Pada hari pertama dari tujuh hari yang dimintanya, Aisha menemukan empat alasan untuk melanjutkan dan tidak menuliskan satu pun.
Jagat mendengarkan sebelum menjawab. Ia tidak menyembunyikan ketidakpastian pekerjaannya. Ia mampu mengoreksi ayahnya tanpa mempermalukannya. Ia menunggu sampai hubungan profesional mereka benar-benar selesai. Ia meminta izin bahkan untuk menyampaikan niat.
Semua itu berada di kepala Aisha, jelas seperti angka yang sudah direkonsiliasi.
Kertas dua kolom di meja kamarnya tetap kosong.
Pada hari kedua, ia menemukan tiga alasan untuk berhenti.
Pekerjaan Jagat berbasis kontrak. Keluarganya belum sepenuhnya selesai dengan persoalan toko. Tempat tinggal setelah menikah akan rumit karena Aisha bekerja di Jakarta, Jagat di Bekasi, Ratih membutuhkan dukungan, dan orang tua Jagat berada di Yogyakarta.
Ketiga alasan itu pun tidak ia tulis.
Aisha mulai curiga lembar tersebut bukan alat bantu keputusan. Ia hanya cara lama untuk menciptakan ilusi bahwa setiap risiko dapat dibuat patuh dengan dua garis vertikal.
Pada hari ketiga, Ratih mulai sakit kepala.
Tekanan darahnya masih dalam batas yang diberikan dokter. Tidak ada mual, sesak, atau gangguan penglihatan. Namun ia duduk lebih lama di ruang tengah, memijat pelipis, dan beberapa kali berkata rumah terasa terlalu sepi meskipun televisi menyala.
Aisha memeriksa obat, jadwal makan, dan hasil pengukuran tekanan darah.
“Ibu sudah minum cukup?”
“Sudah.”
“Makan siang habis?”
“Setengah.”
“Kenapa?”
“Tidak selera.”
Aisha melihat semangkuk sayur yang masih berada di meja. “Karena sakit kepala?”
Ratih menatap televisi. “Mungkin.”
Jawaban itu memiliki bentuk yang sama dengan banyak jawaban lama: cukup kabur untuk membuat Aisha terus bertanya dan cukup lemah untuk membuatnya merasa kejam jika berhenti.
Aisha mengambil ponsel. “Aku telepon klinik.”
“Tidak perlu.”
“Kalau sakit kepalanya baru dan membuat Ibu tidak makan—”
“Bukan sakit seperti itu.”
“Lalu?”
Ratih mematikan televisi. Ruangan langsung sunyi.
“Ibu kepikiran.”
“Tentang pertemuan kemarin?”
Ratih mengangguk.
Aisha duduk di kursi seberang, tidak di samping ibunya. “Bagian mana?”
“Semuanya.”
“Itu bukan bagian.”
“Cara mereka bicara. Cara bapaknya melihat rumah. Cara ibunya membawa kue. Adiknya membuat undangan sebelum kamu menjawab.”
“Nala sudah meminta maaf.”
“Ibu tahu.”
“Pak Pramono juga menahan diri dari beberapa pertanyaan.”
“Ibu tahu.”
“Lalu apa yang membuat Ibu sakit kepala?”
Ratih meremas ujung sarung bantal sofa. “Mereka keluarga lengkap.”
Aisha tidak menyangka itu jawabannya.
“Maksud Ibu?”
“Ayah, ibu, kakak, adik. Ramai. Mereka punya toko, rumah, urusan sendiri. Kalau kamu masuk ke keluarga itu, kamu akan punya tempat lain yang lebih lengkap.”
Aisha menatap ibunya. “Keluarga bukan paket dengan nilai kelengkapan.”
“Kamu tahu maksud Ibu.”
“Aku tidak yakin.”
“Mereka bisa memberimu hal-hal yang tidak bisa Ibu berikan.”
“Seperti apa?”
“Orang tua lengkap. Saudara. Rumah untuk pulang.”
Kalimat terakhir hampir membuat Aisha marah. Rumah yang selama ini dipertahankan Ratih sebagai bukti bahwa ia tidak ditinggalkan kini dijadikan alasan bahwa keluarga lain dapat mengambil Aisha.
“Aku sudah punya rumah untuk pulang,” kata Aisha. “Walaupun mungkin rumahnya akan kita jual.”
“Itu dia.” Mata Ratih mulai basah. “Semua berubah bersamaan. Rumah dijual. Kamu mungkin menikah. Nanti Ibu tinggal di rumah kecil, lalu kamu datang seminggu sekali kalau sempat.”
“Kita bahkan belum memilih rumah.”
“Karena pada akhirnya kamu akan memilih hidupmu.”
Aisha mendengar tuduhan dan pengakuan dalam kalimat yang sama.
“Ya,” katanya. “Aku akan memilih hidupku.”
Ratih menunduk. “Ibu tahu.”
“Tapi tahu dan menerima bukan hari yang sama?”
Ratih menatapnya. Itu kalimat yang pernah ia ucapkan tentang koper Farid.
“Ibu tidak sedang menunggu dua puluh tiga tahun untuk menerimanya,” lanjut Aisha. “Aku belum mengatakan akan menikah. Aku baru mempertimbangkan percakapan terarah.”
“Kalau kamu masuk proses, ujungnya jelas.”
“Tidak. Ujungnya bisa lanjut atau berhenti.”
“Kalau berhenti, kamu akan sedih.”
“Itu risiko yang harus aku nilai.”
“Kalau lanjut, Ibu kehilangan kamu.”
Aisha menarik napas perlahan. “Ibu tidak boleh membuat dua pilihan itu sama-sama menjadi alasan untuk melarangku bergerak.”
Ratih berdiri. “Ibu tidak melarang.”
“Belum memakai kata itu.”
“Ibu cuma bilang Ibu tidak setuju.”
Aisha mengangkat wajah. “Tidak setuju aku mendengar lebih jauh atau tidak setuju aku menikah dengan Jagat?”
“Dua-duanya.”
Jawaban itu datang cepat, seolah telah menunggu celah.
“Berdasarkan apa?”
“Banyak hal.”
“Sebutkan.”
“Pekerjaannya kontrak. Tinggalnya sewa. Ayahnya keras. Dia dari keluarga yang jauh. Kamu baru mengenal dia di pekerjaan.”
“Itu kekhawatiran yang bisa dibicarakan.”
“Lalu kenapa harus dibicarakan kalau dari awal sudah banyak masalah?”
“Karena tidak ada orang datang tanpa keadaan hidup.”
“Kamu membelanya.”
“Aku sedang memeriksa alasan Ibu.”
“Aisha, Ibu membesarkanmu sendirian. Ibu tahu laki-laki bisa bicara baik saat ingin sesuatu.”
“Aku juga tahu.”
“Tidak. Kamu cuma tahu dari laporan dan rapat. Ibu pernah menikah.”
“Aku hidup dengan akibat pernikahan Ibu selama dua puluh tiga tahun.”
Ratih tersentak seolah ditampar.
Aisha menyesal, tetapi tidak dapat mengatakan kalimat itu sepenuhnya salah. Ia berdiri dan merapikan kotak obat hanya agar tangannya tidak diam.
“Aku tidak bermaksud menjadikan pengalaman Ibu tidak penting,” katanya. “Tapi kegagalan Bapak bukan bukti semua proses akan berakhir sama.”
“Ibu tidak bilang semua laki-laki sama.”
“Ibu bilang Jagat bisa menjadi Bapak tanpa bukti, lalu meminta aku berhenti sebelum mendapat bukti lain.”
Ratih mengusap air mata. “Karena Ibu tidak sanggup kalau ternyata benar.”
“Itu ketakutan Ibu.”
“Dan kamu anak Ibu.”
“Dua hal itu tidak membuat ketakutan Ibu menjadi keputusanku.”
Ratih masuk kamar dan menutup pintu.