Langkah Pertama di Universitas Marmara---
Pukul enam pagi, ketika semburat merah keemasan mulai membelah langit Selat Bosphorus, udara dingin khas Istanbul menyelinap melalui celah jendela kamar kos tua berukuran tiga kali tiga meter di kawasan Besiktas. Ammar menggeliat, menarik selimut usang lebih erat ke dadanya sebelum akhirnya memutuskan untuk menyerah pada alarm ponselnya yang berdering nyaring. Hari ini adalah hari pertama. Bukan sekadar hari biasa, melainkan lembaran baru dalam hidupnya sebagai mahasiswa pascasarjana Jurusan Manajemen Industri di Universitas Marmara. Sebuah impian yang ia perjuangkan dengan menepis segala keterbatasan finansial dan jarak ribuan kilometer dari tanah air.
Ia bangkit, merapikan tempat tidur lipatnya dengan cekatan, lalu melangkah menuju kamar mandi bersama di ujung koridor lantai dua. Air dingin yang membasuh wajahnya seketika merontokkan sisa-sisa kantuk, menggantinya dengan debaran antisipasi yang bercampur cemas. Di atas meja kayu kecil yang merangkap meja belajar sekaligus tempat menyetrika, selembar jadwal kuliah tercetak tebal. Ammar memandangi dokumen itu sambil meneguk segelas air hangat dari termos kecil miliknya.
"Bismillah. Ini baru awal, Ammar. Jangan gentar dengan fasilitas yang pas-pasan," gumamnya pelan pada pantulan dirinya di cermin retak gantung.
Fasilitas pas-pasan bukanlah isapan jempol. Kampus tua tempatnya bernaung memang memiliki sejarah panjang dan prestisius, tetapi gedung departemen pascasarjana manajemen industri tampak kontras dengan kemegahan arsitektur Utsmaniyah di bagian lain kota. Ruangan kelasnya berada di gedung sayap barat yang lorong-lorongnya berbau semen tua dan cat mengelupas. Pemanas ruangan di sana sering kali berdengung bising tanpa menghasilkan panas yang memadai, sementara meja-meja kayunya sudah dipenuhi guratan ukiran tangan mahasiswa tahun-tahun sebelumnya.
Ammar mengenakan jaket tebal berwarna hitam kesayangannya, menyampirkan tas ransel berisi laptop tua dan beberapa buku catatan kosong, lalu keluar kamar kos. Langkah kakinya menyusuri jalanan berbatu menurun menuju halte trem terdekat. Deru kendaraan kota mulai menggeliat, berpadu dengan suara teriakan para penjual simit—roti berwijen khas Turki—yang hangat mengepul dari gerobak kaca di trotoar.
"Günaydın, Abi!" sapa seorang pedagang tua ramah tatkala Ammar melintas.
"Günaydın, efendim," balas Ammar sambil tersenyum hangat, meski kantongnya menjerit mengingat kalkulasi pengeluaran bulanan yang sangat ketat.
Sesampainya di kompleks Universitas Marmara, suasana sudah cukup hidup. Mahasiswa hilir mudik di bawah naungan pohon-pohon berdaun jarang yang meranggas menyambut musim gugur. Ammar, dengan bermodal peta digital di ponsel dan petunjuk dari papan pengumuman utama, menyusuri koridor lantai tiga gedung departemen manajemen industri. Jantungnya berdegup lebih kencang ketika ia berdiri tepat di depan pintu kayu berlabel Ruang 304: Pengantar Manajemen Industri Lanjut.
Ia menarik napas dalam-dalam, memegang gagang pintu yang terasa dingin, lalu mendorongnya perlahan. Suara derit engsel pintu seketika mencuri perhatian belasan pasang mata yang sudah duduk di dalam ruangan. Ruangan itu tidak terlalu besar; pencahayaannya remang-remang karena lampu neon di langit-langit berkedip pelan.
"Silakan masuk, anak muda. Jangan berdiri di ambang pintu seperti penjaga gerbang," sebuah suara bariton yang tegas dan berwibawa memecah keheningan. Profesor Orhan, dosen pengampu mata kuliah tersebut, berdiri di dekat papan tulis putih dengan spidol di tangan kanannya. Penampilannya khas akademisi senior: jas tweed abu-abu kusut, kacamata berbingkai tanduk yang melorot di ujung hidung, dan sorot mata tajam yang seolah mampu menembus isi kepala siapa pun.
"Maaf, Profesor. Saya Ammar, mahasiswa baru dari Indonesia," ucap Ammar dengan bahasa Inggris beraksen hati-hati, merasa pipinya mendadak panas.
"Ah, mahasiswa asing kita yang datang dari negeri tropis. Selamat datang di Marmara, Ammar. Cari kursi yang kosong dan lekas buka catatanmu. Kita tidak punya waktu untuk bernapas panjang di kelas ini," sahut Profesor Orhan tanpa senyum, meski ada nada ramah terselubung di balik ketegasannya.
Ammar mengangguk cepat, lalu berjalan menyusuri barisan bangku kayu. Ia memilih duduk di sudut barisan kedua dari belakang. Di sebelah kanannya, seorang pemuda berambut bergelombang dengan jaket kulit cokelat menoleh dan menyunggingkan senyum tipis.
"Emre," bisik pemuda itu memperkenalkan diri saat Profesor Orhan mulai membalikkan badan menuliskan rumus efisiensi rantai pasok di papan tulis.
"Ammar," balas Ammar berbisik lirih.
Pertemuan pertama langsung dimulai tanpa basa-basi. Profesor Orhan langsung menghantam para mahasiswanya dengan studi kasus nyata mengenai inefisiensi pabrik tekstil di Bursa akibat rantai pasok yang terputus. Angka-angka, grafik fluktuasi mata uang, hingga teori manajemen operasional modern meluncur deras dari mulut sang profesor. Ammar mencatat secepat kilat, jemarinya menari di atas kertas putih, berusaha menangkap setiap esensi materi di tengah keterbatasan fasilitas ruangan yang minim proyektor digital modern—hanya berbekal papan tulis putih dan proyektor tua yang gambarnya tampak buram di dinding.
❖ ❖ ❖
Kelar dari kelas Profesor Orhan yang menguras energi mental, Ammar dan Emre berjalan berdampingan menuju kafetaria kecil di lantai dasar gedung. Bau kopi instan dan roti keju panggang menguar menyambut kedatangan mereka. Suasana kantong kering Ammar langsung bergolak ketika ia melihat daftar harga di dinding papan tulis kantin; secangkir teh hitam (cay) seharga empat lira, sementara porsi sup lentil hangat dibanderol dua puluh lira.
"Kau tampak pucat, Ammar. Apakah kuliah Profesor Orhan terlalu mematikan untuk hari pertama?" tanya Emre sambil meletakkan nampannya di atas meja kayu bundar yang catnya sudah terkelupas di sudut ruangan.
Ammar terkekeh kecil sambil menarik kursi plastik berwarna hijau kusam. "Bukan materinya saja, Emre. Tapi juga realitas bahwa dompetku harus bekerja lebih keras daripada otakku di kota ini."
"Ah, masalah klasik mahasiswa pascasarjana. Kau tinggal di mana?"
"Di Besiktas, kos kecil di dekat pasar ikan. Sewanya murah, tapi fasilitasnya... yah, kau bisa bayangkan sendiri. Air panas kadang menyala sesuka hatinya."
"Selamat datang di Istanbul," tukas Emre tertawa renyah. "Kota impian bagi para pelancong, tapi medan pertempuran bagi para pencari ilmu."
Percakapan ringan mereka mendadak terhenti ketika seorang wanita paruh baya berambut kelabu rapi, mengenakan setelan blazer biru tua, mendekati meja mereka. Itu adalah Ibu Fatma, staf administrasi senior departemen pascasarjana yang terkenal disiplin dan jarang tersenyum kepada mahasiswa baru.
"Ammar? Mahasiswa asal Indonesia?" tanya Ibu Fatma dengan nada datar.
Ammar langsung berdiri, merapikan jaketnya refleks. "Iya, benar, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Surat rekomendasi beasiswa penunjang penelitianmu dari lembaga mitra belum diverifikasi secara lengkap oleh kantor keuangan universitas. Ada kesalahan pada lampiran nomor rekening bank lokalmu. Jika tidak diselesaikan sebelum hari Jumat, pencairan dana bulan ini akan ditangguhkan."
Darah Ammar mendadak berdesir cepat. Penangguhan dana berarti ia tidak bisa membayar sewa kos bulan depan, belum lagi biaya transportasi dan buku referensi wajib yang harganya selangit.
"Ditangguhkan, Bu? Tapi semua dokumen sudah saya serahkan minggu lalu melalui sistem daring," sanggah Ammar dengan suara tertahan, berusaha menjaga sopan santun di depan staf senior itu.
"Sistem daring sering kali mengalami kendala sinkronisasi data antar-fakultas, nak. Urusi itu segera di gedung rektorat lama lantai dua. Jangan tunda," ujar Ibu Fatma singkat, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Emre menatap Ammar dengan pandangan prihatin. "Wah, sambutan hari pertama yang luar biasa. Birokrasi universitas tua kita ini memang terkenal hobi menguji kesabaran jiwa."