Pada hari terakhir Jagat di Sembada, ia datang sebelum matahari terbit dan menemukan proyek itu sudah belajar hidup tanpanya.
Lampu keamanan menyala di jalur utama. Pompa pengendali genangan bekerja otomatis. Pak Salim mencatat kendaraan yang masuk pada buku gerbang. Di ruang administrasi, Nisa telah menyiapkan daftar serah terima tanpa menunggu diperintah.
Tidak ada keadaan darurat.
Tidak ada telepon tengah malam.
Tidak ada semen hilang, arsip basah, atau mesin pencetak yang tiba-tiba merasa mempunyai kebebasan memilih.
Jagat seharusnya lega.
Ia justru berdiri beberapa detik di depan kantor lapangan, memandangi foto kucing berompi yang masih tergantung pada dinding di dalam. Ruangan itu pernah terasa terlalu kecil untuk semua masalah mereka. Pagi itu, dengan sebagian kursi sudah dipindahkan dan kardus-kardus arsip berjajar di dekat pintu, ruangan tersebut tampak seperti seseorang yang sedang berkemas tanpa ingin terlihat sedih.
“Pagi, Pak.”
Nisa datang membawa dua kantong sarapan dan sebuah map biru. “Saya kira Bapak akan terlambat pada hari terakhir supaya konsisten.”
“Saya ingin memberi kenangan yang membingungkan.”
“Tidak berhasil. Saya sudah mencatat jam datang.”
Jagat melihat jam dinding. “Kamu terlalu lama bekerja dengan Mbak Aisha.”
Nisa meletakkan sarapan di meja bersama. “Itu pujian?”
“Peringatan.”
Darto tiba beberapa menit kemudian, disusul Ujang dan enam teknisi yang masih bertugas menyelesaikan pengamanan. Mereka sarapan bersama sebelum pengarahan terakhir. Tidak ada pidato. Jagat membagi tugas, mengulang titik yang harus diperiksa, lalu mengingatkan bahwa setiap kunci dan dokumen harus diserahkan kepada nama yang tercatat—bukan ditinggalkan di meja dengan pesan singkat.
“Pak,” kata Ujang, “kalau foto mandor pengawas diserahkan ke siapa?”
Semua menoleh kepada kucing di dinding.
“Masuk inventaris benda berbahaya,” jawab Jagat.
“Bahaya apa?”
“Menurunkan produktivitas karena terlalu sering dijadikan alasan.”
Nisa membuka daftar aset. “Tidak ada kolom untuk tingkat kelucuan.”
“Tambahkan pada catatan kondisi.”
Ujang mengangguk serius. “Kondisi baik, kewibawaan terjaga.”
Tawa mereka tidak besar, tetapi cukup untuk membuat kantor itu terdengar seperti dirinya sendiri sekali lagi.
Setelah pengarahan, Jagat memulai pemeriksaan terakhir dari Blok C. Ia berjalan bersama Darto melalui gudang sementara, jalur evakuasi, ruang pompa, dan lantai kerja yang dahulu menyimpan tujuh puluh tiga sak semen tanpa cerita yang lengkap.
Garis kapur di dinding sudah dibersihkan. Sebagai gantinya, papan formulir tergantung di dekat pintu. Setiap lembar diberi nomor, dilindungi plastik, dan difoto sesuai prosedur.
“Kalau proyek mulai lagi, sistemnya tetap dipakai?” tanya Jagat.
“Selama belum ada instruksi baru,” jawab Darto. “Nisa sudah masukkan panduan ke berkas serah terima.”
“Mandor pengganti sudah dilatih?”
“Sudah. Dua kali. Yang pertama dia masih foto formulirnya saja tanpa material.”
“Yang kedua?”
“Materialnya masuk, nomor formulir terpotong.”
Jagat menatap Darto.
“Yang ketiga benar,” Darto menambahkan.
“Berarti dilatih tiga kali.”
“Dua kali pelatihan, satu kali teguran penuh kasih.”
“Siapa yang menegur?”
“Nisa.”
Jagat mengangguk. “Penuh kasih pasti bukan istilah yang dipakai penerimanya.”
Mereka melanjutkan pemeriksaan. Di lantai tiga, angin pagi masuk melalui bukaan yang belum dipasangi jendela. Kota terlihat dalam potongan-potongan: atap rumah, jalan raya, menara masjid, kendaraan yang bergerak seperti baris angka terlalu kecil untuk dibaca.
Jagat berhenti di tempat ia dulu melihat awan gelap sebelum malam mi instan. Peristiwa itu baru beberapa bulan lalu. Namun kehidupan di dalamnya terasa berasal dari waktu yang lebih panjang—ketika sembilan orang tertahan hujan dan seorang perempuan yang selalu menjaga suaranya tertawa sampai lupa melakukannya.
“Pak?” Darto sudah berjalan beberapa meter di depan.
“Ya. Saya menyusul.”
Jagat tidak mengambil foto. Tidak semua yang ingin diingat perlu dijadikan arsip.
* * *
Aisha tiba menjelang pukul sebelas bersama Pak Hendra, Surya, dan Ridwan.
Kedatangan mereka tercantum pada agenda penutupan administrasi. Tidak mendadak. Tidak khusus untuk Jagat. Mereka akan memeriksa status pembayaran, menerima arsip biaya, dan menandatangani dokumen serah terima fungsi pengendalian.
Jagat mengetahui semua itu.
Tetap saja, ia mengenali suara Aisha sebelum melihatnya.
“Kalau daftar aset belum mencantumkan nomor versi, jangan ditandatangani.”
Nada itu datang dari kantor lapangan, tegas dan tidak terburu-buru. Jagat sedang menuruni tangga bersama Darto. Langkahnya tidak berubah, tetapi kesadarannya terhadap setiap bunyi di ruangan mendadak menjadi lebih tajam.
Aisha berdiri di dekat meja panjang dengan blus biru muda, celana hitam, dan helm putih yang kini pas tanpa perlu didorong setiap beberapa menit. Tas kerjanya berada di kursi yang mudah terlihat. Di samping laptop ada satu kotak obat bening dan botol air.
Ia telah mengingat miliknya sendiri.
Aisha menoleh ketika Jagat masuk.
“Pagi, Pak Jagat.”
“Pagi, Mbak Aisha.”
Hanya itu.
Pak Hendra meminta semua orang duduk. Rapat berlangsung dua jam dan membuktikan bahwa perpisahan pun membutuhkan tanda tangan berlapis.
Nisa mempresentasikan daftar arsip. Ujang menjelaskan inventaris. Darto menyampaikan status struktur. Jagat membacakan serah terima titik pengamanan. Aisha mengonfirmasi bahwa seluruh upah terverifikasi telah diproses, sementara dua tagihan vendor masih menunggu dokumen pajak yang tidak berkaitan dengan hak pekerja.
Surya memeriksa sampel dokumen. Ridwan mencocokkan nilai. Pak Hendra menandatangani berita acara.
Kemudian tiba pada daftar aset visual.
“Empat ilustrasi prosedur, satu tabung penyimpanan, satu map tahan air, dan berkas digital,” kata Nisa. “Pemilik aset perusahaan. Hak kredit tetap pada pembuat.”
Surya melihat Jagat. “Setuju?”
“Setuju.”
“Berkas pribadi?”
“Tidak termasuk dalam arsip proyek.”