Empat hari setelah kepulangannya, Jagat mengikuti wawancara kerja dari kamar yang nyaris dijadikan ruang administrasi toko.
Ia menutup pintu, memasang tanda WAWANCARA PUKUL 09.00–10.30 — MOHON JANGAN MASUK, lalu menguji sambungan internet dua kali. Meja gambar berada di belakang laptop. Di atasnya terbuka sketsa pusat pelatihan kerja yang semula hanya dibuat untuk membantu pikirannya.
Pukul delapan lewat lima puluh, Lestari mengetuk.
“Ibu taruh teh di kursi luar.”
“Terima kasih, Bu.”
“Pisang rebus juga.”
“Terima kasih.”
“Kalau lapar sebelum selesai—”
“Bu.”
“Iya. Ibu pergi.”
Langkahnya menjauh. Dua menit kemudian Nala mengirim pesan dari ruang tengah.
Ibu sekarang berdiri tiga meter dari pintu sambil pura-pura menyapu.
Jagat membalas:
Pindahkan beliau sebelum sapunya mengganggu sinyal.
Nala mengirim stiker kucing berompi memberi hormat.
Pukul sembilan tepat, layar laptop menampilkan tiga pewawancara: kepala proyek bernama Arief, manajer pelatihan bernama Salwa, dan seorang staf SDM. Mereka membahas pengalaman Jagat di Sembada, penghentian proyek, sistem kendali material, serta ilustrasi prosedur yang tercantum dalam portofolionya.
“Apakah ilustrasi itu bagian tugas resmi Anda?” tanya Salwa.
“Awalnya bukan,” jawab Jagat. “Setelah manfaatnya terlihat, tugasnya dicatat resmi, waktunya dialokasikan, dan penggunaannya disetujui bersama.”
“Kenapa itu penting?”
“Karena keterampilan tambahan sering dianggap bisa dipakai tanpa biaya hanya karena pemiliknya senang melakukannya. Kalau perusahaan menganggap hasilnya bernilai, waktunya juga harus dihitung.”
Arief mengangguk. “Di pusat pelatihan nanti, Anda akan menangani pekerja baru dengan tingkat literasi yang berbeda. Apa pendekatan Anda?”
“Petunjuk visual, demonstrasi langsung, pengulangan oleh peserta, dan pemeriksaan pemahaman. Gambar membantu, tapi bukan pengganti pengarahan.”
“Kalau tenggat pembangunan bertentangan dengan jadwal pelatihan?”
“Keduanya dimasukkan ke rencana kerja sejak awal. Kalau pelatihan selalu dianggap kegiatan tambahan, yang pertama dikorbankan saat terlambat pasti keselamatan dan pemahaman orang.”
Wawancara berlangsung hampir satu jam. Menjelang akhir, Salwa meminta Jagat menunjukkan contoh bagaimana ia menjelaskan jalur material kepada pekerja baru.
Jagat memutar laptop sedikit agar sketsa di meja terlihat, kemudian berhenti.
“Ini gambar persiapan pribadi,” katanya. “Belum menjadi materi perusahaan dan belum diperiksa secara teknis. Saya bisa menggunakannya sebagai contoh cara berpikir, bukan sebagai petunjuk yang sudah disetujui.”
“Silakan,” kata Salwa.
Jagat menjelaskan sketsanya. Ia menunjukkan jalur masuk material, titik penyimpanan, pemisahan pejalan kaki, dan papan visual di tiap zona. Ia juga menyebut bagian yang belum dapat dipastikan tanpa melihat lokasi.
Ketika wawancara berakhir, Arief berkata keputusan akan dikirim paling lambat sepekan. Tidak ada pujian yang dapat dianggap janji.
Jagat menutup laptop dan mengembuskan napas.
Pintu terbuka tiga detik kemudian.
Nala masuk lebih dulu, diikuti Lestari dan Bayu. Mereka rupanya menunggu di lorong seperti keluarga pasien di ruang operasi.
“Bagaimana?” tanya ketiganya bersamaan.
“Selesai.”
“Itu bukan hasil,” kata Nala.
“Karena hasilnya belum ada.”
“Wajah pewawancaranya bagaimana?”
“Memiliki mata, hidung, dan ekspresi profesional.”
“Kak.”
“Mereka bilang kabar paling lambat sepekan.”
Lestari menunjuk teh di kursi luar. “Minum dulu.”
Bayu melihat sketsa pada meja. “Kamu pakai ini?”
“Sebagai contoh, dengan batas yang jelas.”
Nala mengangkat dua ibu jari. “Kalimat yang sangat romantis untuk sebuah gambar.”
Jagat melipat tanda di pintu. “Kamu sendiri belum dapat hasil?”
Nala menggeleng. “Katanya hari ini atau besok.”
Ponselnya berbunyi tepat setelah kalimat itu.
Semua orang menatap perangkat di tangannya.
Nala membaca notifikasi, lalu wajahnya kehilangan warna.
“Apa?” tanya Lestari.
Nala tidak menjawab. Ia membuka surel, membaca cepat, kemudian kembali ke baris pertama.
“Aku diterima.”
Suara itu terlalu kecil untuk kabar sebesar itu.
Lestari mengucapkan hamdalah. Bayu tersenyum lebar. Jagat meminta Nala membaca rincian sebelum mereka merayakan keputusan yang mungkin memiliki syarat berbeda dari perkiraan.
Program magang berlangsung tiga bulan di Jakarta. Tanggal mulai dua minggu lagi. Uang saku sesuai pengumuman. Jam kerja, tugas, dan nama pembimbing disebutkan. Nala harus memberi jawaban dalam tiga hari.
“Tempat tinggal?” tanya Bayu.
“Belum.”
“Transportasi?”
“Sudah kita hitung,” kata Jagat.
Lestari terlihat bahagia sekaligus cemas. “Bapak harus diberi tahu.”
Nala memegang ponselnya di dada. “Nanti setelah makan siang.”
“Kenapa nanti?”
“Aku mau senang dulu selama satu jam sebelum ada yang menjelaskan kenapa aku tidak boleh.”
Tidak seorang pun menyuruhnya lebih berani. Mereka membiarkan satu jam itu menjadi miliknya.
* * *
Pramono tidak pulang untuk makan siang.
Ia mengirim pesan bahwa ada pengiriman besar dan baru kembali menjelang asar. Nala menyimpan surat penerimaan di dalam map, mencetak anggaran, serta menyiapkan daftar tempat tinggal yang sudah dihubungi. Bayu mencatat kemungkinan Nala tinggal dua minggu pertama bersama sepupu istrinya, sambil mencari indekos perempuan dekat studio.
Jagat tidak mengambil alih penjelasan. Ia hanya memeriksa apakah angka makan, transportasi, dana darurat, dan biaya pulang sudah masuk.
Pukul tiga, sebuah truk kecil berhenti di depan rumah.
Dua orang menurunkan rangka rak besi, meja kantor, dan enam kardus arsip kosong.
Jagat keluar ke teras. “Ini untuk siapa?”
Salah seorang pekerja melihat surat jalan. “Toko Pradana, Pak. Renovasi ruang administrasi.”
“Alamat tokonya bukan di sini.”
“Pengiriman pertama ke rumah. Katanya disimpan di kamar belakang sebelum tukang siap.”
Bayu keluar setelah mendengar suara barang. Wajahnya berubah ketika membaca surat jalan.
“Bapak pesan ini?” tanya Jagat.
“Sepertinya.”
“Setelah pembicaraan kita?”
Bayu tidak menjawab.
Jagat meminta para pengirim menunggu dan menelepon Pramono. Ayahnya mengangkat setelah dering ketiga.
“Pak, ada rak dan meja administrasi dikirim ke rumah.”
“Taruh kamar belakang. Tukang mulai Senin.”
“Kamar belakang kamar saya.”
“Untuk sementara. Nanti setelah renovasi, dipindah ke toko.”
“Renovasi apa?”
“Gudang belakang dibuat ruang administrasi dan ruang pertemuan pelanggan. Kamu perlu lihat ukurannya besok.”
Jagat memandang rangka besi di teras. “Bapak melanjutkan rencana seolah saya sudah setuju.”
“Renovasi toko tidak perlu menunggu keputusanmu.”
“Kalau memang untuk toko, kirim ke toko. Jangan taruh di kamar saya. Dan jangan kaitkan renovasi dengan pekerjaan yang sudah saya tolak.”
“Jagat, Bapak sedang bekerja. Jangan membuat hal sederhana menjadi sulit.”
“Yang sederhana: saya tidak menerima pekerjaan itu.”
“Suruh orangnya taruh di ruang depan. Nanti Bapak urus.”
Panggilan berakhir.
Jagat menatap surat jalan. Ia dapat menyuruh truk kembali, tetapi pembelian itu milik Pramono dan para pengirim hanya menjalankan tugas. Ia juga tidak akan membiarkan barang-barang tersebut masuk ke kamar.
“Boleh diturunkan di garasi sisi kiri?” tanyanya. “Tidak menghalangi jalan dan terlindung dari hujan.”
Pekerja pengiriman mengangguk. Jagat meminta Bayu memotret kondisi barang, lalu menandatangani penerimaan hanya sebagai penerima fisik dengan catatan lokasi sementara—bukan persetujuan pembelian atau proyek renovasi.
Nala berdiri di pintu sambil memegang map penerimaannya.
“Bapak bahkan belum pulang, tapi rencananya sudah sampai duluan,” katanya.
Jagat melihat rak-rak besi disusun di garasi. Benda-benda itu tidak bersalah. Namun kehadirannya merupakan bahasa yang lebih keras daripada perdebatan: Pramono percaya keputusan anak-anaknya hanyalah penundaan sampai kenyataan yang ia bangun menjadi terlalu besar untuk ditolak.