Jagat tiba di Yogyakarta pukul lima lewat dua puluh pagi dengan satu ransel, satu koper, dan dua puluh tiga pesan keluarga yang sebagian besar berisi pertanyaan serupa dalam bentuk berbeda.
Sudah sampai mana?
Busnya masuk terminal mana?
Jangan naik kendaraan sembarangan.
Mau sarapan gudeg atau soto?
Pesan terakhir dari Lestari dikirim pukul empat lewat lima puluh tujuh, seolah pilihan menu merupakan keadaan darurat yang harus diputuskan sebelum matahari terbit.
Jagat baru turun dari bus ketika melihat Bayu berdiri dekat pintu kedatangan. Kakaknya mengenakan jaket tipis di atas kaus dan membawa dua gelas kopi dalam wadah karton.
“Kamu tidak bilang mau menjemput,” kata Jagat.
“Kalau bilang, kamu akan menolak.”
“Benar.”
“Makanya sistem informasi keluarga perlu disesuaikan dengan perilaku pengguna.”
Jagat menerima salah satu kopi setelah Bayu meletakkannya di atas pembatas besi di antara mereka. “Kamu terlalu banyak membaca panduan proyek.”
“Nala mengirimkannya ke grup.”
Jagat berhenti membuka tutup gelas. “Panduan kendali material?”
“Bagian kucingnya saja.”
“Nala tidak punya berkas itu.”
“Dia mendapat foto dari media sosial Nisa.”
Jagat menutup mata. “Arsip budaya proyek ternyata tidak mengenal batas negara.”
Bayu tertawa, lalu mengambil gagang koper setelah Jagat mengangguk memberi izin. Mereka berjalan menuju tempat parkir tanpa banyak bicara. Udara subuh dingin, berbeda dari Bekasi yang bahkan pada pagi hari terasa seperti sedang mempersiapkan panas untuk siang nanti.
Di mobil, Bayu menyalakan mesin tetapi tidak langsung berangkat.
“Bapak sudah bangun dari jam empat,” katanya.
“Kenapa?”
“Katanya mau memastikan kamar kamu dibersihkan.”
“Jam empat?”
“Membersihkan kamar adalah istilah Ibu. Bapak sebenarnya memindahkan meja gambar lama ke gudang supaya kamar itu bisa dipakai menyimpan berkas toko.”
Jagat memandang kakaknya.
Bayu mengangkat satu tangan. “Ibu menyuruh dikembalikan. Sekarang mejanya mungkin ada di lorong karena mereka belum sepakat.”
“Bapak tahu saya hanya pulang sementara?”
“Aku bilang begitu.”
“Jawaban Bapak?”
“Semua anak yang pulang selalu bilang sementara.”
Jagat bersandar pada jok. Baru beberapa menit berada di kota itu dan kepulangannya sudah diubah menjadi kesimpulan.
“Bagaimana pembicaraan Nala?” tanyanya.
Bayu menjalankan mobil keluar dari terminal. “Seperti rapat tanpa moderator. Nala bilang dia mendaftar magang. Bapak bilang tidak. Nala menjelaskan belum meminta keputusan. Bapak mengulang tidak dengan volume lebih tinggi.”
“Wawancaranya?”
“Tetap dilakukan kemarin dari rumahku. Koneksi internet di rumah mendadak dianggap tidak stabil oleh Bapak.”
“Memang tidak stabil?”
“Stabil sekali sampai mungkin menyinggung perasaan beliau.”
Jagat menatap jalan yang masih lengang. “Ibu bagaimana?”
“Membela Nala dengan cara menyuruh semua orang makan pisang goreng.”
“Tentu.”
“Tapi setelah kamu telepon Ibu dan bilang jangan meredakan semuanya, beliau akhirnya mengatakan Nala berhak ikut wawancara. Bapak tidak bicara dengan Ibu sampai malam.”
Rasa bersalah datang seperti refleks. Jagat hampir bertanya apakah ia seharusnya tidak membuat panggilan keluarga. Hampir meyakinkan diri bahwa diam beberapa hari lagi mungkin menjaga rumah tetap tenang.
Lalu ia teringat proyek yang kehilangan seratus delapan puluh orang dalam satu surel. Informasi yang ditunda bukan kedamaian. Hanya ketidaktahuan yang dibungkus rapi.
“Bagaimana hasil wawancaranya?”
“Belum keluar.” Bayu meliriknya. “Dan sebelum kamu tanya, Bapak sudah mengumumkan ke Paklik Seno bahwa kamu pulang untuk membantu toko.”
Jagat mengembuskan napas.
“Persisnya?”
“‘Jagat sudah selesai di Bekasi. Sekarang waktunya kembali mengurus usaha keluarga.’”
“Kapan beliau bilang begitu?”
“Tadi malam.”
“Setelah saya sudah pernah menolak?”
Bayu tersenyum tanpa gembira. “Di kepala Bapak, penolakanmu mungkin berlaku selama kamu masih punya pekerjaan. Sekarang kontrakmu selesai, situasinya dianggap berubah.”
“Pilihan saya tidak berubah.”
“Jelaskan langsung.”
“Kamu terdengar sangat tenang untuk orang yang juga dimasukkan ke rencana toko.”
Bayu memegang kemudi lebih erat. “Aku sedang menyimpan kepanikan untuk jam kerja.”
Jagat menatap profil kakaknya. Ada garis lelah di dekat mata yang tidak ia ingat pada Lebaran terakhir.
“Kamu masih mengajar berapa hari?”
“Tiga hari sepekan. Dua hari di toko, Sabtu penuh.”
“Itu enam hari.”
“Matematikamu berkembang.”
“Bayu.”
“Nanti.”
Satu kata itu menutup percakapan, tetapi Jagat mengenali sifat penutupnya. Nanti adalah warisan keluarga mereka—wadah tempat setiap konflik disimpan sampai berubah menjadi keputusan orang lain.
Jagat tidak memaksa. Belum.
Mobil berbelok memasuki jalan rumah mereka tepat ketika azan subuh dari masjid sekitar selesai terdengar.
Lampu teras menyala.
Lestari menunggu di balik pagar.
* * *
Rumah Pradana menyambut Jagat dengan aroma soto ayam, sandal yang berderet tidak beraturan, dan sambutan Lestari yang nyaris menjadi pelukan.
Lestari berdiri beberapa langkah darinya, kedua tangannya terangkat seperti ingin mendekat, lalu mengubah gerak itu menjadi isyarat agar Jagat segera masuk.
“Cuci tangan. Salat dulu kalau belum. Setelah itu makan.”
“Saya sudah salat di tempat istirahat, Bu.”
“Kalau begitu langsung makan.”
“Ibu tidak mau tanya perjalanan?”
“Kamu sudah sampai. Pertanyaannya jadi tidak penting.”
Mata Lestari basah, tetapi ia sibuk membetulkan posisi koper agar tidak menghalangi pintu. Jagat menunduk hormat dan tersenyum kepadanya.
“Bapak di mana?”
“Di belakang.”
“Tokonya belum buka.”
“Makanya dia di belakang. Sejak semalam mengecek gudang seperti semen bisa berkembang biak kalau ditinggal tidur.”
Jagat hampir tertawa. Rumah ini masih memiliki cara sendiri untuk mencintai: melalui soto sebelum subuh selesai, kamar yang dibersihkan dua kali, dan orang tua yang bangun terlalu pagi tetapi memilih menunggu di ruangan lain agar tidak terlihat menunggu.
Nala keluar dari kamar mengenakan mukena yang belum dilepas. “Kak!”
Ia bergegas mendekat dan memeluk kakaknya singkat, lalu mundur untuk mengamati Jagat dari kepala sampai kaki.
“Kamu kurusan,” kata Nala.
“Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena setiap pulang Kakak memang kehilangan bentuk.”
“Proyek memberi efek aerodinamis.”
Nala melihat koper. “Oleh-oleh?”
“Surat pengalaman kerja.”
“Bisa dimakan?”
“Kalau wawancaramu gagal, mungkin kita coba.”
Lestari memukul meja dengan sendok sayur. “Jangan bicara gagal sebelum hasil keluar.”
Nala menarik kursi. “Bapak sudah membicarakannya untuk satu keluarga.”
“Ibu bilang jangan mulai pagi-pagi.”
“Masalahnya sudah mulai sebelum Kak Jagat turun dari bus.”
Jagat duduk bersama Bayu dan Nala. Ada lima mangkuk soto di meja, termasuk untuk Pramono yang belum muncul.
“Meja gambar saya di mana?” tanya Jagat.
Lestari berhenti menuang kuah.
Nala menunjuk lorong belakang. “Sedang mengalami sengketa wilayah.”
“Bapak mau pindahkan ke gudang.”
“Katanya kamar Kakak akan dijadikan ruang administrasi toko. Komputer baru sudah dipesan.”
Lestari meletakkan sendok. “Belum dipesan. Baru ditanyakan harganya.”
“Bagi Bapak, itu tahap pengadaan.”
“Nala.”
Jagat melihat lorong. Ujung meja kayu lamanya tampak di balik pintu. Permukaannya penuh goresan pensil dan noda tinta sejak ia masih sekolah.
“Kamarnya tetap kamar saya selama saya tinggal di sini,” katanya. “Berkas toko jangan dipindahkan masuk.”
Lestari mengusap tepi mangkuk. “Bicarakan baik-baik dengan Bapak.”
“Saya sedang menyampaikan kepada orang-orang yang akan terdampak dulu.”
Nala menahan senyum. “Bahasa proyek.”
“Efektif.”
Pramono masuk dari pintu belakang sebelum siapa pun dapat menambahkan komentar. Ia memakai kaus polo lama dan celana kain, dengan kunci gudang tergantung di pinggang. Rambutnya lebih putih daripada saat panggilan video terakhir, tetapi langkahnya tetap cepat.
Matanya langsung menemukan Jagat.
“Kapan sampai?” tanyanya.
“Sekitar setengah jam lalu, Pak.”
“Perjalanan lancar?”
“Lancar.”
“Bagus.”
Pramono menarik kursi di ujung meja. Tidak ada sambutan panjang. Namun ia mengambilkan perkedel dari piring tengah dan meletakkannya di piring kecil dekat Jagat, kebiasaan yang sama sejak anaknya masih sekolah.
Jagat menatap perkedel itu.
Kasih sayang dapat tetap ada di tangan orang yang tidak tahu cara melepaskan kendali. Itulah yang membuat segalanya sulit.
“Kamu istirahat hari ini,” kata Pramono. “Besok ikut Bapak ke toko. Kita lihat sistem stok baru.”
Jagat belum menyentuh makanannya. “Saya bisa melihat toko sebagai anak yang membantu, Pak. Bukan sebagai calon pengelola.”
Sendok Lestari berhenti di udara.
Bayu menunduk pada mangkuk. Nala duduk lebih tegak.