
Tantangan Akademik---
Langit pagi di atas distrik Beyazit memantulkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah pilar marmer Fakultas Sastra dan Sejarah Universitas Istanbul. Udara akhir musim semi terasa segar, membawa aroma dedaunan basah dan bunga-bunga yang mekar di halaman rektorat. Di dalam ruang seminar lantai dua, suasana sudah mulai riuh oleh suara langkah kaki mahasiswa dan gemerincing cangkir kopi dari mesin otomatis di sudut koridor.
Ammar Fathan duduk di bangku sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah alun-alun. Di hadapannya terbentang tumpukan buku referensi tebal mengenai arsitektur benteng Bizantium dan jaringan logistik Utsmaniyah abad ke-16. Sejak insiden di perpustakaan pusat beberapa waktu lalu, Ammar berusaha mengembalikan fokus penuhnya ke dunia akademik. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk membentengi diri dari sisa-sisa bayangan masa lalunya adalah dengan menyelesaikan tesis dan ujian akhir dengan prestasi terbaik.
"Fathan, jangan bilang kamu sudah menghabiskan seluruh pagi ini hanya untuk membaca ulang bab pengantar arsitektur militer itu?" sebuah suara perempuan yang ceria namun tegas menyapa dari arah pintu.
Ammar mendongak dan tersenyum. Dilara Aksu berdiri di dekat meja sambil menenteng sebuah laptop berwarna perak dan segelas latte hangat. Di belakangnya, Tariq Al-Ghazali melangkah masuk dengan senyuman santai, mengenakan jaket rajut abu-abu, sementara Naya Candan menyusul sambil membawa map transparan berisi catatan-catatan lapangan.
"Aku hanya memastikan tidak ada detail kecil yang terlewat, Dilara," jawab Ammar tenang, merapikan letak kacamatanya. "Tugas kelompok mata kuliah Sejarah Peradaban Lanjutan ini berbobot separuh dari nilai akhir semester kita. Profesor Erdem tidak akan memberikan dispensasi sedikit pun."
Tariq menarik kursi dan duduk di sebelah Ammar, lalu meletakkan tas ranselnya dengan bunyi gedebuk pelan. "Tenang saja, Fathan. Kamu tidak sedang bekerja sendirian. Kali ini kita berada dalam satu tim. Empat orang dengan keahlian yang saling melengkapi—atau setidaknya, itulah yang dikatakan Profesor Erdem saat mengumumkan kelompok kita."
Naya duduk di kursi seberang, membuka map transparannya dan menyebarkan beberapa lembar transkrip manuskrip kuno di atas meja kayu. "Tariq benar, Ammar. Meskipun topik pilihan kita tentang sistem logistik air dan pertahanan bawah tanah Konstantinopel terdengar sangat rumit dan penuh misteri, jika kita membaginya dengan sistematis, tugas ini bisa diselesaikan sebelum batas waktu minggu depan."
Dilara menarik kursi lalu duduk di samping Naya, menatap tajam ke arah lembaran manuskrip tersebut dengan sorot mata penuh antusias. "Dan yang paling penting, topik ini berkaitan langsung dengan riset arsip yang sempat membuat heboh kampus beberapa waktu lalu. Aku yakin ada banyak sisi sejarah yang belum terungkap ke publik."
Ammar terdiam sejenak. Kata-kata Dilara mengingatkannya kembali pada peta anotasi dan rahasia yang hampir menghancurkan hidupnya. Namun, ia segera menepis bayangan kelam itu, menarik napas dalam-dalam, dan mengangguk pelan kepada ketiga sahabatnya.
"Baiklah," ucap Ammar dengan nada mantap. "Jika kita ingin menuntaskan makalah komparatif ini dengan sempurna, kita harus membagi tugas dengan jelas. Siapa yang akan menangani riset teks primer Utsmaniyah, dan siapa yang akan mengurus verifikasi peta topografi lapangan?"
❖ ❖ ❖
Suasana ruang seminar berubah menjadi arena diskusi akademis yang sangat intens. Jarum jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Tumpukan buku referensi semakin meninggi di tengah meja, sementara layar laptop Dilara menampilkan peta digital rekonstruksi kota lama Istanbul abad pertengahan.
"Bagian paling sulit dari riset ini adalah menghubungkan catatan harian arsitek istana Mimar Sinan dengan instalasi saluran air bawah tanah di sekitar distrik Eminönü," jelas Dilara, jemarinya dengan cepat mengetik beberapa kata kunci di papan ketik laptopnya. "Sebagian besar catatan asli dari arsip Topkapi dibatasi aksesnya bagi peneliti umum."
"Itu bukan masalah besar jika kita menggunakan jalur pendekatan filologi kritis," sela Tariq, bersandar di kursinya sambil melipat tangan di dada. "Kita bisa membandingkan catatan Sinan dengan kronik perjalanan Evliya Çelebi yang ada di perpustakaan universitas. Catatan Çelebi sering kali merekam detail-detail kecil yang diabaikan oleh dokumen resmi istana."
Naya mengangguk setuju, merapikan kacamatanya. "Aku sudah memeriksa arsip digital Çelebi di perpustakaan pusat. Tapi ada satu hal ganjil yang kutemukan semalam. Beberapa halaman yang membahas sistem distribusi air di bawah gereja tua Galata tampak sengaja dirobek atau dihilangkan dari indeks digital."
Mendengar kata-kata Naya, suasana meja diskusi mendadak hening. Ammar merasakan desir dingin merambat di tengkuknya. Halaman yang dirobek—hal itu mengingatkannya persis pada robekan catatan yang pernah ditunjukkan oleh Elif Sancak beberapa waktu lalu.
"Dihilangkan?" tanya Ammar dengan nada suara yang sedikit tertahan, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Apakah itu karena kerusakan usia naskah, atau memang ada indikasi penghapusan secara sengaja?"
"Aku tidak bisa memastikannya seratus persen, Ammar," jawab Naya, menatap sahabatnya dengan pandangan menyelidik. "Tapi jejak digital di peladen perpustakaan menunjukkan ada akses ilegal yang mencoba masuk ke direktori file arsip tersebut tepat tiga malam lalu—tepat setelah insiden di perpustakaan kampus kita."
Dilara menatap tajam ke arah Ammar dan Naya bergantian. "Tunggu sebentar. Kalian berdua terdengar seolah-olah hal ini bukan sekadar masalah arsip yang rusak karena usia. Apakah ada sesuatu yang kalian ketahui tentang dokumen itu yang tidak kalian ceritakan kepada kami?"
Titik jepit pertama hari ini langsung menjerat Ammar. Pertanyaan Dilara sangat tajam dan tidak bisa dihindari begitu saja tanpa menimbulkan kecurigaan mendalam dari rekan-rekan setimnya.
❖ ❖ ❖