Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Waktu dan Ketenangan

Waktu dan Ketenangan---

Matahari siang menyengat pelataran kampus dengan terik yang menyengat kulit, memaksa sebagian besar mahasiswa berlindung di bawah naungan rindangnya pohon-pohon angsana. Di sudut paling teduh kantin pusat, aroma kopi tubruk dan pisang goreng mengepul tipis dari meja kayu tua yang menjadi langganan Ammar dan Dilara. Suasana kantin cukup bising dengan riuh rendah suara percakapan dari berbagai meja, namun sudut tempat mereka duduk seolah memiliki gelembung ketenangannya sendiri.

Ammar duduk dengan tenang sambil membolak-balik halaman sebuah buku saku bersampul usang. Jemarinya menelusuri barisan kalimat yang tercetak rapi di atas kertas kekuningan, sementara cangkir keramik berisi teh tawar di depannya mengepulkan uap tipis. Di hadapannya, Dilara sedang sibuk mengaduk es teh manis dengan sedotan plastik, matanya menatap lurus ke arah halaman demi halaman koran kampus yang memuat berita utama tentang program pengabdian masyarakat.

"Waktu terasa berjalan begitu cepat akhir-akhir ini, Ammar," ucap Dilara memecah keheningan, suaranya terdengar renyah namun menyiratkan sebuah renungan mendalam. "Rasanya baru kemarin kita sibuk berdebat di perpustakaan soal naskah kuno, dan sekarang kita sudah berada di penghujung semester akhir."

Ammar mendongak dari bacaannya, merapikan letak kacamata berbingkai tipis di hidungnya. "Waktu memang tidak pernah berkompromi dengan siapapun, Dilara. Ia mengalir begitu saja tanpa peduli apakah kita mengisinya dengan hal yang berguna atau membiarkannya terbuang sia-sia."

Dilara mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Kau selalu saja berbicara seperti seorang filsuf tua. Padahal usia kita baru kepala dua, masa-masa di mana seharusnya kita menikmati hidup tanpa harus terus-menerus dibebani oleh target masa depan."

"Menikmati hidup bukan berarti menghabiskan waktu tanpa arah, Dilara," balas Ammar dengan nada lembut namun tegas. "Justru di usia muda inilah fondasi ketenangan batin di masa tua sedang dibangun. Apa yang kita tanam hari ini akan menentukan ketenteraman jiwa kita kelak."

"Filosofi hidup yang berat untuk ukuran siang yang panas ini," canda Dilara sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Meski bernada gurauan, sorot matanya menunjukkan bahwa ia menyimak setiap kata yang diucapkan oleh pemuda di depannya itu.

"Ini bukan soal filosofi yang berat, tapi soal kesadaran sederhana," kata Ammar sambil menutup bukunya perlahan. "Banyak orang menyesal di akhir usia mereka karena menyia-nyiakan masa muda untuk hal-hal yang fana. Padahal, ketenangan sejati lahir dari bagaimana kita menghargai setiap detik waktu yang diberikan."

Dilara terdiam sejenak, jemarinya berhenti mengaduk es teh. Ia menatap lurus ke dalam mata Ammar, menemukan kejernihan dan ketulusan yang selalu membuatnya merasa kagum sekaligus segan. "Lalu, bagaimana cara memastikan kita tidak menyesal di kemudian hari?"

"Dengan mengisi setiap kesempatan yang ada untuk melakukan kebaikan, sekecil apapun itu," jawab Ammar mantap.

❖ ❖ ❖

Perbincangan siang itu tidak berhenti pada tatapan mata yang penuh perenungan. Suasana kantin yang tadinya santai mendadak terasa lebih intim ketika Dilara mulai merespons gagasan Ammar dengan sudut pandangnya sendiri sebagai seorang mahasiswi yang terbiasa melihat sisa-sisa peradaban masa lalu melalui artefak kuno.

"Kebaikan apa yang sebesar itu pengaruhnya, Ammar?" tanya Dilara serius, merapatkan duduknya ke arah meja. "Bukankah sejarah mencatat bahwa peradaban besar runtuh bukan karena kurangnya kebaikan, melainkan karena ambisi kekuasaan?"

Ammar mengangguk pelan, menghargai analisis kritis yang dilontarkan oleh gadis di depannya. "Benar bahwa ambisi sering kali menghancurkan suatu bangsa. Namun, kau lupa bahwa peradaban yang besar selalu dibangun di atas fondasi nilai-nilai moral yang dijaga oleh generasi mudanya. Jika pemuda hari ini kehilangan arah dan menghabiskan waktunya dalam kelalaian, maka keruntuhan peradaban itu hanya tinggal menunggu waktu."

"Jadi, kau menganggap setiap tindakan kecil kita saat ini memiliki dampak sebesar itu terhadap masa depan bangsa?" selidik Dilara dengan sebelah alis terangkat.

"Tentu saja," jawab Ammar tanpa ragu. "Waktu muda adalah modal utama. Ketika tenaga masih kuat dan pikiran masih jernih, mengabdikan diri pada kebaikan adalah bentuk investasi jangka panjang yang paling berharga bagi ketenangan jiwa."

Dilara menghela napas panjang, pandangannya beralih menatap kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang di halaman kantin. Beberapa dari mereka tampak tertawa lepas tanpa beban, tenggelam dalam obrolan ringan tentang tren mode atau hiburan malam terbaru.

"Aku mengerti maksudmu," kata Dilara dengan suara yang sedikit melunak. "Tapi jujur saja, kadang aku merasa lelah dengan semua tuntutan itu. Kuliah, organisasi, riset, pengabdian masyarakat—semuanya menuntut kesempurnaan. Terkadang aku ingin sekadar berhenti sejenak dan bernapas tanpa memikirkan target."

Lihat selengkapnya