Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #20

Tidak Semua yang Pergi Meninggalkan

Jagat memutuskan keluar dari rumah orang tuanya pada hari ketujuh, bukan setelah pertengkaran, melainkan setelah sebuah piring pecah karena tidak seorang pun berani mengatakan sedang marah.

Piring itu terlepas dari tangan Lestari saat sarapan. Ia jatuh di dekat wastafel dan pecah menjadi tiga bagian besar. Tidak ada yang terluka. Namun Pramono langsung berkata rak piring terlalu penuh, Lestari mengatakan tangannya licin, dan Nala mengaku meletakkan mangkuk di tempat yang salah malam sebelumnya.

Empat orang menawarkan diri sebagai penyebab sebelum siapa pun menerima kemungkinan paling sederhana: rumah itu sedang tegang dan semua orang bergerak dengan tubuh yang tidak pernah benar-benar santai.

Jagat mengambil sapu dan pengki. Ia meminta semua orang menjauh dari pecahan, lalu membersihkannya bersama Nala. Pramono tetap makan. Lestari mengganti piring seolah kejadian itu tidak berarti apa-apa.

Setelah meja bersih, Jagat berkata, “Saya akan tinggal di rumah Bayu untuk sementara.”

Sendok Pramono berhenti.

Lestari menatapnya. “Karena piring?”

“Bukan. Karena rumah ini butuh ruang.”

“Rumah kita punya tiga kamar,” kata Pramono.

“Bukan ruang lantai.”

Nala menunduk, mungkin teringat koper yang tidak pernah ia ketahui tetapi seolah memiliki saudara jauh di setiap keluarga: benda-benda yang mengambil ruang lebih besar daripada ukurannya.

Pramono meletakkan sendok. “Baru seminggu pulang sudah tidak betah.”

“Saya tidak pergi karena tidak betah.”

“Lalu?”

“Setiap percakapan sekarang terasa seperti ujian kesetiaan. Kalau saya makan di sini, dianggap menerima rencana Bapak. Kalau saya ke toko, bantuan dianggap latihan mengelola. Kalau saya keluar untuk menyiapkan wawancara, dianggap menghindari keluarga. Saya perlu tempat di mana kegiatan biasa tidak terus diberi makna lain.”

Lestari meremas serbet. “Kamu mau tinggal berapa lama?”

“Dua minggu dulu. Saya evaluasi setelah ada hasil pekerjaan dan setelah Nala berangkat. Alamatnya rumah Bayu. Saya kirim jadwal. Senin, Rabu, Jumat saya tetap bantu toko pukul delapan sampai dua belas seperti kesepakatan. Saya tetap ikut biaya rumah bulan ini. Kalau ada keadaan darurat, telepon. Untuk hal lain, kirim pesan dan saya jawab setelah sempat.”

“Kamu membuat aturan untuk bicara dengan orang tua?” tanya Pramono.

“Saya memberi kepastian supaya kepergian saya tidak berubah menjadi ancaman.”

“Ancaman dari siapa?”

“Dari penafsiran kita sendiri.”

Pramono tertawa pendek. “Kalau mau pergi, pergi saja. Tidak perlu presentasi.”

Jagat menatap ayahnya. “Saya menjelaskan karena saya tidak mau menghilang.”

Kalimat itu tinggal beberapa detik di meja.

Lestari memandang suaminya, kemudian Jagat. Ia mungkin teringat banyak kepergian dalam hidup orang lain, atau sekadar memahami bahwa seorang anak yang memberikan alamat, jadwal, dan tanggal evaluasi sedang melakukan kebalikan dari meninggalkan.

“Kamu bawa semua barang?” tanyanya.

“Pakaian dua minggu dan perlengkapan kerja. Meja gambar tetap di kamar. Kamar tidak dialihkan tanpa bicara.”

Pramono kembali makan. “Terserah.”

“Terserah berarti Bapak sudah mendengar, bukan menyetujui. Saya mengerti.”

Wajah Pramono mengeras, tetapi ia tidak membantah.

Nala berkata, “Aku berangkat magang dua belas hari lagi.”

“Aku tetap antar ke stasiun kalau kamu mau,” kata Jagat.

“Mau.”

“Anggaran terakhir kirim malam ini.”

“Siap, Pak Koordinator.”

Lestari hampir tersenyum, lalu menahannya karena merasa suasana tidak mengizinkan. Jagat berharap suatu hari ibunya berhenti meminta izin kepada ketegangan untuk merasa ringan.

Ia berangkat setelah zuhur.

Tidak membawa meja gambar.

Tidak membawa seluruh pakaian.

Tidak mengosongkan kamar seperti orang yang tidak akan kembali.

Di atas meja ia meninggalkan jadwal dua minggu, alamat Bayu, nomor darurat, serta daftar biaya rumah yang sudah ditransfer. Bukan agar keluarga mengetahui setiap geraknya, melainkan agar jarak tidak dapat dipakai siapa pun sebagai bukti bahwa ia lari dari tanggung jawab.

Ketika koper kecilnya melewati ruang tengah, Lestari berdiri dekat pintu.

“Makan malam?” tanyanya.

“Di rumah Bayu.”

“Besok?”

“Saya ke toko pagi. Setelah itu makan siang di luar karena ada persiapan kerja.”

“Rabu Ibu masak gudeg manggar.”

Jagat melihat jadwalnya. “Saya bisa makan siang di sini setelah toko kalau Ibu memang memasak untuk semua, bukan khusus memancing saya pulang.”

Lestari mengangkat alis. “Kamu pikir Ibu mau masak gudeg manggar cuma untuk satu anak keras kepala?”

“Berarti saya datang.”

Ibunya mengangguk. Tidak meminta ia membatalkan kepindahan.

Jagat mengucapkan salam kepada Pramono yang berada di halaman belakang. Ayahnya menjawab tanpa keluar.

Kemudian Jagat pergi dengan alamat yang diketahui semua orang dan tanggal kembali yang belum dipastikan.

* * *

Rumah Bayu berada dua puluh menit dari rumah orang tua mereka. Ada dua kamar tidur, satu ruang kecil yang digunakan untuk menyimpan mainan, dan sofa panjang yang bagian tengahnya sedikit turun.

Bayu serta istrinya, Hana, telah sepakat Jagat menggunakan ruang main sebagai tempat tidur selama dua minggu. Anak-anak mereka memindahkan balok, buku gambar, dan boneka dinosaurus ke kamar masing-masing dengan syarat Jagat membacakan cerita sebelum tidur tiga kali sepekan.

“Kontraknya ketat,” kata Jagat ketika keponakan sulungnya menyerahkan jadwal tertulis.

Hana berdiri di dekat meja makan. “Dia belajar dari pamannya.”

Jadwal itu dibuat dengan krayon dan memuat tiga kotak centang. Di bagian bawah terdapat klausul tambahan:

OM JAGAT TIDAK BOLEH MENGGAMBAR DINOSAURUS JELEK.

“Syarat subjektif,” kata Jagat.

“Pengguna akhir punya hak evaluasi,” jawab Bayu.

Malam pertama terasa aneh. Rumah itu tidak sunyi—ada suara anak berlari, mesin cuci, dan Hana mengingatkan Bayu menyiapkan seragam sekolah—tetapi Jagat tidak perlu menimbang setiap bunyi sebagai petunjuk suasana hati ayahnya.

Selepas isya, mereka duduk di meja makan membahas masa transisi Bayu.

“Aku sudah memberi tahu sekolah bahwa aku menerima jam penuh mulai bulan depan,” kata Bayu. “Toko punya enam minggu untuk mencari staf administrasi.”

“Bapak mulai mencari?”

“Belum.”

“Kalau tidak mulai?”

“Aku tetap berhenti pada tanggal yang sudah disampaikan.”

Hana memandang suaminya. “Kamu yakin?”

Bayu tersenyum lelah. “Tidak. Tapi kalau menunggu yakin, aku akan tetap melakukan dua pekerjaan sampai anak-anak kuliah.”

Jagat membuka lembar pembagian tugas toko yang Bayu bawa. “Apa yang hanya kamu tahu?”

“Jadwal pembayaran tiga pemasok, cara rekonsiliasi kas, dan kebiasaan pelanggan proyek.”

“Dokumentasikan. Jangan membuat dirimu tidak tergantikan lalu memakai itu sebagai alasan tidak boleh pergi.”

Bayu menatapnya. “Kamu belajar kalimat itu dari siapa?”

Jagat memikirkan perempuan yang namanya tidak pernah ia ucapkan di rumah tersebut. “Dari terlalu banyak orang yang lelah.”

Mereka menyusun rencana serah terima. Bukan agar Jagat menggantikan Bayu. Nama penanggung jawab sementara dibiarkan kosong sampai Pramono bersedia memilih solusi. Bayu hanya mendokumentasikan apa yang ia kerjakan, berapa lama waktunya, dan kompetensi staf yang dibutuhkan.

Pukul sembilan, Jagat menutup laptop.

“Cukup,” katanya.

“Belum selesai.”

“Kamu mengajar besok.”

“Aku biasa tidur jam dua belas.”

“Biasa bukan berarti baik.”

Hana mengangguk. “Saya suka sistem baru ini.”

Bayu menunjuk adiknya. “Dia hanya tinggal dua minggu.”

“Bisa diperpanjang.”

Jagat mengangkat kedua tangan. “Jangan membuat keputusan tempat tinggal tanpa persetujuan penghuni.”

Mereka tertawa.

Sejak pulang, baru malam itu Jagat tidur tanpa mempersiapkan argumen untuk sarapan esok hari.

Lihat selengkapnya