Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Nihayatul Husni

Nihayatul Husni (Naya)---

Suara riuh langkah kaki mahasiswa yang berkejaran dengan waktu menggema di koridor Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Marmara. Udara siang menjelang akhir musim gugur membawa embusan angin sejuk yang menyelinap lewat jendela-jendela besar bergaya klasik. Di antara lautan mahasiswa yang membawa setumpuk buku dan lembar makalah, sesosok gadis berhijab navy dengan tas ransel penuh pin organisasi tampak berjalan cepat. Itulah Nihayatul Husni, atau yang akrab disapa Naya oleh rekan-rekan kuliahnya. Di kampus ini, Naya bukan sekadar mahasiswi biasa; ia dikenal sebagai motor penggerak berbagai kegiatan sosial dan aktivis kemanusiaan yang tak kenal lelah.

Naya melangkah pasti menuju ruang sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa. Di tangannya tergenggam segepok brosur kampanye donor darah dan penggalangan dana bagi anak-anak pengungsi Suriah di kawasan pinggiran Istanbul. Begitu pintu kayu bercat putih itu didorong, aroma kopi tubruk langsung menyambut indra penciumannya, berpadu dengan suara desas-desus perdebatan sengit dari sudut ruangan.

"Naya! Kau akhirnya datang juga. Kami butuh keputusan cepat soal izin penggunaan aula utama kampus untuk lusa," seru Faruk, ketua divisi sosial BEM, sambil melambaikan selembar surat perizinan yang tampak kusut.

Naya meletakkan tas ranselnya di atas meja kerja yang dipenuhi tumpukan kertas proposal. Ia menarik napas sejenak, merapikan letak kacamatanya, lalu tersenyum menenangkan.

"Tenang, Faruk. Jangan biarkan kepanikan menguasai rapat kita. Aku sudah mengurus lobi pendahuluan dengan birokrasi kemahasiswaan kemarin sore. Surat izin itu hanya tinggal menunggu tanda tangan terakhir dari Dekan," jawab Naya dengan nada tenang namun tegas.

Faruk mengembuskan napas lega sambil meraup rambut ikalnya ke belakang. "Kau selalu bisa diandalkan, Nay. Kalau bukan karena jaringan komunikasi dan pendekatan diplomasimu yang sabar, proposal ini pasti sudah ditolak mentah-mentah oleh pihak birokrat."

"Bukan karena aku hebat, Faruk. Tapi karena kita membawa misi yang benar. Anak-anak di kamp pengungsian itu tidak bisa menunggu birokrasi kampus kita yang lambat," balas Naya, suaranya mengandung kesungguhan yang membuat seisi ruangan seketika terdiam.

Bagi Naya, aktivitas sosial bukanlah sekadar pengisi waktu luang di sela-sela jadwal kuliah sosiologi industri yang padat. Ini adalah panggilan jiwa. Jauh sebelum ia menginjakkan kaki di Istanbul untuk menempuh studi magisternya, Naya telah mendedikasikan sebagian besar masa mudanya di Indonesia untuk terjun langsung mendampingi komunitas masyarakat marjinal. Kini, di negeri rantau, semangat itu tidak pernah padam; justru semakin menyala di tengah tantangan yang lebih besar dan kompleks.

Ponsel di dalam saku mantelnya bergetar. Naya melirik layar kecil yang menyala, menampilkan nama Dilara di sana. Sahabat terdekatnya itu rupanya mengirim pesan singkat mengingatkan tentang janji makan siang mereka di kantin lama dekat perpustakaan pusat.

“Nay, jangan bilang kau masih terjebak di ruang sekretariat BEM? Ingat, lambungmu butuh nutrisi sebelum demo proposal siang ini!” tulis Dilara dengan emoji tertawa.

Naya tersenyum tipis membaca pesan tersebut. Ia membalas cepat: “Aku baru saja selesai di sini, Dilara. Sepuluh menit lagi aku meluncur ke kantin. Jangan habiskan sup lentil favoritku!”

Naya memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu menatap rekan-rekan organisasinya. "Teman-teman, rapat hari ini kita cukupkan sampai di sini untuk poin perizinan. Nanti sore kita lanjutkan evaluasi logistik. Aku harus pergi dulu, ada janji penting."

"Jangan lupa makan, Naya! Jangan sampai energimu habis sebelum aksi kemanusiaan minggu depan," teriak salah satu staf junior mengingatkan.

Naya melambaikan tangan, menyampirkan tas ranselnya, dan melangkah keluar dari ruangan sekretariat. Udara segar Istanbul langsung menyambutnya begitu ia menuruni tangga utama gedung fakultas. Namun, di balik senyum ramah yang selalu ia tampakkan kepada setiap orang di kampus, terselip sebuah beban pikiran yang akhir-akhir ini mulai mengusik ketenangannya—sebuah dilema pribadi yang hanya diketahui oleh Dilara.

❖ ❖ ❖

Kantin pusat Universitas Marmara selalu dipadati mahasiswa pada jam istirahat siang. Aroma roti lapis keju panggang, kopi Turki pekat, dan sup hangat mengepul di udara, berpadu dengan dengung suara obrolan dalam berbagai bahasa. Naya memindai ruangan yang cukup sesak sebelum akhirnya melihat lambaian tangan dari sudut dekat jendela kaca besar yang menghadap ke halaman kampus.

Dilara duduk di sana, mengenakan mantel musim dingin berwarna krem dengan syal rajut merah melingkar rapi di lehernya. Di hadapannya tersaji dua mangkuk sup lentil hangat dan sekeranjang roti gandum tradisional.

"Kau agak terlambat, Nihayatul Husni," sapa Dilara begitu Naya menarik kursi dan duduk di hadapannya. "Biar kutebak, Faruk dan kawan-kawan BEM kembali menyeretmu dalam perdebatan birokrasi tanpa ujung, kan?"

Naya terkekeh kecil, membuka syal rajutnya dan meletakkannya di atas pangkuan. "Kau tahu betul bagaimana tabiat ruang rapat mahasiswa, Dilara. Selalu ada saja hal darurat yang dibahas seolah-olah dunia akan kiamat hari ini."

"Kau terlalu baik pada mereka, Nay. Kau memikul beban satu departemen sosial seorang diri, sementara yang lain hanya pandai melempar wacana," protes Dilara dengan nada gemas, meski matanya menyiratkan rasa kagum yang mendalam kepada sahabatnya itu.

"Ini bukan soal siapa yang memikul beban, Dilara. Ini soal tanggung jawab moral. Kita hidup di lingkungan yang berkecukupan secara intelektual, sudah sepatutnya kita menoleh ke bawah, melihat mereka yang berjuang hanya untuk bertahan hidup di musim dingin ini," ucap Naya sungguh-sungguh sambil mengambil sendok supnya.

Dilara menghela napas panjang, mengaduk sup lentilnya perlahan sebelum kembali menatap Naya dengan sorot mata yang melembut. "Aku tahu, Nay. Dan aku sangat bangga padamu. Tapi aku juga mengkhawatirkan kesehatanmu. Kau jarang tidur, sibuk mengurus proposal siang hari, dan kadang masih menerjemahkan artikel jurnal sampai tengah malam."

"Aku baik-baik saja, Dilara. Sungguh," jawab Naya meyakinkan, meski ada sedikit getar di ujung kalimatnya.

Suasana meja mereka mendadak berubah sedikit senyap. Dilara meletakkan sendoknya, menatap lurus ke dalam mata Naya dengan pandangan menyelidik yang sulit dihindari.

"Baik-baik saja? Kalau begitu, jelaskan padaku kenapa kemarin malam kau menangis di sambungan telepon saat ibumu menanyakan kabar pernikahan sepupumu di kampung halaman?" tanya Dilara pelan, namun telak mengenai sasaran.

Naya tertegun. Sendok di tangannya hampir terlepas dan berdenting pelan mengenai bibir mangkuk keramik. Pertanyaan itu membuka kembali kotak Pandora yang sejak tadi berusaha ia kunci rapat-rapat di dalam dadanya. Di balik sosoknya yang tegar, aktif, dan selalu menjadi tempat bersandar bagi banyak orang di kampus, Naya menyimpan tekanan batin yang amat berat—sebuah benturan antara ekspektasi keluarga di tanah air dan idealismenya sendiri di negeri orang.

"Dilara... ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu," gumam Naya, menundukkan pandangannya menatap permukaan sup yang mulai mendingin.

Lihat selengkapnya