kaca mobil, lampu rem membentang merah di jalan tol, dan Ratih menelepon dua kali sebelum Aisha sempat keluar dari kawasan kantor.
“Aku ke proyek lagi,” kata Aisha pada panggilan kedua. “Ada dokumen kena air.”
“Kamu mau menyelamatkan kertas saat hujan begini?”
“Bukan menyelamatkan kertas. Menyelamatkan bukti.”
“Bukti bisa sakit?”
“Tidak.”
“Kamu bisa.”
Aisha melihat deretan kendaraan yang nyaris tidak bergerak. “Aku bersama sopir kantor. Ridwan dan tim ada di lokasi. Kalau lewat pukul delapan, aku kabari lagi.”
“Pulang saja besok pagi.”
Saran itu begitu berbeda dari kebiasaan Ratih menanyakan jam pulang hingga Aisha sempat mengira ia salah dengar.
“Maksud Ibu?”
“Kalau banjir, jangan memaksa. Cari penginapan yang jelas, jangan sendirian, kirim alamat ke Ibu dan Bu Mira.”
Aisha memegang ponsel lebih erat. Ibunya masih khawatir, masih memberi tiga instruksi dalam satu tarikan napas, tetapi kali ini tidak mengubah kekhawatiran menjadi tuduhan.
“Iya, Bu.”
“Dan makan.”
“Sudah.”
“Kapan?”
Aisha melihat biskuit yang masih utuh di samping tas.
“Nanti aku makan.”
“Berarti belum.”
Sambungan berakhir setelah Aisha berjanji membeli makanan di jalan. Lima menit kemudian, pesan dari grup Operasi Keran Bocor masuk. Bu Mira mengirim foto Ratih meminum obat sore, disertai tulisan:
Subjek aman. Keran masih menjadi ancaman nasional.
Aisha akhirnya tersenyum sejak melihat kardus basah itu.