Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #9

Dua Kotak Obat

Jagat pertama kali melihat dua kotak obat itu saat Aisha mengosongkan isi tasnya di meja rapat.

Bukan karena ia berniat memperhatikan barang-barang perempuan tersebut. Aisha sendiri yang membalik tasnya setelah mencari penyimpanan data berwarna hitam yang tidak kunjung ditemukan.

Sebuah dompet, dua pulpen, pengisi daya, buku catatan, payung lipat, mukena, tiga lembar tanda terima, satu label nasi kotak, dan dua wadah obat jatuh di atas meja.

Yang satu berwarna biru dan ditempeli tulisan IBU.

Yang lain berwarna bening tanpa nama.

Nisa, Ridwan, dan dua staf dari proyek tetangga masih berada di ruangan. Mereka sedang mempersiapkan pelatihan pertama sistem kendali material yang dijadwalkan mulai pukul sembilan.

Aisha menemukan penyimpanan data itu terselip di saku samping tas.

“Tidak ada yang melihat,” katanya sambil memasukkan barang-barangnya kembali.

“Saya melihat payung,” kata Jagat. “Kemajuan besar.”

Aisha menatapnya. “Sejak kejadian terakhir, payung masuk daftar perlengkapan wajib.”

“Disimpan di tas, bukan mobil?”

“Prosedur sudah diperbaiki.”

Jagat tersenyum, tetapi perhatiannya kembali kepada wadah bening yang tertinggal di dekat laptop. Di dalamnya terdapat dua tablet penurun asam lambung, vitamin, dan obat pereda nyeri. Tidak ada satu pun yang menunjukkan penyakit serius. Namun keberadaan dua kotak itu menjelaskan sesuatu yang sebelumnya hanya ia lihat dalam potongan-potongan kecil.

Aisha tidak sekadar mengingat obat ibunya.

Ia membawa kebutuhan dua orang setiap hari, lalu sering lupa yang mana miliknya sendiri.

Ponsel Aisha berbunyi sebelum Jagat sempat mengalihkan pandangan. Nama Bu Mira muncul di layar.

Aisha mengangkat panggilan. “Iya, Bi?”

Suaranya langsung berubah hati-hati.

“Kapan?”

Ia berdiri.

“Tekanannya berapa?”

Jagat mengambil lembar agenda dari depan Aisha dan memberi tanda kepada Nisa agar persiapan dilanjutkan. Ia tidak mendengar suara dari seberang, tetapi wajah Aisha cukup menjelaskan bahwa angka yang disebutkan bukan angka yang ingin ia dengar.

“Bawa ke klinik sekarang,” kata Aisha. “Jangan tunggu aku sampai rumah.”

Jeda.

“Aku menyusul.”

Ia menutup telepon lalu membuka aplikasi kendaraan. Jarinya bergerak terlalu cepat dan dua kali menekan alamat yang salah.

“Tekanan darah Ibu naik,” katanya kepada siapa pun yang perlu tahu. “Bu Mira mau mengantar ke klinik, tapi Ibu tidak mau berangkat kalau aku belum datang.”

“Pergilah,” kata Nisa.

Aisha melihat layar presentasi. “Pelatihan mulai dua puluh menit lagi.”

“Saya bisa bawakan bagian administrasi,” ujar Nisa.

“Standar kendalinya belum pernah kamu presentasikan.”

“Bisa saya jelaskan dari panduan, lalu pertanyaan kebijakan dikumpulkan.”

Jagat membuka agenda. “Bagian lapangan tetap saya bawakan. Ridwan bisa mencatat pertanyaan yang belum terjawab.”

Aisha menggeleng. “Peserta datang dari proyek lain. Kita tidak bisa mengubah susunan lima belas menit sebelum mulai.”

“Kita bisa,” kata Jagat. “Yang tidak bisa adalah berpura-pura tidak ada perubahan.”

Aisha memandangnya. Ada penolakan yang hampir otomatis di sana, seperti pintu yang selalu menutup sebelum orang sempat mengetuk.

Jagat tidak mengambil tasnya atau memesan kendaraan untuknya. Ia hanya memutar agenda agar dapat dibaca semua orang.

“Ada dua pilihan,” katanya. “Pelatihan tetap berlangsung dengan Nisa dan saya. Bagian Mbak direkam ulang atau dijadwalkan sesi tanya jawab daring besok. Pilihan kedua, seluruh pelatihan ditunda dan peserta diberi tahu sekarang. Keduanya bisa dipertanggungjawabkan.”

“Kalau tetap berlangsung, Nisa mendapat pekerjaan tambahan.”

Nisa menyahut, “Saya bersedia kalau sesi saya diganti dengan satu hari kerja dari rumah untuk menyelesaikan laporan.”

Aisha beralih kepada Jagat. “Dan pekerjaan Anda di lapangan?”

“Darto sudah memegang inspeksi pagi. Saya memang dijadwalkan di pelatihan sampai zuhur.”

“Ridwan?”

“Catatan rapat bisa saya kerjakan,” jawab Ridwan. “Laporan harian saya pindahkan setelah makan siang.”

Aisha masih berdiri di tempat yang sama. “Saya tidak mau semua orang menyesuaikan hidup karena urusan rumah saya.”

Lihat selengkapnya