Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Bayang-Bayang Waktu

Bayang-Bayang Waktu – Refleksi Ammar mengenai detik-detik waktu yang terbuang jika ia hanya mengandalkan harta orang tuanya---

Malam itu, jam dinding antik di sudut ruang keluarga berdetak dengan suara yang begitu nyaring, seolah-olah berlomba dengan detak jantung Ammar yang tidak beraturan. Lampu meja belajar menyala temaram, memantulkan bayangan tubuhnya yang kurus di atas tumpukan buku tebal dan catatan keuangan yang berantakan. Di luar jendela, hujan gerimis turun perlahan, membasahi kaca dan menciptakan melodi monoton yang kian menambah keheningan malam.

Ammar menatap layar laptopnya yang menampilkan grafik pendapatan bisnis rintisan yang baru ia bangun selama tiga bulan terakhir. Angkanya kecil, nyaris tidak terlihat jika dibandingkan dengan skala usaha logistik milik ayahnya yang telah merajai pasar regional.

"Sudahlah, Ammar. Kenapa kamu harus menyiksa diri dengan tidur larut malam demi angka sekecil itu?" Suara lembut ibunya terdengar dari ambang pintu. Sang ibu membawa secangkir teh chamomile hangat, meletakkannya dengan hati-hati di sebelah tumpukan kertas. "Ayahmu sudah menyiapkan semuanya untukmu. Kamu tinggal duduk manis, memegang tampuk pimpinan saat usiamu matang nanti. Tidak perlu ada keringat, tidak perlu ada air mata."

Ammar mendongak, menatap mata ibunya yang memancarkan rasa sayang yang begitu dalam, namun juga kekhawatiran yang teramat sangat. "Ibu tidak mengerti," jawab Ammar pelan, suaranya serak karena kelelahan. "Bukan itu yang aku cari."

"Lalu apa lagi yang kamu cari, Nak? Harta kita lebih dari cukup untuk menghidupi tujuh turunan. Kamu bisa pergi ke belahan dunia mana pun besok pagi tanpa harus memikirkan darimana uang tiket itu berasal," balas ibunya sambil mengusap lembut rambut Ammar.

"Justru itu masalahnya, Bu," kata Ammar, suaranya bergetar menahan gejolak di dada. "Aku takut. Aku takut semua fasilitas ini membuatku lupa caranya berjuang. Aku takut waktu yang kumiliki terbuang sia-sia hanya karena aku terlena di atas kasur empuk yang dibeli oleh kerja keras Ayah."

Ibunya terdiam sejenak, menarik napas panjang sebelum berkata, "Kenyamanan bukanlah dosa, Ammar. Itu adalah buah dari kerja keras orang tuamu agar anak-anaknya tidak merasakan pahitnya hidup."

"Tapi kenyamanan tanpa usaha adalah racun bagi jiwa, Bu," ucap Ammar lirih. Ia kembali menatap layar laptopnya, sementara bayangan masa depan melintas di benaknya bagaikan film bisu yang suram.

Di dalam lamunannya, ia melihat dirinya sepuluh tahun ke depan. Seorang pria paruh baya yang tidak memiliki keahlian apa pun selain menghabiskan warisan. Pria yang tidak tahu bagaimana rasanya mengatasi kegagalan, tidak tahu betapa berharganya satu rupiah hasil keringat sendiri, dan yang paling menakutkan: pria yang kehilangan rasa hormat dari orang-orang di sekitarnya karena ia tidak lebih dari sekadar parasit yang hidup dari sisa kejayaan masa lalu orang tuanya.

"Setiap detik yang berlalu di sini, di ruangan yang nyaman ini, terasa seperti pasir yang lepas dari genggamanku," lanjut Ammar, menatap ibunya dengan tatapan penuh permohonan agar dimengerti. "Jika aku hanya mengandalkan harta mereka, aku sedang membeli kematian sebelum waktuku tiba. Kematian ambisi, kematian kreativitas, dan kematian harga diri."

Ibunya menghela napas panjang, menyadari bahwa tekad anaknya telah berakar terlalu dalam untuk dicabut oleh sekadar buaian kemudahan materi. "Baiklah, Ammar. Jika itu jalan yang kamu pilih, jalani. Tapi ingatlah, pintu rumah ini selalu terbuka jika dunia luar terlampau kejam bagimu."

"Terima kasih, Bu," kata Ammar tersenyum tipis. Selepas kepergian ibunya, Ammar kembali menatap jam dinding. Detik demi detik terus berputar. Setiap bunyi 'tik-tok' seolah berbisik di telinganya, mengingatkannya bahwa waktu adalah satu-satunya mata uang yang tidak bisa dibeli kembali dengan seluruh kekayaan ayahnya.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ujian yang sesungguhnya. Ketika modal usahanya mulai menipis dan klien pertamanya tiba-tiba membatalkan kontrak secara sepihak, Ammar merasakan hantaman mental yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Telepon genggamnya berdering. Itu adalah ayahnya.

"Ammar, kemarilah ke kantor pusat siang ini," suara berat ayahnya terdengar tegas dari seberang sambungan. "Ada posisi direktur operasional yang kosong di cabang utama. Ayah sudah siapkan surat pengangkatannya. Kamu bisa mulai Senin depan."

Ammar terdiam sejenak. Tenggorokannya terasa kering. Tawaran itu adalah jalan keluar instan dari segala kekalutan finansial dan tekanan mental yang sedang ia hadapi. Dengan satu kata 'ya', seluruh masalahnya selesai dalam sekejap. Ia tidak perlu lagi begadang, tidak perlu pusing memikirkan arus kas, dan namanya akan langsung dihormati oleh ribuan karyawan.

"Bagaimana, Ammar? Kamu diam saja," desak ayahnya di ujung sana.

"Ayah..." Ammar menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Terima kasih banyak atas kepercayaan Ayah. Tapi... aku tidak bisa menerimanya."

Suasana di seberang mendadak hening. Hening yang sangat panjang dan mencekam.

"Apa maksudmu tidak bisa?" suara ayahnya meninggi, menyiratkan kekecewaan bercampur amarah yang tertahan. "Ayah menawarkan masa depan yang cerah di atas piring emas, dan kamu menolaknya begitu saja demi bisnis kecil yang hampir bangkrut itu?"

"Ini bukan soal bisnis kecil, Ayah," jawab Ammar dengan suara bergetar namun tegas. "Ini soal harga diriku sebagai seorang pria. Jika aku menerima posisi itu sekarang, aku tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan. Aku akan menjadi pemimpin yang tidak kompeten, yang menduduki kursi kekuasaan bukan karena kapasitas, melainkan karena hubungan darah."

"Jangan bicara soal harga diri padaku!" bentak ayahnya. "Kamu pikir kekayaan yang kamu nikmati selama ini datang dari langit? Itu hasil dari darah, keringat, dan air mata Ayah selama puluhan tahun! Dan sekarang kamu membuang kesempatan emas itu hanya demi idealisme bodohmu?"

"Justru karena aku menghargai kerja keras Ayahlah aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri!" seru Ammar, nyaris berteriak. "Aku tidak mau menjadi bayang-bayang besar Ayah sepanjang hidupku. Aku ingin orang-orang melihat Ammar, bukan sekadar anak dari pemilik perusahaan besar."

Lihat selengkapnya