Pada Senin pagi, Aisha menerima tiga hal yang tidak ia pesan.
Yang pertama adalah pesan dari kantor notaris Farid, meminta kepastian waktu untuk membicarakan rumah.
Yang kedua adalah hasil pemeriksaan tukang: rangka atap bagian belakang perlu diperbaiki, instalasi listrik di kamar depan harus diganti, dan angka paling bawah pada perkiraan biaya cukup besar untuk membuat Ratih menyebut tukang itu terlalu banyak menonton video renovasi.
Yang ketiga adalah dua belas kotak makan siang di meja rapat kantor proyek.
Aisha memandangi tumpukan itu. Setiap kotak ditempeli kertas kecil bertuliskan nama. Ada Ridwan, Nisa, Ujang, Darto, para pengawas, dirinya, dan beberapa staf yang dijadwalkan mengikuti rekonsiliasi siang.
Kotak miliknya bertuliskan:
AISHA — sambal terpisah. Tetap punya hak memilih keputusan buruk.
Di bawah kalimat itu terdapat nomor pesanan dan harga makanan.
Aisha mengangkat kertas tersebut. “Siapa yang memesan?”
Nisa menunjuk formulir yang ditempel di sisi kardus. “Pak Jagat. Tapi pakai kas konsumsi rapat. Daftar penerima sama bonnya ada di sana.”
“Kenapa dua belas?”
“Karena yang rapat dua belas orang.”
“Saya belum menyetujui konsumsi.”
“Kepala proyek sudah.”
Aisha membaca formulir itu. Jenis kegiatan, jumlah peserta, harga satuan, nama warung, bukti pembayaran, dan persetujuan Pak Hendra tercantum lengkap. Tidak ada celah yang bisa dipakai untuk mengembalikan makanan tanpa terlihat seperti seseorang yang sedang bertengkar dengan nasi ayam.
Jagat masuk membawa dua botol air mineral besar. “Makanannya sudah datang?”
“Sudah.”
“Lengkap?”
“Secara administratif, menyebalkan sekali.”
Jagat meletakkan botol di meja konsumsi. “Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Saya menerima sesuai niat pemberi.”
“Konsumsi rapat biasanya dipesan kalau rapat melewati jam makan.”
“Rapat kita dimulai setengah dua belas dan selesai sesuai kehendak dokumen. Secara historis, dokumen tidak peduli jam makan.”
Nisa menundukkan wajah, tetapi bahunya bergerak.
Aisha melihat kembali daftar penerima. Tidak ada perlakuan khusus untuk dirinya selain pemisahan sambal. Harga semua kotak sama. Pemesanan telah disetujui sebelum makanan tiba. Bahkan tulisan tangan pada label tampaknya dibuat Nisa, bukan Jagat.
Semua pintu untuk merasa keberatan telah ditutup dengan tertib.
“Lain kali,” kata Aisha, “jadwal makan dicantumkan di agenda rapat.”
Jagat mengangguk. “Baik.”
“Dan jangan menulis komentar tentang keputusan buruk pada dokumen konsumsi.”
“Itu bukan dokumen. Itu label.”
“Label bisa menjadi bukti.”
“Kalau begitu saya ingin dicatat bahwa sambalnya benar-benar terpisah.”
Aisha meletakkan label di samping laptop. Ia tidak membuangnya.
* * *
Rapat dimulai bersama Pak Hendra melalui sambungan video. Agenda utamanya adalah evaluasi sistem kendali material yang telah diuji selama dua minggu.
Nisa mempresentasikan hasilnya. Waktu pencatatan rata-rata kurang dari dua menit. Semua pemindahan material memiliki foto dan nomor formulir. Empat kesalahan lokasi ditemukan sebelum akhir sif, bukan berminggu-minggu kemudian. Tidak ada formulir yang hilang meskipun dua lembar sempat terkena percikan air.
“Dimasukkan plastik,” kata Ujang bangga, seolah timnya baru menemukan teknologi penting.
Pak Hendra mengangguk dari layar. “Siapa yang menyusun formulirnya?”
Nisa menoleh kepada Aisha.
Aisha membuka dokumen rekomendasi. “Rancangan awal dibuat bersama di Blok C. Kebutuhan datanya dari saya, alur penerapannya dari tim lapangan. Nisa membuat bentuk akhirnya dan mengelola penyimpanan digital. Jagat menguji prosedurnya bersama para pengawas.”
Jagat yang duduk di sisi lain meja mengangkat wajah.
Pak Hendra mencatat sesuatu. “Kalau diterapkan ke proyek lain, siapa yang bisa melatih?”
“Nisa untuk administrasi,” jawab Aisha. “Jagat untuk pelaksanaan lapangan. Saya menangani standar pengendaliannya.”
Tidak ada keraguan dalam suaranya. Pembagian itu memang sesuai pekerjaan yang dilakukan masing-masing orang.