Satu minggu setelah dokumen proyek kehujanan, langit Bekasi kembali berwarna seperti dasar panci yang gosong.
Jagat memperhatikannya dari lantai tiga Blok B sambil memeriksa pemasangan pipa. Awan hitam bergerak dari barat, menelan cahaya sore sedikit demi sedikit. Di bawah, para pekerja mulai menutup tumpukan material dengan terpal tanpa menunggu instruksi.
Sistem baru mereka telah menghasilkan dua perubahan nyata.
Pertama, setiap pemindahan barang kini meninggalkan jejak yang bisa ditemukan tanpa memanggil tiga orang dan meminta mereka mengingat malam yang sama.
Kedua, semua kertas disimpan dalam plastik dengan pengabdian yang sebelumnya hanya diberikan kepada ponsel.
“Pak,” panggil Darto dari tangga. “Rapat rekonsiliasi sudah mulai.”
Jagat melihat jam tangannya. Pukul empat lewat sepuluh menit.
“Bu—Mbak Aisha sudah datang?”
Darto menyeringai. “Sudah. Dan beliau mencatat Bapak terlambat.”
“Saya baru empat menit.”
“Makanya saya naik. Sebelum empat menit berubah jadi temuan.”
Jagat mengikuti Darto turun.
Di kantor lapangan, Aisha duduk bersama Ridwan dan Nisa. Helm putih yang ukurannya tepat diletakkan di atas lemari pendek. Ia sedang memeriksa koreksi lokasi unit dari vendor sewa alat. Di layar, seluruh lingkaran penanda akhirnya berwarna hijau.
“Empat menit,” katanya tanpa mengangkat wajah.
“Saya tahu.”
“Bagus. Berarti jam kita sama.”
Jagat duduk di seberang meja. “Saya kira kita akan membahas sewa alat, bukan keterlambatan saya.”
“Keduanya berkaitan dengan waktu yang tidak dicatat dengan benar.”
Ridwan batuk untuk menutupi tawa. Nisa tidak berusaha.
Rapat berlangsung lebih singkat daripada dugaan Jagat. Koreksi vendor diterima. Penggunaan tiga belas sak semen tetap tidak dapat dibuktikan sehingga nilainya dipisahkan sebagai koreksi persediaan dan dibebankan melalui prosedur kehilangan administrasi, bukan ditulis seolah pemakaiannya sudah pasti. Jagat menerima keputusan itu.
Hal yang tidak terbukti tidak menjadi lebih benar hanya karena ia berharap demikian.
Aisha menutup laptop pada pukul lima kurang dua puluh.
“Formulir kendali sementara akan saya rekomendasikan sebagai prosedur proyek,” katanya. “Dengan dua perubahan: foto harus memperlihatkan nomor formulir dan material dalam bingkai yang sama, lalu salinan dipindahkan ke server pada akhir setiap sif.”
Ujang, yang baru masuk membawa daftar stok, berhenti di pintu. “Berarti tembok kapur pensiun, Mbak?”
“Terhormat dan tanpa pesangon.”
Jagat menoleh kepada Aisha.
Wajah perempuan itu tetap serius. Hanya matanya yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut disengaja.
“Pengaruh buruk siapa ini?” tanya Jagat.
Aisha memasukkan laptop ke tas. “Kucing berompi.”
Nisa menepuk meja satu kali. “Mandor kita berhasil membina orang kantor pusat.”
Guruh terdengar dari luar sebelum ada yang sempat menambahkan komentar. Beberapa detik kemudian, hujan jatuh begitu deras hingga atap kantor seperti dilempari ribuan kerikil.
Aisha melihat jendela. “Saya pulang sekarang sebelum jalan tergenang.”
Jagat tidak melarang. Ia membuka grup pemantauan lingkungan yang digunakan petugas keamanan dan warga sekitar. Foto pertama menunjukkan air sudah setinggi mata kaki di jalan keluar sisi timur.
“Jalur utama masih bisa lewat,” katanya. “Tapi sebaiknya cek dulu dengan sopir.”
Aisha menelepon. Sopir kantor sedang dalam perjalanan dari cabang, tertahan hampir tiga kilometer dari proyek. Ridwan membuka aplikasi lalu lintas. Warna merah tua memenuhi jalan di sekeliling mereka.
“Kalau dipaksakan sekarang, kita mungkin berhenti di jalan,” kata Ridwan.
Aisha menatap jam, hujan, kemudian ponselnya. Keputusan bergerak di wajahnya seperti hitungan yang sedang diselesaikan.
“Kita tunggu tiga puluh menit,” katanya. “Kalau air naik, kita pindah ke bangunan utama yang lantainya lebih tinggi.”
Bukan Jagat yang memutuskan untuknya. Ia hanya mengangguk dan meminta petugas keamanan memantau ketinggian air setiap sepuluh menit.
Orang-orang yang masih tertahan di kantor berjumlah sembilan: Aisha, Jagat, Nisa, Ridwan, Ujang, Darto, Wahyu, Eko, dan Pak Salim, petugas keamanan sif sore.
Pada pukul lima lewat tiga puluh, listrik padam.
Pendingin udara berhenti menggeram. Mesin pencetak mati di tengah tugas. Ruangan gelap selama dua detik sebelum lampu darurat menyala dengan warna pucat.
Ujang menatap mesin pencetak. “Akhirnya dia beristirahat juga.”
“Contoh yang baik untuk sebagian orang,” kata Aisha.
Kali ini semua orang menoleh kepada Jagat.
“Saya sudah mengambil pengganti istirahat,” protesnya.
Nisa mengangkat tangan. “Dua jam, Pak. Itu bukan istirahat. Itu izin mencuci baju.”
“Baju saya juga punya hak.”