Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #21

Pesan yang Tidak Dikirim Langsung

Jagat bekerja selama enam minggu di pusat pelatihan sebelum mengizinkan dirinya memikirkan Aisha sebagai keputusan, bukan kenangan.

Enam minggu itu ia gunakan untuk memastikan tiga hal.

Pertama, pekerjaannya benar-benar berbeda dari Sembada. Perusahaan baru tidak memiliki hubungan kepemilikan dengan kantor Aisha. Ia tidak berada dalam proyek, vendor, atau jalur persetujuan yang dapat dipengaruhi Aisha.

Kedua, ia mampu menjalani pekerjaan tersebut tanpa menjadikan seorang perempuan yang belum memberi jawaban sebagai alasan untuk bertahan di Bekasi.

Ketiga, perasaan yang dibawanya dari Sembada tidak hilang setelah hidupnya kembali mempunyai jadwal, penghasilan, dan arah.

Hal ketiga justru menjadi paling jelas.

Aisha tidak muncul ketika Jagat kesepian. Ia muncul ketika Jagat berhasil.

Saat ilustrasi keselamatan pertamanya disetujui sebagai materi resmi, Jagat membayangkan Aisha memeriksa halaman kredit sebelum membaca isi. Ketika seorang pekerja baru mengoreksi tanda panah pada diagram jalur evakuasi, ia teringat bagaimana Aisha membedakan kritik terhadap pekerjaan dari penolakan terhadap orangnya. Saat makanan rapat datang dengan sambal tercampur, ia membaca label kotak dua kali sebelum menyadari bahwa tidak ada seorang pun di ruangan itu yang memahami mengapa hal tersebut lucu.

Itu bukan kebutuhan untuk diselamatkan.

Ia ingin membangun sesuatu yang dapat dibagikan.

Kesadaran itu tidak otomatis memberinya hak untuk menghubungi Aisha.

Pada Jumat malam selepas isya, Jagat menelepon Bayu.

Kakaknya mengangkat dari ruang makan. Suara anak-anak terdengar memperebutkan pensil warna di belakang.

“Sudah makan?” tanya Bayu.

“Sudah.”

“Sehat?”

“Sehat.”

“Uang aman?”

“Aman.”

“Kalau begitu ini pasti soal perempuan.”

Jagat terdiam.

Bayu menjauh dari keributan. Sebuah pintu tertutup, lalu suaranya menjadi lebih jelas. “Aku bercanda.”

“Saya tahu.”

“Tapi ternyata benar?”

“Ya.”

Hening di ujung sambungan berlangsung dua detik. Setelah itu Bayu berkata, “Sebentar. Aku ambil buku.”

“Kenapa buku?”

“Sejak kamu membawa sistem ke keluarga, aku tidak mau percakapan penting hanya mengandalkan ingatan.”

Jagat mendengar bunyi kursi ditarik dan halaman dibuka.

“Mulai,” kata Bayu.

Jagat menjelaskan tentang Aisha tanpa membicarakan hal-hal pribadi yang bukan miliknya untuk dibagikan. Ia menyebut bahwa mereka pernah bekerja pada proyek yang sama, bahwa Aisha berada di fungsi pengendalian sementara Jagat di lapangan, bahwa hubungan profesional mereka sudah berakhir, dan bahwa gosip di tempat kerja pernah membuat keduanya menjaga jarak lebih ketat.

Ia tidak menceritakan kondisi Ratih, urusan Farid, atau dua kotak obat.

“Sekarang kamu mau apa?” tanya Bayu.

“Saya ingin menanyakan apakah dia bersedia mendengar niat saya untuk mengenalnya dalam proses yang diarahkan kepada pernikahan.”

“Mendengar saja?”

“Ya. Bukan meminta jawaban menerima. Bukan meminta pertemuan.”

“Kenapa melalui aku?”

“Supaya dia tidak menerima pesan langsung yang membuatnya harus menjawab sendirian. Ibu tahu ada seseorang, tapi belum tahu nama. Bapak tahu secara umum. Saya ingin tahap pertama dilakukan oleh orang yang tidak akan mengumumkan hasil sebelum ada persetujuan.”

Bayu terdiam lagi. “Aku tersanjung sekaligus curiga.”

“Curiga apa?”

“Kamu memilihku karena aku tenang atau karena Ibu akan merencanakan warna baju sebelum perempuan itu mengatakan ya?”

“Keduanya.”

“Jujur sekali.”

“Saya belajar dari audit.”

Bayu tertawa kecil. “Kamu punya kontak keluarganya?”

“Tidak.”

“Teman dekatnya?”

“Tidak yang bisa saya hubungi tanpa melewati batas.”

“Lalu aku harus mengirim pesan kepada siapa?”

Jagat telah memikirkan pertanyaan itu selama dua pekan. Satu-satunya jalur yang masuk akal adalah Nisa. Namun ia tidak ingin Nisa menjadi pembawa lamaran, apalagi sumber informasi keluarga Aisha. Perannya harus sekecil mungkin: meminta izin kepada Aisha apakah boleh ada perantara keluarga yang menghubungi orang pilihannya.

“Nisa pernah bekerja bersama kami,” katanya. “Saya akan meminta izin kepadanya untuk memberi nomor Bayu, bukan nomor Aisha. Bayu menyampaikan satu pesan tertulis. Nisa tidak diminta membujuk atau memberi penilaian. Dia hanya meneruskan pertanyaan kepada Aisha: apakah bersedia menunjuk orang yang boleh mendengar maksud dari keluarga saya.”

“Kalau Nisa menolak?”

“Kita berhenti.”

“Kalau Aisha tidak menjawab?”

“Kita anggap tidak bersedia.”

“Kalau dia bersedia mendengar?”

“Baru identitas perantara keluarga dihubungkan. Tidak ada komunikasi langsung sampai dia menentukan caranya.”

Bayu menulis cukup lama. “Kamu sudah memikirkan ini seperti menyusun prosedur pengadaan.”

“Kalau saya datang dengan niat serius, saya tidak mau mengandalkan keberanian sesaat.”

“Baik. Kirim rancangan pesannya. Tapi aku akan mengubah kalau bahasanya terdengar seperti surat tender.”

Jagat mengembuskan napas yang baru ia sadari ditahan. “Terima kasih.”

“Jangan dulu. Aku belum membaca rancanganmu.”

* * *

Pesan kepada Nisa dikirim Jagat pada Sabtu pukul sepuluh pagi melalui nomor kerja yang dahulu digunakan untuk koordinasi pelatihan. Ia tidak langsung menyebut Aisha.

Assalamualaikum, Mbak Nisa. Saya hendak meminta bantuan terbatas yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Kalau Mbak tidak nyaman, silakan menolak tanpa perlu menjelaskan. Apakah saya boleh mengirim konteksnya?

Nisa membalas lima belas menit kemudian.

Waalaikumsalam. Boleh. Saya baca dulu sebelum menyetujui bantuannya.

Baru setelah itu Jagat menjelaskan. Ia menyatakan Bayu akan menjadi perantara awal. Nisa hanya diminta meneruskan pertanyaan izin kepada Aisha, tanpa memberikan nomor pribadi atau informasi keluarga kepada siapa pun.

Balasan Nisa datang satu jam kemudian.

Saya bersedia meneruskan pertanyaannya saja. Saya tidak bersedia menjadi penjamin karakter, pembawa jawaban, atau penghubung keluarga setelah itu.

Disepakati, jawab Jagat.

Ia mengirim nomor Bayu dengan izin kakaknya. Selanjutnya, Jagat keluar dari percakapan.

Bayu menunjukkan pesan yang hendak dikirim kepada Nisa melalui tangkapan layar:

Assalamualaikum, Mbak Nisa. Saya Bayu, kakak Jagat Pradana. Jagat meminta saya menjadi perantara awal untuk suatu niat pribadi yang serius. Kami tidak meminta nomor atau informasi keluarga Mbak Aisha. Mohon hanya tanyakan kepada beliau apakah bersedia menunjuk seorang kerabat tepercaya untuk mendengar maksud keluarga kami. Persetujuan mendengar tidak akan kami anggap sebagai persetujuan mengenal, melanjutkan proses, atau menerima lamaran. Jika beliau tidak bersedia atau tidak menjawab, kami tidak akan menghubungi lagi melalui jalur lain.

Jagat membacanya dua kali.

Bagus, tulisnya.

Bayu membalas:

Tentu. Aku guru bahasa angka.

Jagat tidak tahu apakah itu lelucon matematika atau profesi baru yang dibuat Bayu untuk dirinya sendiri.

Pesan dikirim pukul sebelas lewat dua puluh.

Setelah itu tidak ada yang dapat dilakukan Jagat tanpa mengubah kesungguhan menjadi tekanan.

Ia pergi ke pasar, mencuci pakaian, menyelesaikan dua ilustrasi pelatihan, dan menelepon Lestari mengenai obat Pramono. Ia tidak memeriksa ponsel setiap lima menit.

Setiap tujuh menit mungkin.

Pukul lima sore, Bayu mengirim pesan:

Lihat selengkapnya