Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #10

Gambar yang Tidak Pernah Ditandatangani

Aisha menemukan gambar-gambar itu karena mesin pencetak kehabisan kertas.

Pada Jumat sore, ia sedang menunggu halaman terakhir panduan kendali material ketika lampu merah berkedip dan layar kecil menampilkan peringatan yang sudah dipahami semua orang tanpa perlu membaca petunjuk.

“Nisa, kertas cadangannya di mana?” tanyanya.

“Lemari bawah, Mbak. Sebelah map keselamatan.”

Aisha membuka lemari yang dimaksud. Dua rim kertas berada di bagian belakang, tertutup sebuah tabung gambar, rompi cadangan, dan map hitam tanpa label.

Ia memindahkan tabung itu. Map hitam terjatuh, terbuka di lantai, dan menghamburkan belasan lembar kertas.

Aisha berjongkok untuk mengumpulkannya.

Lembar pertama menampilkan sketsa kantor lapangan mereka. Bukan gambar teknik dengan garis kaku dan ukuran, melainkan ilustrasi tinta yang menangkap bangunan semipermanen itu secara ganjil: pendingin udara digambar seperti binatang tua yang kehabisan napas, mesin pencetak mengeluarkan lembaran tanpa akhir, dan kucing berompi duduk di kursi kepala proyek.

Di sudut bawah tidak ada nama. Hanya tanggal, empat bulan lalu.

Lembar kedua menggambarkan para pekerja memasang tulangan pada pagi hari. Bayangan mereka memanjang di lantai beton. Detail helm, sepatu, dan jaring pengaman dibuat teliti, tetapi wajah-wajahnya hanya berupa beberapa garis sederhana.

Pada lembar ketiga, seorang pedagang kopi mendorong gerobak di depan pagar proyek. Pada lembar keempat, hujan jatuh di sela rangka bangunan. Pada lembar kelima, tangan-tangan pekerja memegang gambar konstruksi—bukan bersentuhan satu sama lain, melainkan bertemu pada garis bangunan yang sama.

“Sedang mencari kertas atau membuka pameran?”

Aisha menoleh.

Jagat berdiri di pintu bersama Nisa dan Darto. Sepatu mereka berdebu selepas inspeksi. Untuk pertama kalinya sejak Aisha mengenalnya, Jagat tampak sungguh-sungguh terkejut.

“Ini milik Anda?” tanya Aisha.

Jagat masuk, tetapi berhenti di sisi lain meja. “Sepertinya map itu menjawab pertanyaan tersebut.”

“Tidak ada nama.”

“Itu membantu saya menyangkal.”

Nisa mendekat satu langkah. “Pak, ini yang sering Bapak gambar waktu istirahat?”

“Tidak sering.”

Darto melihat ilustrasi kucing di kursi kepala proyek. “Ini bisa jadi logo perusahaan.”

“Tidak bisa,” kata Aisha. “Dia tidak punya nomor induk pegawai.”

Jagat menatapnya, lalu gambar di tangannya. Rasa terkejut di wajahnya berubah menjadi senyum singkat, tetapi tidak sepenuhnya nyaman.

Aisha mengenali ketidaknyamanan itu. Bukan malu karena hasilnya buruk. Lebih mirip seseorang yang mendapati bagian pribadinya berada di ruang yang tidak pernah ia pilih untuk membukanya.

Ia meletakkan seluruh kertas di atas meja tanpa membalik lembar berikutnya.

“Maaf. Mapnya jatuh ketika saya mengambil kertas.”

“Tidak apa-apa.”

“Saya melihat lima lembar sebelum tahu isinya.”

Jagat mengangguk. “Baik.”

Aisha tidak mengatakan gambar-gambarnya bagus, meskipun memang bagus. Pujian tanpa izin kadang-kadang hanya cara lain untuk terus melihat sesuatu yang pemiliknya ingin simpan.

“Nisa,” katanya, “tolong ambil kertas untuk mesin pencetak.”

Nisa memahami isyarat itu. Ia mengambil dua rim bersama Darto, lalu keduanya keluar untuk mengisi baki kertas.

Aisha tetap berdiri di tempatnya. “Saya perlu menanyakan sesuatu tentang gambar ini. Tapi kalau Anda tidak ingin membahasnya, saya kembalikan sekarang.”

Jagat memandang map hitam itu. “Tanyakan.”

“Apakah Anda membuat ilustrasi petunjuk kerja juga?”

“Kadang.”

“Boleh saya lihat yang memang dibuat untuk dibaca orang lain?”

Pertanyaan itu tampaknya tidak diduga Jagat. Ia menarik satu kursi, duduk di seberang meja, lalu memilih empat lembar dari bagian belakang map. Ia meletakkannya pada permukaan netral di antara mereka.

Ada urutan memasang pelindung tepi lantai, cara memeriksa kait pengaman, jalur pemindahan material, dan langkah menghentikan pompa darurat. Gambar-gambar itu sederhana tetapi tepat. Anak panahnya jelas. Bagian berbahaya diberi arsiran merah. Sosok pekerja digambar dalam posisi yang mudah ditiru.

“Ini dipakai untuk pengarahan pagi?” tanya Aisha.

“Untuk pekerja baru atau yang kesulitan membaca petunjuk panjang. Bukan pengganti pengarahan keselamatan.”

“Siapa yang menyetujui?”

“Pengawas keselamatan memeriksa isinya.”

“Kenapa tidak dimasukkan dalam panduan resmi?”

Jagat bersandar. “Karena itu cuma gambar bantu.”

“Siapa bilang cuma?”

“Bapak saya, dulu.”

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Jagat mengalihkan pandangan ke jendela.

Di luar, suara gerinda terdengar sebentar lalu berhenti. Nisa dan Darto belum kembali, tetapi pintu ruangan tetap terbuka. Para staf lalu-lalang di koridor.

Aisha tidak meminta Jagat menjelaskan. Ia menunggu.

“Waktu sekolah saya suka menggambar bangunan,” lanjut Jagat akhirnya. “Bukan hanya tampaknya. Saya suka membayangkan bagaimana orang bergerak di dalamnya, di mana cahaya masuk, dan kenapa satu ruang terasa nyaman sementara ruang lain tidak.”

Lihat selengkapnya