Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

di Lorong Sejarah

Pertemuan di Lorong Sejarah---

Matahari sore menyemburkan bias jingga keemasan yang menembus kaca patri jendela lantai dua Perpustakaan Pusat Universitas. Debu-debu halus menari di udara dalam garis cahaya, menciptakan suasana yang tenang sekaligus khidmat di antara deretan rak buku tua beraroma kertas usang. Tempat ini adalah benteng ketenangan bagi Ammar, seorang mahasiswa sejarah semester akhir yang selalu menghabiskan waktu luangnya untuk meriset naskah-naskah kuno Nusantara. Bagi Ammar, keheningan perpustakaan adalah kemewahan yang tidak boleh diganggu oleh apa pun, terutama oleh kebisingan dunia luar yang serba cepat.

Di tangannya, sebuah buku tebal bersampul kulit hitam legam terbuka perlahan. Ia duduk di meja kayu jati panjang di sudut ruangan, dikelilingi oleh tumpukan referensi kolonial. Pikirannya sedang melayang jauh ke masa lampau, menelusuri jejak-jejak perdagangan rempah abad ketujuh belas yang luput dari catatan resmi.

"Fokus, Ammar. Jangan sampai tenggelam terlalu dalam," gumamnya pelan pada diri sendiri, mencoba mengusir kantuk yang mulai merayap di kelopak matanya setelah berjam-jam membaca.

Tanpa ia sadari, dari ujung lorong rak nomor empat yang dipenuhi ensiklopedia dunia, sesosok bayangan bergerak terburu-buru. Dilara, mahasiswi baru jurusan Arkeologi yang dikenal ceroboh namun memiliki rasa ingin tahu luar biasa, sedang membawa setumpuk besar jurnal penelitian yang hampir menutupi pandangannya. Kakinya melangkah cepat karena ia takut terlambat mengembalikan buku-buku tersebut sebelum perpustakaan ditutup dalam waktu tiga puluh menit ke depan.

"Aduh, kenapa harus menumpuk sebanyak ini sih?" keluh Dilara dalam hati, napasnya sedikit tersengal karena beban berat di pelukannya.

Karena pandangannya terhalang oleh tumpukan jurnal setinggi dagu, Dilara tidak melihat ada sebuah kursi kayu yang sedikit keluar dari jalurnya. Kakinya tersandung kaki kursi tersebut, membuat keseimbangannya langsung hilang seketika. Tumpukan kertas dan buku di tangannya mulai meluncur ke depan seperti longsoran salju kecil.

"Kyaaa!" teriak Dilara tertahan, berusaha menyelamatkan buku-buku penting itu agar tidak jatuh berserakan di lantai marmer.

Suara teriakan kecil itu memecah keheningan perpustakaan seketika. Ammar yang tadinya tenggelam dalam bacaan mendadak terperanjat dari kursinya. Sebelum ia sempat berdiri sepenuhnya, sebuah bayangan meluncur cepat ke arah mejanya.

Brak!

Tabrakan keras tidak bisa dihindari. Dilara menubruk meja tempat Ammar duduk, membuat beberapa tumpukan buku sejarah di atas meja Ammar ikut tersapu jatuh. Buku-buku berhamburan ke lantai, sementara tubuh Dilara terdorong ke depan dan hampir jatuh menimpa pangkuan Ammar, sebelum akhirnya tangan sigap Ammar refleks mencengkeram kedua lengan Dilara untuk menahan keseimbangan mereka berdua.

Suasana menjadi sangat sunyi, kecuali suara desau pendingin ruangan dan napas mereka yang berkejaran. Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat—hanya terpaut beberapa sentimeter saja. Ammar menatap sepasang mata cokelat terang milik Dilara yang membelalak kaget, sementara Dilara tertegun menatap wajah pemuda di depannya yang tampak begitu kaget namun tetap tenang di balik kacamata berbingkai tipis.

"Ehm... maaf! Aku benar-benar tidak sengaja!" ucap Dilara tergesa-gesa, pipinya langsung merona merah padam karena malu. Suaranya bergetar pelan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Ammar yang masih memegang lengannya.

"Tidak apa-apa. Tapi lain kali, kumohon, perhatikan jalanmu. Ini perpustakaan, bukan lapangan pacu," balas Ammar dengan nada datar, meski jantungnya sendiri berdegup jauh lebih kencang dari biasanya akibat insiden yang terjadi tiba-tiba ini.

Dilara mengerjap, sedikit tersinggung dengan nada bicara Ammar yang terkesan dingin, namun ia sadar dirilah yang salah. "Aku sedang buru-buru, dan tumpukan buku ini terlalu tinggi sampai aku tidak bisa melihat jalan. Jadi, jangan menyalahkanku sepenuhnya."

"Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya mengingatkan," jawab Ammar sambil melepaskan pegangannya dari lengan Dilara secara perlahan. Ia lantas berlutut untuk memungut buku-buku miliknya yang berserakan di lantai.

Dilara ikut berjongkok, membantu memungut jurnal-jurnal miliknya yang tercampur dengan buku-buku sejarah milik Ammar. Jemari mereka sempat bersentuhan saat hendak mengambil sebuah buku catatan bersampul hijau tua. Ada sengatan listrik kecil yang terasa aneh di kulit mereka, membuat keduanya sama-sama menarik tangan sesaat sebelum akhirnya Ammar mengambil buku tersebut.

"Buku ini... milikmu?" tanya Ammar sambil menyerahkan jurnal arkeologi bersampul hijau itu kepada Dilara.

Dilara menerima buku itu dengan cepat, menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah. "Iya, itu punyaku. Terima kasih."

Petugas perpustakaan di meja sirkulasi melirik tajam ke arah mereka berdua akibat suara gaduh tadi, membuat Ammar dan Dilara langsung terdiam kaku. Ammar berdiri lebih dulu, merapikan jas almamaternya yang sedikit kusut, sementara Dilara membereskan sisa buku di pelukannya dengan gerakan canggung.

❖ ❖ ❖

Kejadian di lorong perpustakaan itu seharusnya menjadi pertemuan singkat yang terlupakan begitu mereka keluar dari gedung. Namun, takdir rupanya memiliki rencana lain yang jauh lebih rumit bagi keduanya. Dua hari setelah insiden tabrakan tersebut, Ammar kembali menemukan sebuah buku catatan milik Dilara yang tertinggal di bawah meja tempat mereka bertubrukan—buku bersampul hijau tua yang ternyata berisi sketsa-sketsa artefak kuno serta catatan lapangan ekspedisi arkeologi bawah air.

Ammar awalnya berniat menyerahkan buku itu ke bagian layanan kehilangan di perpustakaan. Akan tetapi, ketika ia membuka halaman pertama buku tersebut, ia melihat sebuah nama tertulis dengan rapi: Dilara Paramesti – Arkeologi 2024. Di samping nama itu, terdapat sketsa peta kuno Pelabuhan Sunda Kelapa abad keenam belas yang kebetulan sedang menjadi topik riset utama Ammar saat ini.

"Peta ini... ini sketsa dari naskah Banten Lama yang hilang," gumam Ammar takjub saat mengamati goresan pensil di buku tersebut. Rasa penasarannya mendesak untuk segera menemui pemilik buku itu secara langsung.

Pencarian Ammar membawanya ke laboratorium arkeologi di gedung Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya pada siang hari yang terik. Suasana di koridor fakultas itu cukup sibuk oleh lalu-lalang mahasiswa yang membawa peralatan lapangan. Melalui jendela kaca laboratorium, Ammar melihat Dilara sedang berdiri di depan meja besar, berdebat sengit dengan seorang dosen pembimbing mengenai sampel pecahan tembikar yang baru saja mereka temukan di situs muara sungai.

"Aku yakin pecahan ini berasal dari era Kesultanan Demak, Pak, bukan dari masa kolonial Belanda!" seru Dilara dengan nada penuh keyakinan, gestur tangannya bergerak aktif menjelaskan bentuk pola hiasan pada pecahan keramik tersebut.

Lihat selengkapnya