Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Sang Primadona

Sang Primadona dan IPK Sempurna – Kemunculan Dilara---

Suasana kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis pada pukul sepuluh pagi selalu menghadirkan riuh yang konstan. Bau biji kopi panggang bercampur aroma mi instan rebus menguar di udara, berpadu dengan suara dentingan sendok porselen dan gelak tawa mahasiswa tingkat akhir yang tengah merayakan selesainya seminar proposal. Di sudut paling timur, dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman rektorat, Farhan duduk termenung di balik tumpukan kertas laporan praktikum statistika. Matanya menyipit menatap layar laptop yang menampilkan grafik regresi linier berganda yang berantakan.

"Sudah sampai mana, Han? Jangan bilang angka-angkanya masih menolak tunduk pada rumusmu," suara Rian membuyarkan lamunan Farhan. Rian datang membawa nampan berisi dua gelas es teh manis dan sepiring tahu goreng yang masih mengepulkan uap panas. Ia melabuhkan duduknya di kursi kayu yang berderit pelan.

Farhan menghela napas panjang, menutup layar laptopnya separuh. "Bukan cuma menolak tunduk, Yan. Angka-angka ini seperti sengaja mempermainkan kewarasanku. Setiap kali aku masukkan variabel moderasi, hasilnya selalu signifikan secara negatif. Padahal hipotesisku positif. Kalau dosen pembimbing kita, Pak Hendra, melihat hasil ini besok pagi, aku yakin kepalaku akan jadi bahan eksperimen berikutnya."

Rian tertawa renyah sambil mengambil sepotong tahu goreng dan mencelupkannya ke dalam sambal petis. "Makanya, jangan terlalu idealis dalam merumuskan hipotesis. Ilmu itu dinamis, Bro. Kalau datanya tidak sesuai teori, ya teorinya yang kita sesuaikan sedikit, atau paling tidak metodenya kita perhalus. Tapi omong-omong soal ketegangan akademik, kudengar hari ini ada pemandangan yang bakal membuat seluruh mahasiswa tingkat akhir di gedung utama mendadak amnesia sejenak dari skripsi mereka."

"Pemandangan apa lagi? Demonstrasi mahasiswa menuntut penurunan harga parkir?" tanya Farhan datar.

"Bukan. Jauh lebih menarik dan elegan dari itu," jawab Rian dengan nada setengah berbisik, matanya menyapu sekeliling kantin seolah sedang membocorkan rahasia negara. "Dilara. Hari ini dia dikabarkan akan turun langsung ke perpustakaan pusat untuk menyerahkan naskah hibah penelitiannya yang disponsori langsung oleh grup perhotelan ayahnya."

Mendengar nama itu, Farhan terdiam sejenak. Nama Dilara bukanlah sesuatu yang asing di telinga civitas akademika Universitas Airlangga. Gadis itu adalah legenda hidup di kalangan mahasiswa strata satu. Selain dikenal sebagai mahasiswi berprestasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif yang selalu berada di angka sempurna yaitu empat koma nol sejak semester pertama, Dilara juga merupakan putri tunggal dari salah satu pengusaha perhotelan terbesar di kawasan Jawa Timur. Kecerdasannya yang cemerlang diimbangi dengan keanggunan dan ketaatan beragama yang membuat banyak orang menjulukinya sebagai sang primadona kampus yang tak tersentuh.

"Lagi pula, kenapa kau harus peduli soal Dilara? Dia kan berada di orbit yang jauh berbeda dari kita," ucap Farhan, mencoba kembali fokus pada layar laptopnya. "Kita ini mahasiswa jalur perjuangan beasiswa yang harus begadang tiap malam, sementara dia adalah pewaris takhta yang hidupnya sudah diatur rapi oleh garis keturunan dan kecerdasan luar biasa."

"Bukan soal minder, Farhan. Ini soal apresiasi estetika terhadap kesempurnaan ciptaan Tuhan," balas Rian membela diri. "Bayangkan saja, kecerdasan setara profesor ekonomi, paras wajah yang menenangkan, dan latar belakang keluarga konglomerat yang dermawan. Konon, beasiswa penuh yang kau dapatkan tahun ini juga sebagian besar berasal dari program CSR perusahaan ayahnya. Jadi, secara tidak langsung, kau itu sedang berkuliah menggunakan fasilitas yang dibangun oleh keluarga Dilara."

Farhan mendengus pelan, merasakan ada sedikit rasa usil yang menusuk harga dirinya. "Jangan ngawur. Beasiswa ini kudapatkan murni karena hasil tes tertulis dan prestasi akademikku selama tiga semester awal, bukan karena belas kasihan seorang pengusaha hotel."

"Aku tidak bilang itu belas kasihan, Han. Aku hanya menyatakan fakta struktural bahwa dunia ini memang tidak adil bagi kita yang miskin harta tapi kaya beban," ujar Rian sambil terkekeh pelan. "Tapi sudahlah, mari kita lihat apakah hari ini kau punya cukup keberuntungan untuk sekadar berpapasan dengan sang primadona di lorong fakultas."

Di tengah percakapan ringan tersebut, tiba-tiba suasana di sekitar kantin berangsur-angsur menjadi lebih senyap. Suara bising kursi yang digeser dan gelak tawa mahasiswa perlahan mereda, digantikan oleh bisik-bisik tertahan dari arah pintu masuk utama kantin. Farhan yang awalnya enggan memerhatikan, mau tak mau ikut mengarahkan pandangannya ke sumber keramaian.

❖ ❖ ❖

Kehadiran Dilara di area fakultas selalu membawa aura tersendiri yang sulit diabaikan. Hari itu, ia mengenakan setelan gamis panjang berwarna dusty rose dengan paduan jilbab segi empat berwarna senada yang disematkan dengan bros mutiara sederhana namun elegan. Di sampingnya berjalan dua orang staf administrasi fakultas yang tampak membawakan beberapa map tebal, sementara Dilara sendiri berjalan dengan langkah tenang, menebarkan senyuman ramah kepada siapa saja yang menyapanya, tanpa sedikit pun menyembunyikan keanggunan alaminya.

"Tuh kan, baru saja dibicarakan, orangnya sudah muncul seperti malaikat penolong di tengah gurun pasir skripsi," bisik Rian menyenggol lengan Farhan.

Farhan terpaku sejenak. Untuk ukuran seorang putri konglomerat yang terbiasa dikelilingi kemewahan, Dilara sama sekali tidak memancarkan kesan sombong atau angkuh. Wajahnya memancarkan ketenangan yang khas, hasil dari didikan keluarga religius dan disiplin tinggi. Namun, yang membuat jantung Farhan berdegup sedikit lebih kencang bukan hanya pesona fisiknya, melainkan fakta bahwa arah langkah gadis itu kini tertuju tepat ke meja tempat ia dan Rian duduk.

"Selamat pagi, Farhan. Dan juga Rian," suara lembut itu terdengar jelas ketika Dilara berdiri tepat di samping meja mereka.

Rian seketika tersedak es teh manis yang sedang diteguhnya, buru-buru mengambil tisu untuk membersihkan meja sementara Farhan langsung berdiri kikuk dari duduknya.

"Eh, selamat pagi juga, Dilara," jawab Farhan dengan nada kaku, berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik ekspresi netral. "Ada keperluan apa sampai sudi mampir ke sudut kantin yang berantakan ini?"

Dilara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang selalu berhasil membuat suasana di sekitar mendadak terasa lebih sejuk. "Aku tidak sengaja melihat laporan statistika yang terbuka di laptopmu tadi saat lewat, Farhan. Maaf, bukan maksudku mengintip, tapi grafik regresi linier yang kau kerjakan itu sepertinya mengalami kesalahan spesifikasi pada variabel moderasi. Kalau kau menggunakan uji selisih mutlak, hasilnya pasti akan bias."

Farhan tertegun. Dalam hitungan detik, gadis di hadapannya itu mampu membaca kerumitan data yang sejak semalam membuatnya nyaris stres. "Uji selisih mutlak? Tapi bukankah itu metode standar yang diajarkan di kelas ekonometrika?"

"Standar, tapi tidak untuk data time-series dengan volatilitas tinggi seperti yang sedang kau teliti tentang sektor pariwisata daerah," jelas Dilara dengan nada tenang namun sangat otoritatif dalam bidang keilmuannya. "Kau seharusnya menggunakan pendekatan Moderated Regression Analysis dengan interaksi perkalian langsung antara variabel independen dan moderatornya, lalu lakukan uji asumsi klasik ulang untuk heteroskedastisitasnya."

Penjelasan singkat itu meluncur begitu lancar tanpa kesan menggurui, menunjukkan penguasaan materi yang luar biasa mendalam. Rian yang duduk di sebelah Farhan hanya bisa mencengangkan mulutnya, menatap Dilara seolah gadis itu baru saja menurunkan wahyu dari langit ekonomi.

"Bagaimana kau bisa langsung tahu hanya dalam sekali lihat?" tanya Farhan dengan rasa penasaran yang teramat sangat.

"Karena aku menggunakan dataset yang hampir mirip untuk penelitian hibah tahun lalu," jawab Dilara ramah. "Jika kau butuh referensi literatur tambahan atau catatan kuliahku, katakan saja pada Rian. Dia tahu persis bagaimana cara menghubungiku."

Sebelum Farhan sempat merespons lebih jauh, salah satu staf administrasi memanggil Dilara karena jadwal penyerahan naskah hibah di ruang dekan sudah hampir dimulai. Dilara menganggukkan kepala sopan, pamit undur diri dengan senyuman terakhir yang kembali membuat kantin terasa sunyi sesaat setelah ia berlalu.

Lihat selengkapnya