Tiga minggu setelah Jagat meninggalkan Sembada, Aisha mulai mengerti bahwa rindu tidak selalu datang sebagai keinginan untuk bertemu.
Kadang-kadang ia muncul ketika mesin pencetak kantor mengeluarkan bunyi aneh dan tidak ada orang yang menuduhnya sedang mengalami krisis tujuan hidup.
Kadang-kadang ketika hujan turun, lalu grup proyek hanya berisi laporan ketinggian air tanpa satu pun perdebatan tentang payung.
Kadang-kadang ketika seseorang memesan makan siang dengan sambal terpisah, tetapi label kotaknya hanya mencantumkan nama tanpa komentar apa pun.
Aisha tidak melakukan apa-apa terhadap perasaan tersebut.
Ia tidak mencari nomor Jagat di dokumen personel. Tidak bertanya kepada Nisa mengenai kabarnya. Tidak membuka alasan percakapan melalui urusan panduan yang kini sudah ditangani tim lain. Jika Jagat mendapat pekerjaan di pusat pelatihan kerja, berita itu akan datang melalui jalur yang semestinya. Jika tidak, ketidaktahuan Aisha bukan keadaan darurat yang harus diperbaiki.
Ada hal lain yang lebih mendesak.
Rumah mereka mulai dibongkar dari dalam.
Bukan oleh tukang, melainkan oleh tiga perempuan yang berdiri di kamar depan pada Minggu pagi dengan kardus, kantong sampah, dan pendapat berbeda mengenai hampir semua barang.
“Ini masih bagus,” kata Ratih untuk kesembilan kalinya.
Yang sedang dipertahankannya adalah kipas angin meja tanpa baling-baling.
Bu Mira mengangkat benda itu setinggi wajah. “Bagian mana yang masih bagus?”
“Mesinnya mungkin hidup.”
“Kalau dipasang baling-baling.”
“Ya tinggal beli.”
“Bu, harga baling-baling dan perbaikannya bisa lebih mahal daripada kipas baru,” kata Aisha.
Ratih merebut kembali kipas itu—bukan dari tangan Bu Mira, melainkan setelah adiknya meletakkannya di lantai. “Kalian datang ke sini bukan untuk membuang seluruh hidup Ibu.”
“Kami baru membahas kipas,” ujar Bu Mira.
“Semua dimulai dari kipas.”
Aisha menatap kamar yang selama bertahun-tahun digunakan sebagai gudang. Kardus-kardus pakaian lama bertumpuk di dekat dinding lembap. Ada mesin jahit yang rusak, dua koper tanpa roda, buku sekolah dasar miliknya, kursi makan dengan satu kaki lebih pendek, serta kaleng biskuit berisi kabel yang tidak lagi cocok dengan perangkat apa pun di rumah.
Setelah nasihat hukum independen, Ratih memutuskan menerima pengalihan hak Farid. Prosesnya diperkirakan memakan waktu beberapa bulan. Sementara itu, hasil pemeriksaan bangunan menunjukkan biaya renovasi cukup besar, dan pihak kelurahan mengonfirmasi pelebaran jalan kemungkinan mengambil sebagian halaman depan meskipun keputusan akhir belum terbit.
Mereka belum memutuskan menjual rumah.
Namun penasihat hukum menyarankan inventaris barang, kondisi bangunan, dan dokumen kepemilikan ditata sejak sekarang. Bu Mira menyebutnya persiapan. Ratih menyebutnya persekongkolan.
Aisha membuat empat label kardus: SIMPAN, SUMBANGKAN, BUANG, dan BELUM DIPUTUSKAN.
Dalam dua jam, kardus terakhir sudah hampir penuh. Kardus buang hanya berisi satu kalender tahun lalu dan tiga pulpen mati.
“Kalau semuanya belum diputuskan, kita tidak sedang memilah,” kata Aisha.
“Kita sedang mempertimbangkan dengan hati-hati,” jawab Ratih.
Bu Mira duduk di lantai sambil memegang sebuah pengisi daya telepon model lama. “Mbak, teleponnya sudah tidak ada sejak pemerintahan sebelumnya.”
“Siapa tahu masih bisa dipakai.”
“Untuk mengisi apa? Kenangan?”
Ratih menatap tajam, tetapi Aisha tertawa kecil. Bu Mira memasukkan pengisi daya itu ke kardus BUANG dengan gerakan secepat orang menyelamatkan barang bukti.
Pekerjaan berhenti ketika mereka menemukan sebuah koper cokelat di belakang lemari.
Ratih yang pertama kali melihatnya. Wajahnya berubah sebelum tangan siapa pun mendekat.
“Jangan dibuka,” katanya.
Aisha mengenali koper itu.
Bukan karena sering melihatnya, melainkan karena ingatan masa kecil kadang-kadang menyimpan benda dengan lebih tajam daripada wajah. Koper tersebut pernah berada di dekat pintu pada malam Farid pergi. Aisha berusia delapan tahun dan mengira ayahnya akan melakukan perjalanan kerja selama beberapa hari. Ia duduk di atas koper itu sambil mengikat tali sepatu, membuat Farid terlambat berangkat hampir sepuluh menit.
Farid tertawa waktu itu.
Kemudian ia meminta Aisha menjaga Ibu dan berjanji membawa oleh-oleh.
Koper itu seharusnya ikut pergi.
“Kenapa ada di sini?” tanya Aisha.
Ratih duduk di tepi ranjang lama. “Dia pakai koper lain.”
“Ini sudah disiapkan.”
“Lalu barangnya dipindahkan.”
“Kenapa Ibu simpan?”
Ratih meremas ujung kerudungnya. “Karena Ibu pikir dia akan kembali mengambilnya.”
Kamar itu mendadak terlalu sunyi. Bu Mira berdiri dan membuka jendela. Udara masuk bersama bau tanah dari halaman belakang.
Aisha memandang koper yang menunggu selama dua puluh tiga tahun untuk seseorang yang bahkan mungkin telah melupakannya.
“Isinya apa?”
“Barang dia. Beberapa baju, buku, surat-surat lama.”
“Boleh aku lihat?”
Ratih menggeleng cepat.
Aisha tidak menyentuh koper. “Baik.”
Bu Mira meletakkan tangannya sendiri di pinggang. “Mbak Ratih, kita tidak harus buka hari ini. Tapi koper itu tidak bisa terus dibiarkan menjadi penghuni kamar.”
“Dia tidak mengganggu siapa-siapa.”
“Dia mengambil ruang.”
“Hanya sedikit.”
“Bukan ruang lantainya yang kita bicarakan.”
Ratih menatap adiknya dengan mata basah. “Kamu tidak tahu rasanya.”
Bu Mira tidak membela diri. “Benar. Aku tidak ditinggalkan suami seperti Mbak. Tapi aku melihat Mbak menunggu bertahun-tahun sambil bilang tidak menunggu.”
“Aku tidak menunggu.”
“Lalu koper itu untuk apa?”
Ratih berdiri begitu cepat hingga ranjang berderit. “Sudah. Kalian pulang saja kalau tujuan kalian membuat Ibu terlihat bodoh.”
“Aku tinggal di sini,” kata Aisha.
“Kalau begitu masuk kamar kamu. Jangan sentuh barang Ibu.”
Ratih pergi dan menutup pintu kamarnya. Tidak dibanting, tetapi bunyi kaitnya terdengar jelas.
Bu Mira mengembuskan napas. “Aku terlalu keras.”
“Bibi benar.”
“Benar tidak selalu berarti cara mengatakannya benar.”
Aisha memandang koper. Kalimat itu mengingatkannya pada keputusan-keputusan di proyek: sah, perlu, dan tetap dapat menyakiti jika dilaksanakan tanpa melihat manusia yang menerimanya.