Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Kehadiran Tariq

Kehadiran Tariq Al-Ghazali---

Langit di atas kampus Universitas Istanbul di distrik Beyazit membentang luas dengan warna biru cerah yang menyegarkan. Udara pagi musim semi membawa aroma dedaunan basah dan bunga tulip yang mulai mekar di halaman utama rektorat. Di bawah naungan pohon rindang dekat perpustakaan pusat, seorang pemuda berpostur tegap dengan kemeja flanel abu-abu dan tas ransel tersampir di satu bahu sedang melangkah santai menyusuri jalan setapak berbatu. Namanya Ammar Fathan. Di sela-sela kesibukannya merawat manuskrip kuno di Kitap Evi, Ammar adalah seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Sejarah Peradaban Islam yang berdedikasi tinggi.

Bagi Ammar, kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu akademis, melainkan sebuah ruang refleksi di mana masa lalu dan masa kini berdialog secara konstan. Namun, hari ini suasana hatinya tidak setenang biasanya. Pikiran Ammar masih melayang pada dokumen-dokumen sandi dan peta navigasi rahasia yang beberapa waktu lalu nyaris merenggut ketenangan hidupnya. Ia berjalan dengan tatapan menerawang, mencoba memetakan ulang prioritas hidupnya di antara dunia akademik dan bayang-bayang masa lalunya yang kelam.

"Hei, Fathan! Kalau kamu terus berjalan sambil menatap lantai seperti itu, bukan cuma batu pijakan yang akan kamu tabrak, tapi mungkin juga tiang lampu taman itu," sebuah suara bariton yang hangat dan akrab memecah lamunannya.

Ammar mendongak dan melihat seorang pemuda bertubuh tinggi, mengenakan jaket rajut cokelat tua dengan senyum tersungging di bibirnya, sedang berdiri menghalangi jalannya sambil melipat tangan di dada. Namanya Tariq Al-Ghazali, sahabat karib Ammar sejak semester pertama di fakultas yang sama. Tariq dikenal di lingkungan kampus sebagai sosok mahasiswa yang cerdas, sangat kritis terhadap dinamika sosial-politik kontemporer, namun memiliki kedalaman spiritual yang membuat banyak dosen dan mahasiswa Respect kepadanya.

Ammar tersenyum lebar, garis-garis ketegangan di wajahnya perlahan mencair. "Ah, Tariq. Maafkan aku. Pagi ini pikiranku sedang berkelana jauh menembus batas benua."

"Menembus benua? Atau jangan-jangan pikiranmu sedang terjebak di ruang arsip bawah tanah lagi?" tanya Tariq setengah bercanda, lalu menepuk bahu Ammar dengan mantap. "Kamu ini, Fathan, hidup di abad ke-21 tapi jiwanya seolah masih hidup di era Kesultanan Utsmaniyah abad ke-16. Ayo berjalan. Kita punya waktu setengah jam sebelum kuliah Sejarah Politik Maritim dimulai."

Mereka berdua mulai melangkah bersama menyusuri pelataran kampus yang dikelilingi arsitektur klasik bergaya neo-klasik dan Islam. Mahasiswa berlalu-lalang membawa buku-buku tebal, sebagian berdiskusi dengan penuh semangat di bawah bayangan pilar-pilar batu besar.

"Bagaimana progres penelitian manuskrip abad pertengahanmu?" tanya Tariq memulai percakapan yang lebih serius sembari menyesap kopi dari cangkir kertas di tangan kanannya. "Profesor Erdem mengatakan bahwa tesis yang sedang kamu garap memiliki potensi besar untuk mengubah cara pandang kita terhadap rute perdagangan kuno di Laut Hitam."

"Progresnya berjalan, Tariq, tapi ada beberapa bagian yang rasanya sengaja dikaburkan dalam catatan aslinya," jawab Ammar dengan nada rendah, berhati-hati agar pembicaraan mereka tidak menarik perhatian orang lain di sekitar koridor kampus. "Ada jaringan informasi yang jauh lebih besar di balik lembaran-lembaran peta itu—sesuatu yang melibatkan kepentingan strategis lintas negara."

Tariq menghentikan langkahnya sejenak, menoleh menatap tajam ke dalam mata Ammar. Senyum santai di wajahnya berganti dengan ekspresi serius. "Kamu berbicara tentang intrik lagi, Fathan? Ingatlah, dunia modern ini terkadang tidak digerakkan oleh kebenaran sejarah, melainkan oleh siapa yang memegang kendali atas arus informasi dan energi. Jangan sampai rasa penasarannya justru membawamu pada masalah yang tidak bisa kamu kendalikan."

"Aku tidak mencari masalah, Tariq. Masalahlah yang seolah terus menemukannya," balas Ammar getir.

"Justru karena itulah kamu butuh perspektif yang lebih objektif," kata Tariq menasihati dengan nada kebapakan yang khas dari seorang sahabat sejati. "Ilmu dan sejarah itu harus mencerahkan, bukan menghancurkan hidup pelakunya. Mari kita fokus dulu pada kuliah pagi ini. Profesor Erdem terkenal sangat ketat, dan aku tidak ingin melihatmu mendapat teguran lagi karena melamun di barisan depan."

Ammar mengangguk pelan, menyetujui saran sahabatnya itu. Mereka berdua segera mempercepat langkah menuju ruang kuliah utama di lantai dua gedung fakultas sejarah. Namun, di balik obrolan ringan di koridor kampus tersebut, benih-benih kecurigaan baru mulai tumbuh—karena tanpa mereka sadari, gerak-gerik Ammar sejak masuk gerbang universitas telah diawasi oleh sesosok pria berjas rapi yang berdiri di balik pilar marmer jauh di seberang halaman.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam ruang kuliah Sejarah Politik Maritim terasa tenang namun penuh konsentrasi. Puluhan mahasiswa duduk di bangku-bangku bertingkat, mendengarkan penjelasan Profesor Erdem yang berdiri di depan papan tulis besar berisi skema rute pelayaran kuno laksamana-laksamana Muslim.

Ammar duduk di barisan ketiga bersama Tariq. Di hadapan Ammar terbentang buku catatan terbuka, tetapi ujung penanya hanya terdiam di atas kertas putih. Pikirannya kembali terganggu oleh bayangan pertemuan singkatnya dengan Elif beberapa hari lalu serta peringatan keras dari Tariq di koridor tadi.

"Perhatikan baik-baik peta di slide ini," suara berwibawa Profesor Erdem menggema di seluruh ruangan, menunjuk sebuah proyeksi digital peta kuno di dinding depan. "Banyak sejarawan mengira bahwa jalur pelayaran Utsmaniyah di Laut Hitam semata-mata bersifat komersial. Namun, temuan arsip terbaru menunjukkan adanya sistem koordinat rahasia yang berfungsi sebagai pertahanan strategis dan pusat kendali sumber daya energi maritim masa lalu."

Mendengar kata-kata Profesor Erdem, kepala Ammar mendadak terasa berdenyut. Kalimat itu persis seperti apa yang tertera dalam anotasi catatan ayah Elif. Ia melirik sekilas ke arah Tariq di sebelah kanannya. Tariq tampak serius mencatat setiap poin penting yang disampaikan dosen, namun sesekali melirik Ammar dengan tatapan penuh selidik, seolah bisa membaca gejolak batin sahabatnya itu.

Kuliah berjalan selama dua jam penuh. Begitu bel tanda selesai berbunyi, para mahasiswa berbondong-bondong keluar ruangan. Ammar masih merapikan buku-bukunya di atas meja ketika Profesor Erdem memanggilnya dari depan podium.

"Fathan, bisa temui saya di ruang kerja sebentar?" pinta Profesor Erdem dengan nada ramah namun penuh wibawa.

"Tentu, Profesor," jawab Ammar. Ia menoleh ke arah Tariq yang berdiri menunggu di dekat pintu. "Tariq, duluan saja ke kantin. Aku akan menyusul sebentar lagi."

"Baiklah, jangan terlalu lama. Kopi dingin di kantin tidak enak diminum sendirian," ujar Tariq sambil tersenyum tipis, lalu keluar bersama mahasiswa lainnya.

Ammar berjalan mendekati meja Profesor Erdem di ruang depan kelas. Sang profesor menutup map kulit hitamnya, lalu menatap Ammar dengan sorot mata yang menyiratkan kecemasan mendalam.

"Ada apa, Profesor? Apakah ada masalah dengan proposal tesis saya?" tanya Ammar langsung pada pokok permasalahan.

"Bukan sekadar proposal, Fathan," jawab Profesor Erdem dengan suara pelan, memastikan pintu ruangan tertutup rapat. "Pagi tadi, saya menerima kunjungan dari seseorang yang mengaku sebagai pejabat tinggi birokrasi arsip nasional. Mereka menanyakan tentang salinan peta anotasi yang pernah kamu teliti beberapa bulan lalu. Mereka tahu kamu memegang salinan digitalnya."

Lihat selengkapnya