Ketika Angka Menjadi Rumah

Jane Lestari
Chapter #24

Batas yang Bernama Kasih Sayang

Pada minggu pertama masa penundaan, Ratih menghubungi konselor tanpa memberi tahu Aisha.

Aisha mengetahuinya karena Bu Mira datang pada Selasa sore membawa dua bungkus tahu isi dan ekspresi seseorang yang sedang menyimpan berita tetapi ingin ditanya lebih dahulu.

“Kenapa melihatku begitu?” tanya Aisha.

Bu Mira meletakkan tahu di meja. “Begitu bagaimana?”

“Seperti Bibi baru menemukan kuitansi yang mau disembunyikan.”

“Aku tidak pernah menyembunyikan kuitansi.”

“Bulan lalu Bibi bilang harga tirai seratus lima puluh ribu. Di nota dua ratus dua puluh.”

“Itu karena ongkos pasang.”

“Bibi pasang sendiri.”

Bu Mira membuka bungkus tahu. “Kita sedang membahas masalah lain.”

Ratih keluar dari kamar membawa ponsel dan tas kecil. Ia mengenakan tunik cokelat muda yang biasa dipakai ke klinik.

Aisha berdiri. “Ibu mau ke mana?”

Ratih memasukkan kotak obat ke dalam tas. “Keluar.”

“Ke mana?”

“Bertemu orang.”

“Siapa?”

Ratih menatap Bu Mira, lalu Aisha. “Konselor itu.”

Aisha memerlukan beberapa detik untuk menahan seluruh respons yang ingin keluar bersamaan: rasa lega, keinginan memastikan alamat, pertanyaan tentang metode konseling, biaya, keamanan, dan apakah konselor tersebut memiliki kualifikasi yang tepat.

“Namanya siapa?” hanya itu yang ia tanyakan.

“Bu Sinta. Bibi sudah periksa.”

Aisha melihat Bu Mira.

“Psikolog klinis,” kata bibinya. “Praktik di pusat layanan keluarga dekat rumah sakit. Aku akan antar dan menunggu di luar. Janjinya satu jam.”

Aisha mengangguk. “Baik.”

Ratih tampak tidak puas. “Kamu tidak mau tanya kenapa Ibu jadi pergi?”

“Aku ingin tahu. Tapi Ibu boleh cerita setelah pulang atau tidak sama sekali.”

“Kalau Ibu tidak cocok, Ibu tidak lanjut.”

“Itu keputusan Ibu.”

“Kalau biayanya mahal?”

“Kita lihat anggaran kesehatan dan pilihan layanan. Jangan putuskan sebelum tahu.”

Ratih memegang tali tas lebih erat. “Kamu tidak ikut?”

Aisha mengenali pertanyaan sebenarnya: apakah kamu masih akan menemaniku ketika aku mencoba hidup tanpa menjadikanmu satu-satunya penopang?

“Pertemuan pertama ini Ibu pilih pergi dengan Bibi,” katanya. “Kalau nanti konselor meminta sesi keluarga dan Ibu setuju, aku akan datang.”

Ratih mengangguk. Ia berjalan menuju pintu bersama Bu Mira, lalu berbalik.

“Ada tahu isi.”

“Aku lihat.”

“Jangan dihabiskan.”

“Untuk berapa orang?”

“Bukan semua kasih sayang harus dibagi rata,” jawab Ratih.

Bu Mira tertawa dari teras. Aisha hampir mengatakan pembagian yang tidak jelas menimbulkan konflik, tetapi pintu sudah tertutup.

Rumah menjadi sunyi.

Dahulu kesunyian semacam itu akan membuat Aisha memeriksa lokasi ponsel ibunya, menghubungi Bu Mira di tengah perjalanan, lalu mengirim pesan tiga puluh menit kemudian untuk menanyakan apakah sesi sudah selesai. Kali ini ia menaruh ponsel di kamar dan duduk di meja makan dengan lembar anggaran baru.

Ia membuat tiga kelompok biaya.

KEBUTUHAN WAJIB RATIH: tempat tinggal aman, makanan, obat, pemeriksaan kesehatan, transportasi medis, dan pendampingan yang disepakati.

PILIHAN RATIH: kegiatan sosial, perabot tambahan, perjalanan, hobi, serta pengeluaran yang dapat disesuaikan dengan dana miliknya.

KEBUTUHAN AISHA: tabungan pribadi, tempat tinggal, kesehatan, pengembangan karier, ibadah, istirahat, dan masa depan yang belum memiliki bentuk tetap.

Aisha menatap kelompok terakhir cukup lama.

Selama ini kebutuhannya sendiri selalu muncul sebagai sisa. Kalau setelah obat, tagihan, perbaikan rumah, dan pengeluaran mendadak masih ada uang, barulah ia menabung. Kalau setelah Ratih tenang masih ada waktu, barulah ia beristirahat. Kalau setelah semua orang merasa aman masih ada bagian hidup yang belum digunakan, barulah Aisha mempertimbangkan apa yang ia inginkan.

Ia membuka rekening terpisah dan mengatur transfer otomatis pada hari gajian.

Jumlahnya tidak besar. Namun untuk pertama kali, tabungannya tidak menunggu izin dari keadaan darurat orang lain.

* * *

Ratih pulang dua jam kemudian dengan wajah lelah dan bungkus tisu yang sudah terbuka di dalam tas.

Aisha tidak bertanya bagaimana sesinya. Ia menuangkan air hangat, meletakkannya di meja, lalu kembali pada laptop.

Ratih duduk di seberang. “Bu Sinta banyak bertanya.”

Aisha menunggu.

“Dia tanya apa yang Ibu takutkan kalau kamu menikah.”

Aisha menutup laptop setengah. “Ibu jawab apa?”

“Bahwa Ibu takut sendirian.”

“Lalu?”

“Dia tanya sendirian itu seperti apa.” Ratih mengusap bibir gelas. “Ternyata Ibu tidak punya satu jawaban. Kadang maksudnya tidak ada orang di rumah. Kadang tidak punya orang untuk ditelepon. Kadang takut sakit. Kadang takut kamu lebih suka keluarga lain.”

Aisha mendengarkan tanpa meyakinkan bahwa semua itu tidak akan pernah terjadi.

“Bu Sinta bilang hal-hal itu butuh solusi berbeda,” lanjut Ratih. “Kalau takut jatuh, solusinya bukan memintamu tidak menikah. Kalau takut tidak ada teman, solusinya bukan membuatmu pulang cepat setiap hari.”

“Masuk akal.”

“Ibu tahu masuk akal.” Ratih terdengar tersinggung. “Bukan berarti enak didengar.”

Aisha menahan senyum. “Betul.”

“Dia juga bilang Ibu memakai sakit dan kesepian untuk meminta kepastian.”

Aisha tidak berkata akhirnya ada yang bilang.

Ratih melihatnya curiga. “Kamu senang?”

“Tidak. Aku berharap Ibu tidak perlu hidup secemas itu.”

Jawaban tersebut melunakkan sesuatu pada wajah Ratih.

“Ibu belum tentu kembali minggu depan.”

“Baik.”

“Tapi ada jadwal yang tersedia.”

“Kalau Ibu mau mengambilnya, ambil sendiri.”

“Bu Sinta sudah memberi nomor administrasi.”

Aisha mengangguk. “Berarti Ibu punya caranya.”

Ratih menatap laptop. “Kamu sedang membuat apa?”

“Pembagian anggaran baru.”

Kewaspadaan kembali ke wajah ibunya. “Karena biaya konseling?”

“Bukan hanya itu. Kita perlu membedakan kebutuhan Ibu, pilihan Ibu, dan kebutuhan hidupku.”

Aisha memutar layar agar dapat dibaca bersama. Ia menjelaskan setiap kelompok, rekening rumah tangga, biaya kesehatan, dana Ratih setelah rumah terjual, dan jumlah yang akan Aisha kontribusikan setiap bulan.

“Angkanya turun,” kata Ratih.

“Kontribusiku ke kebutuhan wajib tetap cukup. Yang berhenti adalah pengeluaran tambahan yang tidak dibicarakan.”

“Seperti apa?”

“Cicilan perabot yang dibeli karena diskon, pinjaman kepada kenalan tanpa kesepakatan, atau renovasi kosmetik rumah baru.”

Ratih terlihat tersinggung. “Ibu cuma sekali membeli lemari diskon.”

“Dua kali. Yang kedua rak sepatu.”

“Itu bukan lemari.”

“Masalah kategorinya kita bahas nanti.”

Ratih membaca lagi. “Kalau Ibu mau ikut wisata pengajian?”

“Dari dana pilihan Ibu. Aku bisa membantu menghitung, bukan otomatis membayar.”

“Kalau kurang?”

“Ibu memilih menunda, mengurangi pengeluaran lain, atau meminta bantuan sebagai permintaan yang boleh kujawab ya atau tidak.”

“Anak sekarang pakai hak menolak kepada ibu?”

“Anak dewasa selalu punya hak menilai kemampuan. Selama ini aku hanya jarang menggunakannya.”

Ratih menyandarkan punggung. “Jadi ini akibat Jagat?”

“Tidak. Jagat membuat persoalannya terlihat, tapi anggaran ini akan tetap berlaku kalau aku memutuskan tidak melanjutkan.”

“Kalau kamu tidak menikah, kenapa perlu tempat tinggal sendiri?”

“Karena aku ingin belajar tinggal sebagai orang dewasa yang tidak selalu siaga terhadap suasana hati di rumah.”

Ratih menatap kelompok KEBUTUHAN AISHA. “Kamu menulis istirahat.”

“Ya.”

“Istirahat tidak perlu biaya.”

“Kadang perlu. Bantuan rumah, transportasi yang lebih aman saat lelah, cuti yang tidak dipakai untuk mengurus dokumen, atau sekadar tidak mengambil pekerjaan tambahan.”

Ratih diam.

Aisha menunggu serangan berikutnya. Yang datang justru pertanyaan lirih.

Lihat selengkapnya