Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Senja di Jembatan Galata

Senja di Jembatan Galata – Ammar merenungkan bait syair tentang kerinduannya pada sosok gadis yang sulit dijangkau---

Angin sore berhembus kencang dari Selat Bosphorus, membawa serta aroma air laut asin yang bercampur dengan harumnya asap panggangan jagung manis di sepanjang tepi jembatan. Jembatan Galata di Istanbul selalu sibuk, dipadati oleh para pejalan kaki, pedagang asongan, serta barisan pemancing yang sabar melemparkan joran ke dalam air keperakan. Di antara kerumunan manusia yang hilir mudik itu, Ammar berdiri terpaku di dekat pagar pembatas besi, menatap ke arah Menara Galata yang berdiri megah menembus langit senja yang mulai memerah.

Di tangannya, sebuah buku catatan kecil berbalut kulit usang terbuka pada halaman yang dipenuhi oleh tulisan tangan berantakan. Bait-bait syair bahasa Arab dan Turki tercetak rapi di sana, ditulis dengan tinta hitam yang kini sebagian mulai memudar karena usia dan keringat jari-jarinya.

"Kamu melamun lagi, Ammar," suara berat namun ramah menyadarkan lamunannya. Emre, seorang pemuda lokal penjual teh çay yang sudah akrab dengannya, meletakkan dua gelas kecil teh berbentuk tulip di atas dinding pembatas batu.

Ammar mendongak, tersenyum tipis sembari menyelipkan buku catatannya ke dalam saku mantel wol tebalnya. "Tidak melamun, Emre. Aku hanya sedang menikmati senja. Istanbul di waktu seperti ini selalu berhasil membuat pikiran melayang jauh."

Emre ikut bersandar di pagar, menyesap teh panasnya sambil melirik ke arah barat, tempat matahari mulai tenggelam di balik cakrawala kota tua. "Melayang ke mana? Ke masa lalu di Jakarta, atau ke masa depan yang masih kabur?"

"Ke tempat seseorang yang tidak bisa kujangkau," jawab Ammar lirih.

Emre tertawa pelan, suara tawa yang sarat akan pengalaman hidup seorang pria pesisir. "Ah, cinta. Selalu saja urusan hati yang membuat orang-orang kuat seperti pemuda sepertimu terlihat rapuh di ujung jembatan ini. Siapa dia? Gadis bermata hazel dari sudut kota kuno ini, atau seseorang yang tertinggal jauh di seberang benua?"

Ammar kembali menatap permukaan air Selat Bosphorus yang berkilauan diterpa cahaya keemasan senja. Bayangan wajah seorang gadis berhijab biru muda dengan senyum menenangkan mendadak melintas di benaknya—Layla. Gadis yang ditemuinya beberapa bulan lalu di sebuah perpustakaan manuskrip kuno di kawasan Fatih, gadis yang memiliki kedalaman ilmu dan ketenangan jiwa yang membuat Ammar merasa begitu kecil, sekaligus begitu haus untuk mengenalnya lebih dekat.

"Namanya Layla," ucap Ammar pelan, seolah takut nama itu diterbangkan oleh angin selat yang menderu. "Ia bukan sekadar gadis biasa, Emre. Ia hidup di dunia yang sangat berbeda dariku. Dunia penuh keanggunan, tradisi akademis yang mengakar, dan keluarga terpandang yang menjaga garis keturunan mereka dengan ketat. Sementara aku... aku hanyalah seorang perantau asing yang masih berjuang mencari jati diri di tanah ini."

"Lalu kenapa kamu tidak mendekatinya dengan gagah berani?" tanya Emre serius, menoleh menatap Ammar. "Cinta di Istanbul tidak mempan hanya dengan ditatap dari kejauhan, kawan. Jembatan ini menghubungkan dua daratan yang terpisah, begitu juga hatimu dan hatinya. Harus ada jalan yang kamu lewati untuk menyusurnya."

Ammar menggeleng pelan, rasa pesimis kembali mencengkeram dadanya. "Kamu tidak mengerti, Emre. Jarak bukan sekadar soal kilometer atau batas teritorial. Jarak terberat adalah ketika status sosial, masa lalu, dan ketidakpastian masa depanku menjadi dinding tebal yang memisahkan kami. Setiap kali aku mencoba merangkai kata untuk menyapanya lewat pesan atau menemuinya langsung, bait-bait syair kerinduan ini terasa begitu lancang jika diucapkan oleh seseorang yang belum memiliki apa-apa."

"Syair ditulis bukan untuk disimpan dalam diam, Ammar," sanggah Emre bijak. "Syair adalah jeritan jiwa yang mencari telinga untuk mendengar. Jika kamu terus menyimpannya di dalam saku mantelmu, angin senja ini akan merusaknya, dan gadis itu tidak akan pernah tahu bahwa ada jiwa di kota ini yang merindukannya setiap kali mentari terbenam."

❖ ❖ ❖

Kata-kata Emre terus berputar di kepala Ammar bahkan setelah pedagang teh itu pamit untuk membereskan dagangannya. Ammar berjalan melangkah pelan meninggalkan Jembatan Galata, menyusuri jalan berbatu menanjak menuju kawasan Karaköy. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu persatu, memancarkan cahaya kuning hangat yang memantul di atas aspal basah sisa gerimis siang tadi.

Ponsel di dalam saku mantelnya bergetar panjang. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Layla. Jantung Ammar mendadak berdegup kencang, ritme napasnya berubah tidak beraturan. Ia berhenti melangkah, berdiri di bawah naungan kanopi sebuah kafe tua yang tutup.

Jari-jarinya yang sedikit gemetar membuka layar ponsel. “Ammar, apakah kamu datang ke diskusi manuskrip di perpustakaan sore ini? Profesor Ahmed menanyakan catatan terjemahan yang kemarin kamu janjikan.”

Ammar menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. Catatan terjemahan itu sebenarnya sudah selesai sejak dua hari lalu, namun rasa tidak percaya diri membuatnya menunda-nunda untuk mengirimkannya. Ia merasa tertekan oleh standar tinggi yang Layla miliki. Layla adalah mahasiswi pascasarjana teladan, cucu seorang ulama besar Istanbul, sementara Ammar hanyalah seorang pemuda yang sedang mencoba memperbaiki lembaran hidupnya yang sempat berantakan di tanah air.

Ia mengetik balasan dengan hati-hati, menghapus dan menulis ulang kalimatnya berkali-kali. “Maafkan aku, Layla. Aku... tertahan di dekat Galata. Catatannya ada padaku, tapi aku belum sempat merapikannya dengan sempurna.”

Tidak butuh waktu lama bagi Layla untuk membalas. “Tidak perlu sempurna, Ammar. Yang Profesor Ahmed butuhkan adalah ketulusan analisis teksnya, bukan polesan tata bahasa yang berlebihan. Di mana posisimu sekarang? Aku sedang dalam perjalanan pulang melewati Karaköy.”

Mata Ammar membelalak kaget. Pesan itu datang begitu mendadak, menghantam pertahanan mental yang sejak tadi ia bangun. Di satu sisi, ia sangat ingin bertemu dengannya, menatap langsung mata hazel yang selalu menenangkan itu. Namun di sisi lain, ketakutan bahwa dirinya tidak cukup pantas untuk berdiri di samping Layla kembali merajai pikirannya.

“Aku di dekat halte trem Karaköy,” balas Ammar akhirnya, menyerah pada tarikan takdir yang membawanya semakin dekat pada gadis itu.

Lima belas menit kemudian, sebuah bayangan anggun dengan mantel panjang berwarna krem dan syal merah marun muncul di tikungan jalan. Layla berjalan tenang di tengah kerumunan orang yang bergegas pulang kerja. Begitu matanya menangkap sosok Ammar yang berdiri kaku di bawah lampu jalan, ia memperlambat langkahnya, lalu sebuah senyuman manis terkembang di bibirnya.

Lihat selengkapnya