Lima bulan kemudian, pada pukul delapan lewat tujuh menit pagi, Jagat Pradana menjawab ijab kabul dalam satu tarikan napas.
Suaranya tidak terlalu keras. Tidak bergetar seperti yang dikhawatirkan Nala, tidak pula berubah menjadi suara pemimpin pengarahan pagi seperti yang diramalkan Bayu. Kalimat itu keluar jelas, disaksikan keluarga, penghulu, dan sejumlah orang yang benar-benar mengenal perjalanan mereka—bukan semua orang yang pernah merasa berhak mendapat undangan.
Akad dilangsungkan di masjid dekat rumah baru Ratih. Ruang utamanya sederhana, dengan karpet hijau tua dan cahaya pagi yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Para perempuan mengikuti dari bagian yang telah disiapkan, melalui layar serta pengeras suara. Tidak ada pelaminan besar. Tidak ada lorong bunga. Nala merancang kartu acara berwarna putih gading setelah memperoleh izin tertulis atas nama dan tata letaknya.
Di bagian depan kartu hanya ada satu kalimat:
Dua keluarga datang untuk menyaksikan dua orang memilih berjalan bersama.
Pramono membaca kalimat itu pada malam sebelumnya dan berkata kata memilih terlalu sering muncul dalam keluarga mereka belakangan ini.
Lestari menjawab, “Bagus. Berarti akhirnya semua mengerti.”
Pramono tidak membantah.
Setelah akad dinyatakan sah, orang-orang mengucapkan hamdalah. Lestari menangis ke dalam saputangan yang telah disiapkan sejak subuh. Bayu menutup wajah sebentar. Nala lupa menekan tombol rekam pada ponselnya sendiri, meskipun ia telah membuat daftar dokumentasi dua halaman.
Pramono duduk di samping Jagat. Ia tidak memeluk anaknya di depan semua orang. Hanya mengangguk dengan mata yang lebih basah daripada biasa, lalu berkata, “Tanggung jawabnya sekarang lebih banyak.”
Jagat menjawab, “Iya, Pak. Diputuskan berdua.”
Ayahnya membuka mulut, mungkin hendak memberi nasihat tambahan, lalu menutupnya kembali. “Iya.”
Di ruang perempuan, Ratih menangis tanpa suara.
Aisha duduk di samping Bu Mira. Tunik putih dan kerudungnya tidak mewah. Tangannya berada di atas pangkuan, dingin meskipun ruangan cukup hangat. Ketika penghulu mengumumkan akad sah, ada bagian dalam dirinya yang menunggu rasa takut besar datang—ketakutan bahwa ia baru saja meninggalkan ibunya, rumahnya, atau hidup yang selama ini dijaga dengan kedua tangan.
Yang datang justru ketenangan tipis.
Bukan kepastian bahwa semua akan baik.
Hanya kesadaran bahwa keputusan itu miliknya.
Ratih mengusap matanya dan berkata, “Sudah.”
Aisha menoleh. “Apa?”
“Sudah sah.”
“Iya.”
Ratih memegang ujung saputangannya sendiri lebih erat. “Kamu tetap anak Ibu.”
Aisha tersenyum. “Dan sekarang aku juga istri Jagat. Keduanya tidak saling menghapus.”
Ratih mengangguk. Kalimat itu masih membuatnya sedih, tetapi tidak lagi terdengar seperti ancaman.
Pertemuan Aisha dan Jagat setelah akad berlangsung di ruang serbaguna masjid, dengan kedua keluarga dan para saksi berada di sekeliling mereka. Meja tidak lagi diletakkan sebagai batas wajib. Namun kebiasaan berbulan-bulan menjaga jarak membuat keduanya berhenti beberapa langkah lebih jauh daripada yang diperlukan.
Jagat memandang Aisha seolah baru berani mengakui bahwa semua jalan memang menuju ke sana.
Aisha menahan tatapannya. “Sekarang boleh tersenyum.”
Jagat berkedip. “Saya sedang tersenyum.”
“Wajahmu seperti menunggu hasil tender.”
Beberapa orang di dekat mereka tertawa.
“Saya sedang memastikan tidak ada revisi,” jawab Jagat.
Aisha hampir tertawa saat penghulu masih memberi nasihat kepada tamu lain.
Bu Mira berdeham dari belakang. “Sah bukan berarti semua agenda dibatalkan.”
Bayu mengangkat map tipis. “Benar. Masih ada tanda terima mahar dan dokumen administrasi.”
Nala menatap kakak-kakaknya. “Keluarga kita merusak semua suasana romantis.”
“Justru ini romantis,” kata Aisha. “Dokumennya lengkap.”
Jagat tertawa. Suara itu membuat Aisha sadar bahwa ia sekarang boleh berdiri lebih dekat tanpa menyalahi batas yang selama ini mereka jaga.
Jagat mengulurkan tangan dengan telapak terbuka, tidak langsung mengambil tangannya. Tawaran, bukan asumsi.
Aisha melihatnya beberapa detik.
Lalu meletakkan tangannya di sana.
Sentuhan pertama itu sederhana. Tidak mengubah ruangan, tidak menyembuhkan luka masa lalu, dan tidak membuat semua orang lain menghilang. Telapak Jagat terasa hangat. Pegangannya cukup pasti untuk mengatakan ia hadir dan cukup longgar untuk memberi Aisha ruang menarik diri.
Aisha tidak menarik diri.
Nala mengeluarkan bunyi kecil seperti orang yang baru melihat akhir film kesukaannya.
Pramono berkata, “Jangan berlebihan.”
“Itu cuma pegang tangan, Pak,” balas Nala.
“Makanya jangan dibuat seperti kejadian nasional.”
Ratih menyeka mata lagi. “Memang kejadian besar.”
Pramono menoleh kepadanya. “Saya tidak bilang tidak besar.”
Dalam waktu kurang dari satu menit, kedua orang tua itu mulai berdebat mengenai definisi peristiwa besar. Lestari dan Bu Mira saling memandang, lalu tertawa.
Aisha melihat semua orang yang berdiri di sekeliling mereka—keluarga yang keras, takut, hangat, berubah sedikit-sedikit, dan tetap belum sempurna.
Ia menoleh kepada suaminya.
“Masih ingin melanjutkan?” tanyanya pelan.
Jagat memahami lelucon yang menyimpan pertanyaan sungguhan.
“Ya,” katanya. “Tapi kalau kita terus berdiri di sini, makanannya habis.”
“Keputusan berbasis risiko.”
“Suami akuntan harus adaptif.”
Mereka berjalan menuju meja keluarga tanpa melepaskan tangan sampai Aisha sendiri memilih mengambil map dokumen dari Bayu.
Tidak ada yang mengambil keputusan itu darinya.
* * *
Rumah sewa mereka memiliki dua kamar, satu ruang kerja kecil, dapur yang lebih luas daripada dapur baru Ratih, dan atap yang diperiksa Jagat tiga kali sebelum kontrak ditandatangani.
Pada bulan pertama, mereka belajar bahwa kesepakatan yang bagus di atas kertas tetap membutuhkan orang yang mau bangun dari tempat tidur dan menjalankannya.
Evaluasi mingguan pertama gagal karena Jagat pulang terlambat dan Aisha sudah tertidur di sofa dengan laptop terbuka.
Evaluasi kedua berubah menjadi perdebatan mengenai siapa yang lupa membeli gas.
Evaluasi ketiga dibatalkan karena keduanya terlalu lelah.
Pada evaluasi keempat, Aisha berkata, “Sistem kita tidak berjalan.”
Jagat yang sedang duduk di lantai dekat meja rendah mengangguk. “Karena sistemnya buruk atau penggunanya memberontak?”
“Keduanya.”
Mereka mengubah evaluasi mingguan menjadi dua bagian. Lima belas menit untuk hal praktis: uang, jadwal, keluarga, pekerjaan rumah. Setelah itu satu pertanyaan yang tidak boleh dijawab dengan rencana tindakan kecuali diminta:
Bagaimana keadaanmu minggu ini?
Pada minggu pertama memakai format baru, Jagat menjawab, “Senang. Lelah. Dan sedikit takut kamu mengetahui saya tidak serapi yang terlihat.”
Aisha melihat kabel pengisi daya yang melilit di dekat kakinya, dua kaus yang belum dilipat, dan gelas kosong di meja gambar.
“Tidak pernah terlihat rapi,” katanya.
Jagat tertawa. “Nah, rasa takutnya hilang.”
Kemudian ia bertanya hal yang sama kepada Aisha.
Aisha hampir mengatakan baik. Jawaban otomatis, pendek, dan tidak membutuhkan siapa pun melakukan apa-apa.
“Aku kewalahan,” katanya. “Promosi ini lebih berat daripada yang kubayangkan. Aku takut kalau mengurangi pekerjaan, orang menganggap aku tidak mampu. Aku juga takut kalau terus begini, aku kembali memakai lelah sebagai identitas.”
Jagat tidak menawarkan jadwal baru. Tidak menyuruhnya berhenti. Tidak berkata semua akan baik.
“Apa yang kamu butuhkan dari saya malam ini?” tanyanya.
“Dengarkan saja.”
Jagat mendengarkan.
Mereka tidak selalu berhasil.
Suatu malam Pramono menelepon saat makan malam dan meminta Jagat memeriksa penawaran renovasi pelanggan. Jagat berkata akan melihat setelah makan, padahal mereka telah sepakat waktu malam tertentu tidak dipakai untuk urusan toko kecuali darurat.
Aisha menjadi formal.