Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #17

Farid Datang Membawa Alasan

Farid datang membawa map hitam, sekotak kue, dan wajah yang lebih tua daripada ingatan Aisha.

Pertemuan itu berlangsung di ruang konsultasi kantor penasihat hukum Ratih, bukan di rumah mereka dan bukan di kantor notaris yang mewakili Farid. Ratih memutuskan tidak hadir. Bu Mira duduk di samping Aisha, sementara Bu Nadia—penasihat hukum yang mereka pilih sendiri—berada di ujung meja dengan dokumen pengalihan hak tersusun di hadapannya.

Pintu ruang konsultasi memiliki panel kaca. Seorang staf bekerja di meja luar. Pertemuan dijadwalkan selama satu jam dan dapat dihentikan kapan saja atas permintaan Aisha.

Semua batas tersebut telah mereka sepakati lebih dahulu.

Tetap saja, ketika Farid masuk dan mengucapkan salam, Aisha merasa kembali berusia delapan tahun selama satu detik yang memalukan.

Bukan karena wajah laki-laki itu sama.

Rambutnya sudah banyak memutih. Tubuhnya lebih kurus daripada dalam foto album. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu dan kacamata yang beberapa kali dibetulkan meski tidak bergeser. Hanya suaranya yang masih memiliki nada lama—sedikit berat, tenang, dan seolah setiap kalimat penting perlu diberi jeda.

“Assalamualaikum,” katanya.

“Waalaikumsalam,” jawab mereka.

Farid melihat Aisha cukup lama. Matanya memerah, tetapi ia tidak bergerak mendekat.

“Aisha.”

Aisha tidak menjawab panggilan itu dengan sebutan apa pun. “Silakan duduk.”

Farid meletakkan kotak kue di meja samping, bukan di hadapan Aisha. Setidaknya ia tidak datang membawa hadiah yang harus diterima langsung.

Bu Nadia membuka pertemuan. Ia menjelaskan bahwa pembicaraan hari itu memiliki dua bagian yang harus tetap dibedakan: klarifikasi kehendak Farid atas hak rumah dan percakapan keluarga yang hanya akan berlangsung sejauh disetujui Aisha.

“Dokumen tidak akan ditandatangani hari ini,” katanya. “Kami masih memeriksa dasar perolehan, pajak, dan beberapa konsekuensi pengalihan. Pak Farid boleh menjelaskan maksudnya, tetapi keputusan Ibu Ratih tetap disampaikan melalui saya.”

Farid mengangguk. “Saya mengerti.”

Aisha memperhatikan cara laki-laki itu menyatukan kedua tangan di atas meja. Dulu Farid melakukan hal yang sama ketika membantu pekerjaan rumah matematika. Ia akan menunggu Aisha menemukan kesalahannya sendiri, lalu mengetuk meja satu kali jika jawabannya benar.

Tubuh mengingat hal-hal yang tidak diminta.

“Kenapa hak rumah baru diselesaikan sekarang?” tanya Bu Nadia.

Farid menghela napas. “Saya seharusnya menyelesaikannya sejak dulu.”

“Itu pengakuan,” kata Bu Nadia. “Pertanyaannya mengenai alasan waktu sekarang.”

Farid melirik Aisha, kemudian kembali kepada penasihat hukum. “Saya sedang menata aset. Anak saya yang—” Ia berhenti. “Keluarga saya sekarang membutuhkan kejelasan administrasi. Ketika dokumen lama diperiksa, rumah Jalan Melati muncul. Saya sadar statusnya masih menggantung.”

Keluarga saya sekarang.

Tiga kata itu masuk ke ruangan tanpa perlu dinaikkan suaranya.

Aisha melihat Bu Mira mengubah posisi duduk. Bukan untuk menenangkan Aisha, hanya menandai bahwa ia mendengar hal yang sama.

“Apakah ada kebutuhan dari keluarga Bapak sekarang yang menjadi syarat pengalihan?” tanya Bu Nadia.

“Tidak. Saya tidak meminta bagian rumah, pembayaran, atau hasil penjualannya.”

“Biaya pengalihan?”

“Saya bersedia menanggung biaya yang menjadi bagian saya dan biaya pokok pemindahan hak, sepanjang rinciannya wajar.”

“Pernyataan itu akan dimasukkan ke draf untuk ditinjau.”

Farid mengangguk lagi.

Pembicaraan dokumen berlangsung hampir dua puluh menit. Bu Nadia menanyakan asal pembayaran rumah, status perkawinan saat pembelian, kewajiban pajak, dan apakah ada pihak lain yang berpotensi mengajukan klaim. Farid menjawab tanpa banyak berputar. Beberapa hal masih membutuhkan bukti.

Aisha mencatat seperti dalam rapat kerja. Tanggal. Dokumen. Tanggung jawab. Tenggat.

Ketika bagian administratif selesai, Bu Nadia menutup map.

“Percakapan pribadi tidak wajib dilakukan,” katanya kepada Aisha. “Kita dapat mengakhiri pertemuan sekarang.”

Farid menunduk, tidak memohon.

Aisha menatap jam di dinding. Masih ada tiga puluh empat menit.

Selama bertahun-tahun, ia membayangkan pertemuan ini dengan berbagai bentuk. Dalam satu versi, ia membacakan seluruh kesalahan Farid sampai laki-laki itu tidak mampu menjawab. Dalam versi lain, ia tidak hadir sama sekali dan membiarkannya menunggu. Kadang Farid meminta maaf dengan kalimat sempurna yang menyembuhkan segalanya. Kadang ia tetap egois sehingga Aisha dapat membencinya tanpa keraguan.

Kenyataan duduk di hadapannya dengan rambut putih, map hitam, dan kotak kue yang tidak seorang pun sentuh.

“Saya ingin mendengar kenapa Bapak pergi,” kata Aisha.

Farid mengangkat wajah. Ada rasa lega di sana, dan Aisha langsung membencinya.

“Bukan supaya Bapak merasa sudah diberi kesempatan,” lanjutnya. “Saya mendengar untuk diri saya sendiri. Saya boleh menghentikan kalau jawabannya berubah menjadi pembenaran.”

Rasa lega itu lenyap. “Baik.”

“Kenapa?”

Farid menarik napas panjang. “Waktu itu rumah tangga saya dengan ibumu sudah buruk selama beberapa tahun. Kami sering bertengkar soal uang, pekerjaan, dan keluarga. Saya merasa apa pun yang saya lakukan selalu salah.”

Aisha tidak memotong. Belum.

“Saya dekat dengan orang lain di kantor. Awalnya saya pikir hanya teman bicara. Lalu hubungan itu melewati batas.” Farid menatap tangannya. “Ibumu tahu. Saya menyangkal karena malu dan takut menghadapi akibatnya.”

“Takut kehilangan keluarga?”

“Ya.”

“Tapi Bapak pergi.”

“Saya pengecut.”

Jawaban itu datang tanpa hiasan. Tidak cukup untuk menyembuhkan, tetapi terlalu jujur untuk diabaikan.

Farid melanjutkan, “Malam saya pergi, saya bilang butuh waktu. Sebenarnya saya sudah memilih pergi, hanya tidak berani mengatakannya. Dua hari kemudian saya menelepon Ratih dan meminta tidak dicari.”

Aisha mendengar sendi jari Bu Mira berderak ketika mengepal di pangkuannya sendiri.

“Lalu saya memulai hidup baru,” kata Farid. “Saya selalu berniat menghubungi Aisha setelah keadaan lebih tenang.”

Aisha mengangkat tangan. “Berhenti di situ.”

Farid langsung diam.

“Kalimat setelah keadaan lebih tenang itu maksudnya kapan?”

“Saya tidak tahu waktu itu.”

“Satu bulan?”

“Tidak.”

“Satu tahun?”

Farid menurunkan pandangan.

“Ketika aku lulus SD? SMP? Ketika masuk kuliah? Setelah mulai bekerja?” Suara Aisha masih tenang, tetapi setiap pertanyaan terasa seperti benda yang terlalu lama disimpan akhirnya dikeluarkan satu per satu. “Kapan tepatnya hidup Bapak cukup tenang untuk mengingat anak yang diminta menjaga ibunya?”

Farid mengusap wajah. “Tidak ada jawaban yang membuat itu bisa diterima.”

“Saya tidak meminta jawaban yang bisa diterima. Saya meminta jawaban yang benar.”

“Saya malu,” katanya. “Semakin lama saya diam, semakin sulit kembali. Saya beberapa kali menelepon, tapi ibumu—”

“Jangan.”

Farid berhenti lagi.

“Jangan jadikan Ibu alasan. Mungkin Ibu marah. Mungkin Ibu menutup telepon. Tapi Bapak tahu sekolahku. Tahu alamat rumah. Tahu nama Bu Mira. Setelah aku dewasa, Bapak bisa mencari melalui banyak cara.”

“Saya tahu.”

“Bapak bukannya tidak bisa. Bapak tidak mau menanggung akibatnya.”

Farid mengangguk perlahan. “Ya.”

Kata itu seharusnya memberi kepuasan. Aisha hanya merasa lelah.

“Apakah keluarga Bapak sekarang tahu tentang kami?” tanyanya.

“Tahu saya pernah menikah dan mempunyai anak.”

Lihat selengkapnya