Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #22

Pertemuan yang Bukan Lamaran

Pertemuan keluarga pertama mereka hampir dibatalkan karena sebuah desain undangan berwarna hijau sage.

Nala mengirimkannya ke grup keluarga Pradana tiga hari sebelum rombongan Yogyakarta berangkat ke Jakarta, pukul enam lewat empat belas pagi.

Di bagian atas tertulis nama JAGAT & AISHA dengan huruf sambung. Di bawahnya ada gambar dua helm proyek mengapit kalkulator, lalu kalimat:

Pertemuan Dua Keluarga — Semoga Tidak Ada Revisi Besar

Jagat yang sedang memeriksa daftar alat pelatihan membaca gambar itu dua kali untuk memastikan dirinya belum sepenuhnya bangun.

Pesan berikutnya segera datang.

Nala: Masih konsep. Jangan sebar.

Bayu: Kenapa ada desain undangan?

Nala: Biar pertemuan punya identitas visual.

Jagat: Hapus nama Aisha sekarang.

Tiga titik muncul di bawah nama Nala, menghilang, lalu muncul kembali.

Nala: Sudah. Maaf.

Gambar ditarik dari grup.

Jagat menelepon adiknya setelah pengarahan pagi selesai. Bukan untuk memarahinya, tetapi untuk memastikan satu hal dipahami.

“Nama orang tidak dipasang pada sesuatu yang belum dia setujui,” katanya.

“Aku tahu. Tadi kepikiran saja.”

“Kalau baru kepikiran, simpan di kepalamu dulu.”

“Aku sudah minta maaf.”

“Saya menerima.”

Nala diam sejenak. “Pertemuannya tetap jadi, kan?”

“Kalau keluarga Aisha tetap setuju setelah Bu Mira menerima susunan peserta.”

“Ini pertemuan pertama atau lamaran kecil?”

“Bukan lamaran dalam ukuran apa pun.”

“Terus aku datang sebagai apa?”

“Adik saya. Tidak membawa undangan, cincin, contoh dekorasi, atau pendapat tentang warna pakaian.”

“Kalau bawa kue?”

“Konsumsi sudah diatur tuan rumah.”

“Kakak sekarang terdengar lebih menakutkan daripada Mbak Aisha yang belum kukenal.”

“Itu tujuan pengarahan.”

Setelah panggilan berakhir, Jagat meminta Bayu memeriksa ulang pesan resmi yang sudah disepakati bersama Bu Mira.

Pertemuan akan berlangsung pada Minggu siang di rumah Bu Mira, bukan rumah Aisha. Pesertanya terbatas: Aisha, Ratih, Bu Mira, Jagat, Bayu, Lestari, Pramono, dan Nala. Hana tidak hadir karena anaknya sedang sakit, tetapi telah menyatakan persetujuannya atas peran Bayu sebagai penghubung. Tidak ada keluarga besar, tetangga, atau teman kantor.

Tujuannya dicantumkan dalam satu kalimat:

Menyampaikan niat Jagat secara langsung kepada Aisha dan keluarga, bertukar informasi dasar keluarga, serta memastikan apakah Aisha bersedia mempertimbangkan proses pengenalan yang terarah.

Topik yang tidak akan diputuskan hari itu juga ditulis jelas: tanggal pernikahan, tempat tinggal final, biaya acara, pemberian, cincin, dan bentuk lamaran.

Jawaban Aisha pada akhir pertemuan boleh berupa bersedia mempertimbangkan, belum siap, atau tidak melanjutkan.

Tidak ada pilihan keempat bernama keluarga sudah terlanjur datang.

Jagat membaca dokumen itu sekali lagi.

“Sudah cukup jelas,” katanya kepada Bayu melalui telepon.

“Bagus. Sekarang beri tahu Ibu bahwa beliau tidak perlu membawa hantaran.”

“Saya sudah bilang.”

“Beliau membuat tiga jenis kue.”

“Kue untuk dimakan boleh.”

“Beliau memasukkannya ke keranjang dengan pita.”

Jagat menutup mata. “Saya telepon Ibu.”

* * *

Di rumah Bu Mira, kepanikan mengambil bentuk taplak meja.

Ratih menggantinya tiga kali.

Yang pertama dianggap terlalu kusam. Yang kedua terlalu meriah. Yang ketiga berwarna putih gading dengan sulaman kecil di tepi, tetapi Ratih berkata warnanya membuat ruang tamu terlihat seperti tempat orang membicarakan warisan.

“Memangnya ada taplak khusus untuk mendengar niat laki-laki?” tanya Bu Mira.

“Setidaknya jangan yang seperti mau arisan.”

“Ini memang ruang tamu tempat aku arisan.”

Aisha berdiri di dekat jendela sambil membaca ulang daftar topik. “Pakai yang pertama. Tidak ada orang datang untuk menilai taplak.”

Ratih menoleh. “Kamu tahu dari mana?”

“Kalau keluarga itu menilai kita dari taplak, kita mendapat informasi penting lebih cepat.”

Bu Mira mengambil taplak pertama dan memasangnya kembali. “Keputusan audit.”

Ratih duduk, lalu berdiri lagi untuk memindahkan stoples kue dua senti ke kiri.

Aisha mengenakan tunik biru tua sederhana dan kerudung abu-abu. Tidak ada pakaian khusus yang dibeli. Bu Mira menyarankan demikian agar pertemuan tersebut tidak terasa seperti acara yang sudah mempunyai jawaban.

Meskipun begitu, Aisha telah mengganti kerudungnya dua kali sebelum berangkat.

Ia tidak menyukai fakta tersebut.

“Masih bisa dibatalkan,” kata Bu Mira, cukup pelan agar hanya Aisha yang mendengar.

“Aku tahu.”

“Masih bisa dihentikan ketika mereka sudah datang.”

“Aku tahu.”

“Masih bisa selesai tanpa pertemuan kedua.”

Aisha memandang bibinya. “Bibi sedang menenangkan atau mengajarkan cara evakuasi?”

“Keduanya.”

Ratih mendengar bagian terakhir. “Kenapa bicara evakuasi?”

“Tidak ada apa-apa,” jawab Aisha dan Bu Mira bersamaan.

Bel berbunyi pukul sebelas lewat lima puluh tujuh, tiga menit sebelum waktu yang disepakati.

Ratih berdiri terlalu cepat.

Bu Mira berkata, “Aku yang buka.”

Aisha tetap duduk. Ia mendengar salam dari teras, suara laki-laki yang dikenalnya, suara perempuan yang hangat, dan bunyi Pramono mengatakan sesuatu mengenai tempat parkir. Jantungnya berdetak seperti sedang menunggu hasil audit yang tidak mempunyai formula pemeriksaan.

Rombongan masuk dengan tertib sampai Nala muncul paling belakang membawa tabung gambar berwarna hitam.

Jagat menoleh kepadanya. “Itu apa?”

“Bukan undangan.”

“Nala.”

“Tugas magang. Aku baru dari stasiun dan tidak aman ditinggal di kendaraan.”

Bayu memeriksa label tabung. “Benar. Namanya sendiri.”

Lihat selengkapnya