Gosip itu tiba kepada Aisha dalam bentuk kertas macet.
Ia sedang berada di kantor cabang untuk mencetak dua puluh salinan panduan kendali material ketika mesin fotokopi berhenti pada halaman tujuh belas. Layar menampilkan gambar penutup samping yang harus dibuka, tetapi bagian tersebut menolak bergerak seolah mesin itu juga mempunyai batas pribadi.
Aisha sedang mencari petugas administrasi ketika mendengar dua suara dari ruang arsip sebelah.
“Yang ilustrasi itu, kan?”
“Iya. Katanya sekarang ke mana-mana berdua.”
“Pantas orang lapangan bisa masuk halaman kredit.”
Tawa kecil menyusul.
Aisha berdiri di balik rak kertas dengan satu bundel panduan di tangan. Suara pertama milik Reni dari bagian pengadaan. Yang kedua milik staf yang baru beberapa kali ia temui.
“Bu Aisha kelihatannya galak begitu,” lanjut Reni. “Ternyata kalau sudah cocok sama orang, bisa juga kasih jalan.”
“Jagat juga perhatian sekali. Makanan dibedakan, gambar dimasukkan panduan. Lengkap.”
“Siapa tahu setelah proyek selesai—”
Aisha melangkah masuk.
Kedua perempuan itu berhenti. Reni masih memegang map terbuka, sementara rekannya berdiri di dekat lemari arsip dengan wajah orang yang baru menyadari dinding memiliki telinga.
“Setelah proyek selesai, apa?” tanya Aisha.
Tidak ada jawaban.
Aisha meletakkan bundel panduan di meja. Detak jantungnya cepat, tetapi suaranya tetap datar.
“Kalau ada dugaan konflik kepentingan dalam penyusunan panduan, sampaikan melalui atasan atau kanal kepatuhan. Sertakan keputusan mana yang dianggap tidak wajar dan buktinya.”
Reni menelan ludah. “Bukan begitu, Mbak. Kami cuma bercanda.”
“Candaan Anda menyebut kredit pekerjaan diberikan karena kedekatan pribadi.”
“Kami tidak bermaksud menuduh.”
“Kalau begitu, jangan menggunakan kalimat yang bentuknya tuduhan.”
Perempuan yang satu lagi menunduk. Reni merapatkan map ke dada.
“Maaf, Mbak.”
Aisha dapat meminta nama keduanya dicatat. Ia dapat mengirim surel resmi dan membuat persoalan itu bergerak melalui jalur disiplin. Namun rasa malu bukan bukti bahwa mereka memahami kerusakannya, dan kekuasaan Aisha atas laporan proyek membuat teguran formal dari dirinya sendiri mudah terlihat sebagai pembungkaman.
“Panduan itu punya catatan kontribusi dan riwayat persetujuan,” katanya. “Silakan periksa kalau pekerjaan kalian memerlukannya. Kalau tidak, hentikan pembicaraan ini.”
“Iya, Mbak.”
Aisha kembali ke mesin fotokopi.
Kertasnya masih macet.
Ia membuka penutup dengan tekanan lebih kuat daripada yang diperlukan.
* * *
Pada pukul sebelas, Aisha mengadakan rapat singkat bersama Pak Hendra, Surya, Nisa, dan Jagat. Ia tidak mengundang Reni. Tujuan pertemuan bukan mengadili percakapan yang didengarnya, melainkan memeriksa apakah proses mereka meninggalkan ruang bagi dugaan perlakuan istimewa.
Pintu ruang rapat terbuka. Staf lain lalu-lalang di koridor.
“Saya mendengar komentar bahwa kredit dan tugas pelatihan diberikan berdasarkan kedekatan pribadi,” kata Aisha. “Nama Jagat disebut. Nama saya juga.”
Nisa langsung menegakkan tubuh. Jagat tidak bergerak, tetapi pulpennya berhenti di atas buku catatan.
Pak Hendra mengerutkan dahi. “Siapa yang mengatakan?”
“Untuk saat ini, saya tidak ingin rapat ini menjadi pemeriksaan orang. Saya ingin prosesnya diperiksa.”
Surya membuka panduan. “Kontribusinya terdokumentasi. Persetujuan penggunaan gambar ada. Pengalihan jam kerja disetujui Darto dan kepala proyek. Secara audit, jejaknya jelas.”
“Secara audit,” ulang Aisha. “Belum tentu secara persepsi.”
Jagat akhirnya berbicara. “Apakah ada keputusan yang perlu dibatalkan?”
Aisha menatapnya. “Tidak ada keputusan yang salah hanya karena digosipkan.”
“Lalu apa yang perlu berubah?”
Pertanyaan itu profesional. Nada suaranya juga. Aisha tetap mendengar sesuatu yang lain di bawahnya—kesiapan Jagat untuk mundur jika keberadaannya merugikan nama Aisha.
Ia tidak ingin dilindungi dengan cara menghapus pekerjaan yang memang pantas diakui.
“Koordinasi panduan selama ini terlalu banyak bergantung pada percakapan langsung di lokasi,” jawabnya. “Mulai hari ini, semua permintaan revisi, keputusan ilustrasi, dan jadwal pelatihan masuk ke grup proyek atau surel bersama.”
Nisa mengangguk. “Saya bisa menjadi pengelola daftar revisi.”