Penghentian proyek diumumkan pada hari Kamis, pukul sepuluh lewat tiga puluh dua menit, ketika seratus delapan puluh pekerja sedang berada di lokasi dan truk beton sudah dijadwalkan datang selepas zuhur.
Bukan karena hasil audit.
Bukan karena tiga belas sak semen.
Bukan pula karena satu orang melakukan kesalahan besar yang dapat dilingkari dengan tinta merah.
Pendanaan tahap berikutnya ditunda setelah mitra investasi menarik komitmen. Dua proyek perusahaan lain mengalami hal serupa. Kantor pusat memutuskan menghentikan pekerjaan nonpengamanan selama enam minggu sambil meninjau arus kas, kontrak vendor, dan kemungkinan restrukturisasi.
Informasi itu dikirim melalui surel pukul sepuluh lewat dua puluh delapan.
Empat menit kemudian, foto tangkapan layarnya sudah beredar di grup pekerja.
Jagat membaca pengumuman tersebut di depan ruang penyimpanan alat. Kalimat-kalimatnya bersih dan resmi: penyesuaian sementara, optimalisasi sumber daya, evaluasi keberlanjutan. Tidak satu pun menyebut apa yang paling ingin diketahui orang-orang di sekelilingnya.
Apakah besok mereka masih bekerja?
Apakah pekerjaan hari ini dibayar?
Apakah berhenti sementara berarti dipanggil kembali atau hanya cara yang lebih sopan untuk menyuruh mereka pulang?
“Pak?” Darto berdiri di sampingnya. “Truk beton bagaimana?”
Jagat membaca lampiran operasional. “Batalkan. Kita hanya selesaikan pengamanan tulangan yang terbuka, tutup material, dan kosongkan area berisiko.”
“Pekerja sif malam?”
“Jangan dipanggil sebelum ada kepastian.”
Ujang datang dari arah gudang dengan napas tersengal. “Orang-orang sudah kumpul di kantor, Pak. Katanya proyek tutup.”
“Bukan tutup. Dihentikan sementara.”
“Bedanya apa buat orang yang besok tidak masuk?”
Jagat menatapnya. Ujang tidak sedang menantang. Ia sedang meminta bahasa yang dapat dibawa pulang.
“Untuk besok, mungkin tidak ada bedanya,” kata Jagat. “Untuk sesudahnya, kita belum tahu.”
Ia menelepon Pak Reza. Tidak diangkat. Panggilan kedua dialihkan. Panggilan kepada bagian SDM dijawab staf yang hanya dapat membacakan isi surat. Pak Hendra mengatakan rapat penjelasan akan berlangsung pukul dua, dengan manajemen proyek, pengadaan, keuangan, dan perwakilan vendor.
“Orang-orang tidak bisa menunggu sampai pukul dua tanpa penjelasan,” kata Jagat.
“Jangan memberi keputusan sebelum manajemen bicara,” jawab Pak Hendra.
“Saya tidak akan memberi keputusan. Saya akan mengatakan apa yang kita tahu.”
Pak Hendra terdiam sejenak. “Pastikan jelas mana fakta dan mana yang belum pasti.”
“Itu yang akan saya lakukan.”
Jagat menutup telepon dan berjalan menuju kantor lapangan.
Di bawah kanopi, puluhan pekerja sudah berkumpul. Sebagian masih membawa alat. Sebagian memegang ponsel dengan tangkapan layar yang sama. Wahyu dan Eko berdiri dekat pintu, sementara Pak Salim berusaha menjaga jalan masuk tetap terbuka.
Jagat tidak naik ke kursi atau meja. Ia berdiri di anak tangga paling bawah agar wajahnya terlihat tanpa menempatkan dirinya terlalu jauh di atas mereka.
“Saya akan sampaikan yang sudah pasti dulu,” katanya. “Mulai hari ini, pekerjaan produksi dihentikan sementara. Hari ini tetap dihitung sebagai hari kerja. Pekerjaan sampai jam penghentian dan pekerjaan pengamanan setelahnya wajib dicatat.”
“Besok bagaimana, Pak?” seseorang langsung bertanya.
“Belum ada panggilan kerja besok, kecuali tim pengamanan yang namanya ditetapkan setelah rapat siang.”
“Berapa lama berhenti?”
“Surat menyebut enam minggu untuk peninjauan. Itu bukan janji proyek pasti berjalan lagi setelah enam minggu.”
Suara-suara muncul bersamaan.
“Kontrak kami bagaimana?”
“Gaji minggu ini?”
“Alat pribadi boleh dibawa sekarang?”
“Kalau disuruh pulang, ongkosnya siapa?”
Jagat mengangkat tangan. “Saya belum punya semua jawaban. Rapat manajemen pukul dua. Sebelum itu, kita catat pertanyaan kalian dan status setiap regu. Jangan tanda tangani surat pengakhiran, pengunduran diri, atau kuitansi yang belum kalian pahami. Kalau ada dokumen dibagikan, baca dulu. Minta salinan.”
Wahyu maju. “Pak sendiri masih kerja?”
Pertanyaan itu membuat percakapan berhenti.
Jagat dapat mengatakan kontraknya masih berlaku. Dapat pula mengatakan ia akan memperjuangkan semua orang. Kalimat kedua akan terdengar lebih indah, tetapi ia tidak mempunyai kuasa untuk menepatinya.
“Kontrak saya belum berakhir hari ini,” jawabnya. “Sesudah peninjauan, saya belum tahu. Jadi saya tidak akan berpura-pura berdiri di tempat yang lebih aman dari kalian.”
Seorang pekerja di belakang berkata, “Kalau Pak Jagat saja tidak tahu, kami tanya siapa?”
Jagat merasakan berat kalimat itu. Ia mengenal sebagian orang di sana bertahun-tahun. Mengetahui nama anak mereka, kampung halaman, dan siapa yang selalu mengeluh saat menu makan siang berisi ikan. Kedekatan itu tidak memberinya pekerjaan untuk dibagikan.
“Untuk status kontrak, kita tanya vendor dan SDM. Untuk upah yang sudah dikerjakan, kita kumpulkan bukti sekarang. Untuk hak lain, saya minta perwakilan legal menjelaskan tertulis. Saya akan tetap menyampaikan kabar, termasuk kalau kabarnya belum bagus. Tetapi saya tidak akan menjanjikan apa yang bukan keputusan saya.”
Wajah-wajah di hadapannya tidak menjadi lega. Kejujuran kadang-kadang hanya mencegah luka bertambah, bukan menghilangkan rasa sakitnya.
Jagat meminta setiap regu memilih satu perwakilan. Pertanyaan dikumpulkan. Nama, jam kerja, status alat, dan pekerjaan terakhir dicatat. Sistem yang dulu mereka bangun untuk mengikuti perpindahan semen kini dipakai melacak orang-orang yang mungkin harus meninggalkan lokasi.
Di sudut kantor, foto kucing berompi masih tergantung di dinding.
Tidak seorang pun menertawakannya.
* * *
Aisha menerima kabar penghentian itu ketika sedang duduk di ruang tunggu kantor notaris bersama Ratih dan Bu Mira.
Undangan resmi akhirnya datang tiga hari sebelumnya. Pokok pembicaraannya jelas: Farid bermaksud melepaskan bagiannya atas rumah melalui penyelesaian harta bersama, dengan beberapa syarat administratif yang belum dirinci. Ratih setuju hadir hanya setelah Bu Mira menyatakan akan ikut dan pertemuan dilakukan tanpa Farid datang langsung.
Mereka belum sempat dipanggil masuk ketika grup proyek dipenuhi pesan.
Pekerjaan produksi dihentikan sementara.
Mohon seluruh verifikasi tagihan terbuka diprioritaskan.
Daftar personel terdampak menyusul.
Aisha membaca surat resmi yang dilampirkan. Dadanya mengencang pada bagian penyesuaian tenaga kerja berdasarkan kebutuhan pengamanan dan penyelesaian administrasi.
Jagat termasuk tenaga kontrak.
Nisa juga.
Darto, Ujang, Wahyu, Eko, dan sebagian besar orang yang selama berbulan-bulan berubah dari nama di laporan menjadi suara, kebiasaan, dan wajah juga termasuk di dalamnya.
“Ada apa?” tanya Bu Mira.
“Proyek dihentikan sementara.”
Ratih merapatkan tas ke pangkuannya. “Kamu harus ke sana?”
Aisha hampir menjawab iya. Refleks lama: sesuatu terjadi, maka ia harus bangkit, mengurus, dan berada di pusatnya.
Ia memeriksa undangan rapat proyek. Pukul dua, dapat diikuti melalui video. Pak Hendra telah meminta dirinya menyiapkan posisi tagihan serta daftar pembayaran yang masih terbuka. Semua datanya berada di penyimpanan awan.
Pertemuan notaris dijadwalkan mulai sepuluh menit lagi. Ratih duduk di sebelahnya dengan wajah pucat dan kedua tangan saling menekan.
“Aku ikut rapatnya dari sini setelah pertemuan,” kata Aisha. “Kalau perlu datang ke lokasi, aku berangkat sesudahnya.”